Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Video Lama Bocor Lagi! Reaksi Dingin Eve Saat Tahu Hamil Bikin Warganet Geleng-geleng Kepala

Kamis, 29 Oktober 2026 09:39 WIB

Sekulic Menggila, Persib Tekuk Melbourne Victory! Tolic Beri Pujian Setinggi Langit

Kamis, 29 Oktober 2026 09:02 WIB
Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Jangan Termakan Jadwal Cair Palsu, Begini Cara Benar Cek PKH dan BPNT November 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 06:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Video Lama Bocor Lagi! Reaksi Dingin Eve Saat Tahu Hamil Bikin Warganet Geleng-geleng Kepala
  • Sekulic Menggila, Persib Tekuk Melbourne Victory! Tolic Beri Pujian Setinggi Langit
  • Jangan Termakan Jadwal Cair Palsu, Begini Cara Benar Cek PKH dan BPNT November 2026
  • Bosan ke Tempat yang Itu-itu Saja? Coba 5 Wisata Bogor Anti-Mainstream Ini
  • Cara Cek Bansos PKH dan BPNT Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Begini Langkahnya
  • Kolaborasi Fiersa Besari dan Arei Hadirkan Cerita di Balik Ekspedisi Gunung Elbrus
  • Balsa Sekulic Borong Dua Gol, Persib Semakin Kokoh di Puncak Grup E ACL Two
  • Dijuluki ‘Republik PKB’, Kabupaten Bandung Jadi Model Pemenangan PKB di Pemilu 2029
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 29 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Gelapnya Aceh, Terangnya Polemik: Bahlil dan Momen yang Disebut ‘Prank’ Presiden Prabowo

By Aga GustianaRabu, 10 Desember 2025 18:24 WIB5 Mins Read
Foto Menteri ESDM Bahlil Lahadalia diwawancara wartawan.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. (Foto: BPMI Setpres)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di tengah suasana Aceh yang porak-poranda akibat banjir bandang dan longsor, publik sempat diguyur secercah harapan: janji bahwa aliran listrik akan kembali menyala. Harapan itu datang langsung dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, yang menyampaikan keyakinannya di hadapan Presiden Prabowo Subianto. Keyakinan yang kemudian berubah menjadi sorotan nasional, setelah realitas di lapangan jauh dari apa yang dijanjikan.

Semua bermula pada Minggu (7/12), ketika Presiden Prabowo melakukan peninjauan ke Kabupaten Bireuen. Di lokasi pembangunan Jembatan Bailey Teupin Mane, mantan Danjen Kopassus itu bertanya langsung kepada Bahlil tentang perkembangan pemulihan listrik pascabanjir yang telah melumpuhkan sebagian besar Aceh.

“Kementerian ESDM, lampu menyala sudah?” tanya Prabowo.

Dengan nada mantap, Bahlil menjawab, “Siap, malam ini nyala semua Pak.”

Prabowo, mungkin demi memastikan tidak ada miskomunikasi, kembali menegaskan:

“Seluruh Aceh?”

Dan Bahlil pun membalas dengan lebih tegas lagi, “Seluruh Aceh, 97 persen malam ini semua Aceh nyala.”

Percakapan itu direkam kamera dan beredar luas. Di banyak tempat, publik menyambut optimis. Namun optimisme itu runtuh hanya beberapa jam kemudian.

Aceh Masih Gelap, Publik Meradang

Senin malam (8/12), suasana Banda Aceh justru berkebalikan dari janji tersebut. Sejumlah wilayah ibu kota provinsi itu masih gelap total. Tidak ada tanda-tanda jaringan listrik kembali pulih. Justru kegelapan yang menyelimuti kota.

Akun Instagram @syakyameirizal mengunggah video kondisi Banda Aceh yang masih gulita, sembari menyampaikan narasi getir:

“Tetapi kenyataan sangat jauh berbeda, beginilah kenyataannya pada malam ini Banda Aceh masih gelap gulita yang menyala hanya cahaya rembulan.”

Baca Juga:  MQ Iswara Sebut 4 Nama Alumni Unpad Diusulkan Masuk Kabinet Prabowo-Gibran

Lelaki itu kemudian melontarkan komentar yang kemudian viral:

“Yang diprank itu oleh Bahlil bukan hanya masyarakat Aceh, Bapak Presiden Prabowo juga kena prank dari pak Bahlil.”

Ungkapan “kena prank” itu segera menjadi perbincangan luas. Bukan semata karena dramatiknya, tetapi karena mencerminkan jurang besar antara informasi resmi pemerintah dan situasi nyata masyarakat di lapangan.

Istilah itu lalu memantul di berbagai platform, menjadikan episode ini salah satu yang paling dominan dibicarakan di media sosial pada pekan tersebut.

Gelombang Reaksi: Pertanyaan, Kemarahan, dan Tuntutan Transparansi

Warga Aceh, yang tengah berjuang di tengah bencana, merespons dengan campuran kekecewaan dan pertanyaan mendesak. Mengapa informasi bisa seberbeda itu? Mengapa Presiden bisa menerima laporan yang tidak akurat? Dan bagaimana mungkin situasi di lapangan sedemikian gelap, sementara angka 97 persen diklaim sudah pulih?

Narasi keterbukaan pun menjadi tuntutan. Publik meminta pemerintah menjelaskan secara jujur kondisi teknis serta target pemulihan yang realistis. Situasi ini juga menimbulkan tekanan kepada Kementerian ESDM dan PLN untuk memberikan klarifikasi.

