Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Tampil Bersama Raline Shah di Art Jakarta 2026, Ketua Kreator Jabar Soroti Pentingnya Seni Digital

Sabtu, 3 Oktober 2026 09:43 WIB

Blunder Dedi Mulyadi, Polemik Data Center AI Ancam Kepercayaan Investor

Sabtu, 3 Oktober 2026 09:15 WIB

Naik Kelas Lewat Gentengisasi: Asa Baru Perajin Tanah Liat Plered Purwakarta

Sabtu, 3 Oktober 2026 08:39 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Tampil Bersama Raline Shah di Art Jakarta 2026, Ketua Kreator Jabar Soroti Pentingnya Seni Digital
  • Blunder Dedi Mulyadi, Polemik Data Center AI Ancam Kepercayaan Investor
  • Naik Kelas Lewat Gentengisasi: Asa Baru Perajin Tanah Liat Plered Purwakarta
  • Wisata Kuliner Sukabumi 2026: 10 Rekomendasi Tempat Makan Paling Legendaris dan Wajib Dicoba
  • Bansos Oktober 2026 Cair! Ada BSU Rp900 Ribu hingga Beras 30 Kg, Ini Rinciannya
  • Influenza A Merebak di Bandung Barat, 31 Orang Terkonfirmasi Positif
  • BSU Oktober-Desember 2026 Dibayar Sekaligus, Total Bantuan Rp900 Ribu
  • Surga Tersembunyi di Tanah Sunda: 6 Destinasi Wisata Sukabumi Paling Hits untuk Liburan Akhir Pekan
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 3 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kepala Daerah Terpilih Harus Tancap Gas Demi Capai Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

By Putra JuangJumat, 6 Desember 2024 21:00 WIB4 Mins Read
Diskusi Panel Menyongsong Era Baru: Menyusun Solusi untuk Masa Depan Bisnis dan Ekonomi Jawa Barat. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Terpilihnya kepala daerah baru baik di level provinsi dan kabupaten/kota akan memberikan penyesuaian dalam kerja pemerintah daerah. Termasuk dalam memenuhi target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto.

Begitu disampaikan Pengamat Ekonomi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Ferry Hadiyanto dalam Diskusi Panel Menyongsong Era Baru: Menyusun Solusi untuk Masa Depan Bisnis dan Ekonomi Jawa Barat, di Kota Bandung, Jumat (6/12/2024).

Fary memandang, target pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam 5 tahun ke depan bisa saja terealisasi, asalkan semua pihak ikut mendukung.

“Jika petahana yang menang, mungkin bisa langsung gas bekerja menjemput target pemerintah. Namun jika baru, saya kira mereka akan lama dalam melakukan konsolidasi. Jadi saya berharap di Jabar bisa langsung gas saja untuk merealiasikan target pusat,” ucap Ferry.

Ferry memandang, target Prabowo tersebut memang sangat berat. Dia memandingkan, selama 10 tahun pemerintahan Jokowi, rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional hanya 5 persen, meski sempat ditargetkan sebesar 7 persen.

Dia menyadari bahwa target tersebut memang terkendala oleh pandemi Covid-19. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga tidak hanya tergantung pada kondisi dalam negeri saja, namun juga kondisi global.

Baca Juga:  Bantah Dana APBD Ngalir ke Lembur Pakuan, Sekda Jabar: Keliru!

Seperti diketahui, konflik timur tengah Israel-Palestina-Iran yang ikut membawa Amerika masih menjadi ancaman. Begitu pula konflik Ukraina-Rusia yang entah kapan akan berakhir.

“Indonesia masih bergantung dari ekonomi Amerika, terutama ekspor tekstil kita yang masih besar. Trump sendiri sudah membuat kebijakan untuk menarik semua potensi Amerika di luar negeri. Sehingga ini akan menjadi sukit bagi kita, sebab tanpa capital inflow dari Amerika, pertumbuhan ekonomi 8 persen akan berat,” terangnya.

Menurutnya, aspek Geopolitik Global belum akan berhenti di tahun 2024-2025. Kehati-hatian dengan terpilihnya Presiden Trump karena ekspor Jabar ke AS cukup dominan.

Ferry juga mencermati isu akan under capacity pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional dan PDRB Jabar harus diwaspadai di tahun 2025.

“Dalam dua tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Jabar selalu di bawah nasional, sebuah peringatan bagi kita di Jabar. Salah satu sebabnya karena beberapa pabrik tekstil tutup atau pindah. Nah, harus dicari komponen pengganti atas masalah ini agar pertumbuhan ekonomi Jabar masih bisa positif,” bebernya.

