bukamata.id – Nama Kezia Syifa mendadak menjadi pusat perhatian publik Indonesia. Sosok perempuan muda berhijab yang diketahui sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) itu viral setelah diketahui bergabung dengan militer Amerika Serikat (AS). Kezia kini tercatat sebagai bagian dari Maryland Army National Guard, sebuah fakta yang segera memantik diskusi luas di media sosial—mulai dari isu nasionalisme, identitas kewarganegaraan, hingga konsekuensi hukum yang mungkin menyertainya.
Perdebatan tersebut tidak hanya menyoroti Kezia sebagai individu, tetapi juga membuka kembali diskursus lama tentang diaspora Indonesia yang memilih jalan hidup dan karier di luar negeri, termasuk di institusi militer asing. Bagi sebagian orang, langkah Kezia dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap negara asal. Namun bagi yang lain, kisah ini dipandang sebagai pilihan hidup personal di tengah globalisasi yang kian tanpa batas.
Menariknya, Kezia Syifa bukanlah WNI pertama yang menapaki karier di militer Amerika Serikat. Jauh sebelum namanya ramai diperbincangkan, publik Indonesia pernah mengenal sosok Letnan Kolonel (Letkol) Rosita Aruan Orchid Baptiste, perempuan berdarah Batak yang berhasil menembus jajaran perwira Angkatan Darat AS. Kisah Rosita menjadi potret lain dari perjalanan diaspora Indonesia yang berliku, penuh tantangan, sekaligus sarat pelajaran tentang kegigihan.
Mimpi yang Terhenti, Jalan yang Berbelok
Perjalanan hidup Letkol Rosita Aruan Orchid Baptiste berawal dari mimpi sederhana: menjadi Polisi Wanita (Polwan) di Indonesia. Namun mimpi itu harus pupus lebih awal. Tinggi badan Rosita yang hanya 149 sentimeter membuatnya tidak memenuhi syarat administrasi rekrutmen. Keterbatasan fisik tersebut menjadi tembok pertama yang menghalangi langkahnya mengabdi di tanah air.
Kegagalan itu bukan akhir segalanya. Takdir membawa Rosita hijrah ke Amerika Serikat. Di negeri baru, ia kembali harus memulai dari nol. Mantan wartawan Warta Ekonomi tersebut sempat mencoba peruntungannya di dunia jurnalistik AS. Namun minimnya pengalaman kerja di sana membuat jalannya tersendat. Untuk bertahan hidup, Rosita mengambil pekerjaan apa pun yang tersedia.
Ia pernah bekerja sebagai kasir di restoran cepat saji Burger King dengan upah 6,25 dolar AS per jam—angka yang jauh dari bayangan karier gemilang yang mungkin pernah ia impikan. Namun justru dari titik inilah arah hidup Rosita kembali berbelok.
Suaminya, yang merupakan mantan anggota Angkatan Darat AS, menyarankan agar Rosita mencoba bergabung dengan militer. Saran itu awalnya terasa asing, namun perlahan membuka harapan baru. Rosita pun memberanikan diri mendaftar dan mendapati sistem rekrutmen yang jauh berbeda dengan di Indonesia.
“Mereka itu gak memandang tinggi badan, jenis kelamin,” kata Rosita.
Meski begitu, jalan Rosita tidak langsung mulus. Pada tes awal, ia hanya memperoleh nilai 29, sementara batas minimal kelulusan adalah 31. Alih-alih menyerah, Rosita memilih bertahan. Ia mempersiapkan diri lebih matang, belajar lebih keras, dan sebulan kemudian mengikuti ujian ulang. Kali ini, ia berhasil lolos.
Karier militernya pun perlahan menanjak. Rosita dipercaya menjalankan berbagai penugasan internasional, termasuk empat tahun di Jerman, serta misi ke Kuwait dan Irak pada masa perang tahun 2005. Latar belakang pendidikannya sebagai lulusan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara turut memberi nilai tambah dalam perjalanan militernya.
“Di Amerika itu kalau masuk angkatan ada jenjang pangkat, karena saya punya gelar Sarjana Hukum, saya gak sempat dipanggil Private First Class (PFC), pangkat langsung Spesialis (SPC) setingkat Kopral,” jelasanya.
