Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Ancaman Asap Karhutla Belum Usai, Kasus ISPA Lampaui 300 Ribu Orang: Ini Daerah yang Paling Terdampak

Selasa, 20 Oktober 2026 08:28 WIB

Bukan Cuma Dijemur, Ini Metode Paling Ampuh Membasmi Kutu Busuk dan Telurnya Sampai Tuntas

Selasa, 20 Oktober 2026 08:20 WIB

Berburu Sarapan di Bandung? Ini 5 Tempat Lontong Kari yang Bisa Dicoba

Selasa, 20 Oktober 2026 05:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Ancaman Asap Karhutla Belum Usai, Kasus ISPA Lampaui 300 Ribu Orang: Ini Daerah yang Paling Terdampak
  • Bukan Cuma Dijemur, Ini Metode Paling Ampuh Membasmi Kutu Busuk dan Telurnya Sampai Tuntas
  • Berburu Sarapan di Bandung? Ini 5 Tempat Lontong Kari yang Bisa Dicoba
  • Bantuan Subsidi Upah 2026 Total Rp900 Ribu, Kapan Cair ke Rekening Pekerja?
  • 5 Wisata Kuliner Malam Cirebon 2026, Wajib Coba Empal Gentong!
  • Pencairan Bansos Tahap 4 Bertahap! Begini Cara Cek PKH & BPNT Oktober 2026 Pakai NIK KTP
  • Eropa Membara! Berawal dari Aksi Pelajar Prancis, Gelombang Unjuk Rasa Meluas Hingga Bentrokan di 6 Negara
  • Jelang Demo 2 Tahun Prabowo-Gibran, Disdik Jabar Tebar Ancaman Sanksi Bagi Pelajar yang Nekat Ikut Aksi
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 20 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Tangan Besi Dedi Mulyadi di Pasirlangu: Tegas Demi Nyawa atau Tergesa-gesa?

By Muhammad Rafki Razif KiransyahMinggu, 25 Januari 2026 15:40 WIB3 Mins Read
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Foto: Biro Adpim Jabar)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pasca bencana longsor yang meluluhlantakkan Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengambil sikap tegas.

Ia mengusulkan agar kawasan permukiman terdampak dialihfungsikan sepenuhnya menjadi hutan, demi mencegah tragedi serupa terulang.

Diketahui, longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari itu menghancurkan sedikitnya 30 rumah warga setelah material tanah dari lereng Gunung Burangrang menerjang permukiman.

Saat meninjau lokasi bencana, Dedi menegaskan bahwa keselamatan warga harus menjadi pertimbangan utama dalam penataan wilayah ke depan.

“Saya lebih cenderung daerah ini dihutankan saja. Warga di sekitar sini segera direlokasi karena potensi terjadi lagi sangat tinggi. Kondisinya sangat mencemaskan,” ujar Dedi, Sabtu (24/1/2026).

Baca Juga:  Tuai Pro Kontra, Dedi Mulyadi Pastikan Upaya Terbaik untuk SNBPT Siswa Jabar

Meski menempatkan evakuasi dan penanganan darurat sebagai prioritas jangka pendek, Dedi menegaskan tidak ingin warga kembali bermukim di zona rawan longsor yang secara geologis dinilai sangat berbahaya.

Namun, wacana penghutanan permanen ini memantik diskusi yang lebih luas, terutama terkait masa depan ekonomi masyarakat Pasirlangu yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

Pakar ekonomi Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, menilai bahwa kebijakan pascabencana tidak boleh berhenti pada soal komoditas, tetapi harus berangkat dari peta risiko.

“Kalau kita bicara Pasirlangu pascabencana, kuncinya bukan komoditasnya apa, tapi risikonya apa,” kata Rizaldy saat diwawancarai secara daring, Minggu (25/1/2026).

Ia menjelaskan, wilayah yang berulang kali dilanda longsor menyimpan biaya sosial dan ekonomi yang sangat besar.

Baca Juga:  Wacana Vasektomi untuk Penerima Bansos, KDM Dinilai Kebablasan: Berpotensi Langgar HAM

“Dari aspek ekonomi, kebencanaan lahan-lahan yang berulang kali longsor itu biaya sosialnya besar. Ada korban jiwa, rumah rusak, jalan putus, distribusi terganggu, dan ujungnya biaya publik,” ujarnya.

Dalam konteks itu, Rizaldy memahami gagasan penghutanan sebagai bentuk investasi keselamatan jangka panjang. “Gagasan penghutanan permanen bisa dipahami sebagai investasi keselamatan ekologi,” katanya.

Namun, ia mengingatkan bahwa Pasirlangu juga dikenal memiliki potensi ekonomi, khususnya sebagai sentra paprika. Karena itu, menurutnya, kebijakan tidak boleh berhenti pada pelabelan kawasan sebagai hutan semata.

“Benar juga Pasirlangu ini punya potensi ekonomi. Maka kebijakan jangan berhenti ditutup jadi hutan, tapi harus ada disentrasi. Zona mana yang benar-benar nol aktivitas, dan zona mana yang masih bisa dikelola dengan prinsip konservasi,” jelasnya.

Baca Juga:  Adu Kuat Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi di Pilgub Jabar 2024 versi Pakar Politik

Yang paling krusial, kata Rizaldy, adalah memastikan warga khususnya para petani tidak menjadi korban kedua setelah bencana. “Dan yang paling penting, petaninya jangan ditinggalkan,” tegasnya.

Ia menekankan, keselamatan memang tidak bisa ditawar, tetapi keadilan sosial dan keberlanjutan ekonomi warga harus berjalan seiring.

“Keselamatan itu prioritas, tapi ekonomi warga juga wajib diselamatkan. Jadi dua-duanya harus berjalan bareng,” tutupnya.

Bencana Pasirlangu menjadi pengingat bahwa penanganan longsor tidak cukup hanya dengan respons darurat. Ia menuntut keberanian mengambil keputusan struktural, sekaligus kebijaksanaan agar kebijakan ekologis tidak berubah menjadi bumerang bagi masyarakat di lereng gunung.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi longsor Cisarua longsor Pasirlangu
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ancaman Asap Karhutla Belum Usai, Kasus ISPA Lampaui 300 Ribu Orang: Ini Daerah yang Paling Terdampak

Bantuan Subsidi Upah 2026 Total Rp900 Ribu, Kapan Cair ke Rekening Pekerja?

Eropa Membara! Berawal dari Aksi Pelajar Prancis, Gelombang Unjuk Rasa Meluas Hingga Bentrokan di 6 Negara

Demo Jakarta

Jelang Demo 2 Tahun Prabowo-Gibran, Disdik Jabar Tebar Ancaman Sanksi Bagi Pelajar yang Nekat Ikut Aksi

Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat

Misteri Perempuan Hilang di Kaki Gunung Burangrang, Ditemukan Luka di Kepala hingga Kaki

Terpopuler
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Flexing Nikah Berbuah Hujatan! Nasib Tragis Juan dan Evelyn hingga Gulung Tikar dari Youtube!
  • Ironi Gubernur Konten: Pamer Aduan di Medsos, Tapi Gagap Saat Diadang Warga
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.