Baca Juga:  229 Kepala Sekolah di Jabar Bakal Dimutasi ke Daerah Asal

Di tempat yang sama, Anggota Komisi II DPRD Jabar, Sri Dewi mengatakan, isu ekonomi saat ini cukup berat. Selain target pertumbuhan ekonomi 8 persen, rencana pemerintah menaikan PPN 12 persen dan UMR sebesar 6,5 persen cukup mengejutkan bagi kalangan pengusaha.

“Dalam waktu dekat kami akan beraudiensi dengan pengusaha terkait ini. Agar industry bisa tetap bertahan di Jabar dan tidak pindah. Harus dicari jalan keluarnya,” ucap Dewi.

Dewi mengatakan, pemeritahan baru harus lebih ngotot lagi dalam memafaatkan infrastruktur Jabar khususnya di Kawasan Rebana, Kertajati dan Pelabuhan Patimban.

“Gubernur terpilih diharapkan kebijakan-kebijakannya melanjutkan yang baik untuk mendorong terus pertumbuhan ekonomi, bukan membuat kebijakan coba- coba,” ungkapnya.

Menurutnya, permasalahan yang menjadi PR besar adalah masih sulitnya mengurus perijinan berusaha di Jabar. Termasuk izin bagi investor bidang pariwisata, yang digadang-gadang bakal menjadi potensi pendorong pertumbuhan eknomi di Jabar.

Investasi Hijau

Salah satu syarat investasi yang diminta oleh negara asing adalah ketersediaan pasokan energi hijau. Kondisi ini masih menjadi kendala di Jawa Barat karena pemanfaatan produksi energi hijau masih kecil.

Baca Juga:  Jembatan Bailey Cicangor Ambles Lagi, Warga Karawang Kecewa dan Tagih Janji Dedi Mulyadi

GM Pemasaran dan Pengembangan Bisnis PT SEI, Kurniawan Imam Ghozali mengatakan, ingin ikut berkontribusi mendorong peningkatan investasi di Jabar dengan mempersiapkan energi hijau bagi investor yang ingin masuk ke Jabar.

PT SEI sudah implementasikan di beberapa sektor efisiensi energi yaitu Energi Saving PJU dan Electric Vehicle serta pada sektor bisnis utama SEI di Renewable Energy untuk implementasi Solar PV Rooftop.

“Potensi energi terbarukan di Jawa Barat sangat tinggi, menjadikannya provinsi dengan potensi renewable energy terbesar di Indonesia. Hal ini dapat menarik para investor untuk berinvestasi di Jawa Barat,” ucap Kurniawan.

Pemasangan Solar PV Rooftop pada Industri dapat mengurangi biaya operasonal Listrik sampai 40%, sehingga secara Khusus untuk Industri Tekstil dapat membantu mengurangi biaya operasinal yang sangat signifikan.

“Sehingga diharapkan Industri Tekstil khususnya di Jawa Barat dapat bertahan di tengah tantangan yang ada,” imbuhnya.

Selain itu, penggunaan mobil listrik untuk operasional perusahaan dengan tujuan Bandung-Jakarta PP dapat menekan efisiensi biaya BBM semula Rp238 ribu menjadi hanya Rp70 ribu atau reduce cost 70,59%.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

jawa barat kepala daerah Prabowo Subianto
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Blunder Dedi Mulyadi, Polemik Data Center AI Ancam Kepercayaan Investor

Naik Kelas Lewat Gentengisasi: Asa Baru Perajin Tanah Liat Plered Purwakarta

BSU Kemnaker

Bansos Oktober 2026 Cair! Ada BSU Rp900 Ribu hingga Beras 30 Kg, Ini Rinciannya

Influenza A Merebak di Bandung Barat, 31 Orang Terkonfirmasi Positif

BSU Oktober-Desember 2026 Dibayar Sekaligus, Total Bantuan Rp900 Ribu

Rekor Baru Purwakarta! 500 Ribu Genteng Plered Resmi Meluncur untuk Program Gentengisasi

Terpopuler
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Badai di Tubuh KORMI Bandung: Hibah Seret, Kudeta Kepengurusan, hingga Sentilan Guru Besar UPI
  • Aturan Dibuat untuk Dilanggar? Menguliti Tiga Dosa Administratif Pengadaan Publikasi Purwakarta
  • Antara Regulasi dan Realita: Menguak Karut-Marut Anggaran Publikasi Rp250 Juta di Diskominfo Purwakarta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.