Video Perpisahan yang Viral
Bertahun-tahun setelah kisah Rosita, publik kembali dikejutkan oleh video perpisahan Kezia Syifa yang viral di media sosial. Video tersebut diunggah oleh akun Instagram @bunda_kesidaa, yang diketahui merupakan ibu dari Kezia.
Dalam video itu, Kezia terlihat mengenakan seragam tentara AS berwarna cokelat lengkap dengan jilbab hitam. Momen haru tersebut memperlihatkan pelukan dan air mata perpisahan keluarga sebelum Kezia menjalani tugas militernya.
“Missyou much kk,” tulis sang bunda dalam caption unggahan tersebut.
Unggahan itu segera dibanjiri komentar warganet. Ada yang memberikan doa dan dukungan, ada pula yang mempertanyakan status kewarganegaraan Kezia serta konsekuensi hukumnya sebagai WNI yang bergabung dengan militer asing.
Siapa Kezia Syifa?
Kezia Syifa diketahui telah bergabung dengan Maryland Army National Guard sejak tahun 2025. Ia bertugas dengan Military Occupational Specialty (MOS) 92A, yakni bidang logistik dan pengelolaan perlengkapan militer. Peran ini tergolong krusial karena berkaitan langsung dengan kesiapan operasional satuan.
Dari unggahan media sosial sang ibu, diketahui bahwa Kezia dan keluarganya kini menetap di Amerika Serikat dan menjalani kehidupan sebagai diaspora. Aktivitas mereka kerap dibagikan, memperlihatkan keseharian keluarga Indonesia di negeri Paman Sam.
Salah satu komentar warganet yang cukup menyita perhatian datang dari akun @sandyardhian.
“Pangkatnya udah Specialist (E-4) berarti daftarnya pakai ijazah S-1 tapi jalur enlisted… semoga lancar karirnya, bisa pensiun bintang,” tulisnya.
Komentar tersebut menunjukkan bahwa sebagian publik memandang Kezia dari sudut profesionalisme militer, bukan semata isu politik atau kewarganegaraan.
Respons Pemerintah dan Konsekuensi Hukum
Viralnya kasus Kezia Syifa akhirnya sampai ke telinga pemerintah. Menteri Hukum Supratman Andi Agtas menegaskan bahwa keterlibatan Kezia dalam militer AS harus diverifikasi terlebih dahulu.
“Itu harus diverifikasi terlebih dahulu, kebenarannya. Prinsipnya setiap WNI tidak boleh bergabung dengan kesatuan tentara asing kecuali atas izin presiden,” kata Supratman, dikutip Jumat (23/1/2026).
Ia menegaskan bahwa berdasarkan peraturan perundang-undangan, WNI yang bergabung dengan tentara asing tanpa izin Presiden dapat kehilangan status kewarganegaraannya secara otomatis.
“Kalau bergabung tidak dengan izin Presiden maka kewarganegaraan WNI yang bersangkutan otomatis hilang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Supratman menyebut bahwa apabila keterlibatan tersebut terbukti, Kementerian Imigrasi akan menindaklanjuti dengan pencabutan dokumen perjalanan.
“Makanya harus dipastikan betul soal kepastian keterlibatannya. Setelah didapatkan bukti-bukti bahwa benar WNI tersebut terlibat, maka bisa ditindaklanjuti oleh Kementerian Imigrasi untuk pencabutan dokumen perjalanan termasuk paspor yang bersangkutan,” ucap dia.
Di Antara Pilihan Hidup dan Identitas Negara
Kisah Kezia Syifa dan Rosita Aruan Orchid Baptiste menunjukkan dua sisi dari fenomena yang sama: warga Indonesia yang memilih jalan hidup di luar negeri, bahkan di institusi militer asing. Di satu sisi, ada mimpi, perjuangan, dan peluang yang terbuka. Di sisi lain, ada batas-batas hukum dan identitas kebangsaan yang tak bisa diabaikan.
Perdebatan publik pun tampaknya belum akan reda. Namun satu hal jelas, kisah-kisah ini memaksa masyarakat untuk kembali bertanya: sejauh mana negara hadir dalam kehidupan diaspora, dan bagaimana hukum menempatkan pilihan personal di tengah dunia yang semakin global.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











