Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Dapatkan saldo DANA gratis hanya dengan bermain game, tukarkan poin dengan uang cash.

Cara Klaim Saldo DANA Gratis 12 Juli 2026: Waspada Link Palsu, Gunakan Cara Aman!

Minggu, 12 Juli 2026 02:00 WIB
Game Free Fire

Update Kode Redeem FF 12 Juli 2026: Segera Klaim Hadiah Eksklusif Sebelum Kehabisan!

Minggu, 12 Juli 2026 01:00 WIB

2.663 ASN Jabar Terindikasi Judi Online, Ada yang Depositnya Melebihi Gaji!

Sabtu, 11 Juli 2026 22:50 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Cara Klaim Saldo DANA Gratis 12 Juli 2026: Waspada Link Palsu, Gunakan Cara Aman!
  • Update Kode Redeem FF 12 Juli 2026: Segera Klaim Hadiah Eksklusif Sebelum Kehabisan!
  • 2.663 ASN Jabar Terindikasi Judi Online, Ada yang Depositnya Melebihi Gaji!
  • Tragedi di Kedai Teh: Gara-gara Penalti Messi, Ayah Dua Anak Tewas Dikeroyok
  • Jadwal & Link Live Streaming Perempat Final Piala Dunia 2026: Aksi Messi dan Haaland Malam Ini!
  • Persib Bandung Siapkan “Bom” Transfer Lagi? Umuh Muchtar Minta Bobotoh Bersiap
  • Update Bansos Juli 2026: Cek Daftar Bantuan yang Cair dan Besaran Nominalnya
  • Jadwal 8 Besar Piala Dunia 2026 Hari Ini: Haaland vs Kane, Messi Ditantang ‘Tembok’ Swiss!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 12 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Tangan Besi Dedi Mulyadi di Pasirlangu: Tegas Demi Nyawa atau Tergesa-gesa?

By Muhammad Rafki Razif KiransyahMinggu, 25 Januari 2026 15:40 WIB3 Mins Read
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Foto: Biro Adpim Jabar)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pasca bencana longsor yang meluluhlantakkan Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengambil sikap tegas.

Ia mengusulkan agar kawasan permukiman terdampak dialihfungsikan sepenuhnya menjadi hutan, demi mencegah tragedi serupa terulang.

Diketahui, longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari itu menghancurkan sedikitnya 30 rumah warga setelah material tanah dari lereng Gunung Burangrang menerjang permukiman.

Saat meninjau lokasi bencana, Dedi menegaskan bahwa keselamatan warga harus menjadi pertimbangan utama dalam penataan wilayah ke depan.

“Saya lebih cenderung daerah ini dihutankan saja. Warga di sekitar sini segera direlokasi karena potensi terjadi lagi sangat tinggi. Kondisinya sangat mencemaskan,” ujar Dedi, Sabtu (24/1/2026).

Baca Juga:  HJKB ke-215, Dedi Mulyadi Beri Resep Khusus Atasi Kemacetan Bandung

Meski menempatkan evakuasi dan penanganan darurat sebagai prioritas jangka pendek, Dedi menegaskan tidak ingin warga kembali bermukim di zona rawan longsor yang secara geologis dinilai sangat berbahaya.

Namun, wacana penghutanan permanen ini memantik diskusi yang lebih luas, terutama terkait masa depan ekonomi masyarakat Pasirlangu yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

Pakar ekonomi Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, menilai bahwa kebijakan pascabencana tidak boleh berhenti pada soal komoditas, tetapi harus berangkat dari peta risiko.

“Kalau kita bicara Pasirlangu pascabencana, kuncinya bukan komoditasnya apa, tapi risikonya apa,” kata Rizaldy saat diwawancarai secara daring, Minggu (25/1/2026).

Ia menjelaskan, wilayah yang berulang kali dilanda longsor menyimpan biaya sosial dan ekonomi yang sangat besar.

Baca Juga:  Viral Emak-emak di Garut Pantau Aktivitas Galian dari Atas Bukit, Lapor ke Dedi Mulyadi

“Dari aspek ekonomi, kebencanaan lahan-lahan yang berulang kali longsor itu biaya sosialnya besar. Ada korban jiwa, rumah rusak, jalan putus, distribusi terganggu, dan ujungnya biaya publik,” ujarnya.

Dalam konteks itu, Rizaldy memahami gagasan penghutanan sebagai bentuk investasi keselamatan jangka panjang. “Gagasan penghutanan permanen bisa dipahami sebagai investasi keselamatan ekologi,” katanya.

Namun, ia mengingatkan bahwa Pasirlangu juga dikenal memiliki potensi ekonomi, khususnya sebagai sentra paprika. Karena itu, menurutnya, kebijakan tidak boleh berhenti pada pelabelan kawasan sebagai hutan semata.

“Benar juga Pasirlangu ini punya potensi ekonomi. Maka kebijakan jangan berhenti ditutup jadi hutan, tapi harus ada disentrasi. Zona mana yang benar-benar nol aktivitas, dan zona mana yang masih bisa dikelola dengan prinsip konservasi,” jelasnya.

Baca Juga:  Kasus Depok Jadi Pembelajaran, Dedi Mulyadi: Membuat Orang Sejahtera Bukan Hal Mudah

Yang paling krusial, kata Rizaldy, adalah memastikan warga khususnya para petani tidak menjadi korban kedua setelah bencana. “Dan yang paling penting, petaninya jangan ditinggalkan,” tegasnya.

Ia menekankan, keselamatan memang tidak bisa ditawar, tetapi keadilan sosial dan keberlanjutan ekonomi warga harus berjalan seiring.

“Keselamatan itu prioritas, tapi ekonomi warga juga wajib diselamatkan. Jadi dua-duanya harus berjalan bareng,” tutupnya.

Bencana Pasirlangu menjadi pengingat bahwa penanganan longsor tidak cukup hanya dengan respons darurat. Ia menuntut keberanian mengambil keputusan struktural, sekaligus kebijaksanaan agar kebijakan ekologis tidak berubah menjadi bumerang bagi masyarakat di lereng gunung.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi longsor Cisarua longsor Pasirlangu Penghutanan kawasan rawan longsor Relokasi warga Pasirlangu
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

2.663 ASN Jabar Terindikasi Judi Online, Ada yang Depositnya Melebihi Gaji!

Tragedi di Kedai Teh: Gara-gara Penalti Messi, Ayah Dua Anak Tewas Dikeroyok

Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Ditetapkan Tersangka Dugaan Korupsi dan TPPU

Pelarian Berakhir di Majalengka: Pengemudi Mobilio Penabrak Wanita di Pasteur Akhirnya Dibekuk Polisi

Di Balik Pengunduran Diri Jampidsus Febrie Adriansyah: Sisi Lain Operasi Senyap di Sentul

Polemik Aksi Kamisan, Kehadiran Kelompok LGBT dalam Gerakan HAM Jadi Sorotan

Terpopuler
  • Retaknya Panca Curiga di Tanah Purwakarta: Di Mana Batas ‘Heureuy’ Sunda Saat Tubuh Perempuan Jadi Bahan Jenaka?
  • Sosok Febrie Adriansyah, Sang Pemburu Jadi Buruan? Menguak Sisi Lain Kasus Korupsi yang Mengguncang Negeri!
  • Muhammad Farhan Dilarikan ke Rumah Sakit, Ini Kondisi Terbarunya
  • Polemik Aksi Kamisan, Kehadiran Kelompok LGBT dalam Gerakan HAM Jadi Sorotan
  • Selangor Malaysia Bidik Pasar Indonesia Lewat Promosi Wisata Medis di Bandung
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.