Bahlil Akhirnya Minta Maaf

Di tengah gelombang kritik, Bahlil Lahadalia akhirnya tampil dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025). Nada optimistis yang ia tunjukkan di Bireuen berganti dengan nada penyesalan dan klarifikasi.

Ia mengakui masih banyak wilayah Aceh yang gelap gulita, dan bahwa realitas tersebut berbeda dari laporan yang ia sampaikan kepada Presiden.

“Kalau ada yang memang belum maksimal kami memberikan pelayanan, kami memohon maaf,” ujar Bahlil.

Baca Juga:  Prabowo Terima Kunjungan Menteri Suhail, Perkuat Kemitraan Indonesia-PEA

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah akan bekerja total untuk mempercepat pemulihan:

“Kami pemerintah akan terus fokus, akan terus berupaya, akan secara totalitas menggunakan semua sumber-sumber kekuatan negara dalam rangka percepatan pemulihan di sektor energi yang ada khususnya di Provinsi Aceh.”

Bahlil kembali menyinggung bahwa di lapangan selalu ada kondisi yang sulit diprediksi, sehingga hasil pemulihan kadang tidak mencapai target awal.

“Semoga apa yang dilakukan oleh teman-teman tim ini bisa menjadi bagian penting dalam rangka percepatan untuk proses pemulihan kepada saudara-saudara kita yang ada di Aceh,” tambahnya.

Namun bagi sebagian masyarakat, permintaan maaf itu tak langsung menghapus rasa kesal. Istilah “prank” keburu melekat dan menjadi simbol kesenjangan informasi yang dianggap tidak seharusnya terjadi dalam situasi darurat.

PLN Bongkar Tantangan Teknis: Tower Roboh, Sungai Melebar Berlipat Ganda

Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, dalam kesempatan yang sama memaparkan detail teknis yang menyulitkan pemulihan listrik Aceh. Menurutnya, kondisi di lapangan jauh lebih parah dari perkiraan awal.

Ia menjelaskan bahwa banjir bandang dan longsor menyebabkan kerusakan masif:

  • enam tower transmisi antara Bireuen dan pembangkit Arun roboh,
  • lebar sungai yang semula 80 meter berubah menjadi 300–400 meter,
  • tower dan kabel hanyut terbawa arus,
  • beberapa tower lain di lintasan Bireuen–Aceh Tengah juga ambruk.

“Tower-tower kami terbawa banjir bandang dan juga kabelnya juga hilang,” ungkap Darmawan.

Material tower yang bobotnya mencapai 35 ton dan kabel tambahan hingga 16 ton harus diangkut menggunakan helikopter. Distribusi logistik teknis ini melibatkan TNI AD dan AU, dari Jakarta hingga Aceh.

Baca Juga:  Hasil Pertemuan Prabowo-DPR, PPN 12 Persen Tetap Berlaku 1 Januari 2025

Setelah perjuangan berat, beberapa tower berhasil dipulihkan dan transmisi disambungkan kembali. Saat itu, PLN mengaku cukup optimis Banda Aceh akan segera menerima pasokan listrik dari Arun.

Namun optimisme itu sirna ketika hambatan teknis baru muncul saat pengaliran listrik dilakukan.

“Ternyata dalam proses pengaliran listrik dari Arun ke Banda Aceh, kami menghadapi tantangan hambatan teknis. Kenyataannya bahwa penyaluran listrik ini jauh lebih berat daripada perkiraan kami,” kata Darmawan.

Ia pun menyampaikan permohonan maaf yang senada dengan Bahlil:

“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada seluruh masyarakat Aceh.”

Di Tengah Krisis, Komunikasi Publik Jadi Sorotan

Insiden ini menjadi pelajaran penting mengenai bagaimana komunikasi pemerintah di tengah bencana harus dikelola. Janji pemulihan yang disampaikan di depan Presiden—dan kemudian tidak terwujud—menciptakan efek berlapis: kekecewaan warga, keraguan publik, hingga kritik tajam terhadap pejabat yang dinilai terburu-buru dalam memberi kepastian.

Momen ketika Bahlil mengatakan “97 persen malam ini semua Aceh nyala” kini menjadi kalimat yang diputar berulang-ulang sebagai simbol kegagalan tersebut. Bahkan pernyataan netizen yang menyebut Presiden “kena prank” pun melekat kuat, membentuk narasi dramatis yang sulit dipisahkan dari peristiwa ini.

Pada akhirnya, masyarakat Aceh masih menunggu langkah konkret pemerintah dan PLN untuk benar-benar mengembalikan listrik. Sementara itu, peristiwa ini akan tetap diingat sebagai satu episode unik ketika sebuah laporan ke Presiden berbalik menjadi sorotan luas—dan dipersepsikan sebagai sebuah “prank” paling mahal dalam situasi darurat energi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bahlil Lahadalia ESDM PLN Prabowo Subianto
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Jangan Termakan Jadwal Cair Palsu, Begini Cara Benar Cek PKH dan BPNT November 2026

Cara Cek Bansos PKH dan BPNT Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Begini Langkahnya

Dijuluki ‘Republik PKB’, Kabupaten Bandung Jadi Model Pemenangan PKB di Pemilu 2029

Hanya Pakaian Tertinggal di Tepi Sungai, Lansia Sumedang Ditemukan Meninggal di Cimanuk

Demo BEM se-Tasikmalaya Ricuh, Pagar DPRD Dijebol hingga Diseret ke Tengah Jalan

Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.