bukamata.id – Jalan Pagarsih merupakan salah satu ruas jalan penting di Kota Bandung yang sarat sejarah. Jalan ini membentang dari perempatan Jalan Jamika hingga ke perempatan Jalan Astana Anyar, tak jauh dari kawasan ikonik Alun-Alun Bandung.
Secara administratif, kawasan ini masuk ke dalam dua kecamatan, yakni Astanaanyar dan Bojongloa Kaler.
Namun, lebih dari sekadar batas wilayah, nama “Pagarsih” menyimpan cerita menarik yang berakar dari sosok berpengaruh di masa lalu.
Nama Pagarsih diyakini berasal dari seorang tokoh masyarakat bernama Garsih yang hidup pada awal abad ke-20. Dalam tradisi lisan Sunda, sapaan “Pa” merupakan bentuk penghormatan kepada seorang laki-laki yang dituakan.
Oleh karena itu, sosok tersebut dikenal luas dengan sebutan “Pa Garsih”, yang lama-kelamaan berubah penyebutannya menjadi “Pagarsih”.
Pa Garsih dikenal sebagai seorang tuan tanah dermawan yang berjasa besar bagi masyarakat sekitar. Salah satu kontribusinya yang paling dikenang adalah pembangunan pintu air di Sungai Citepus.
Fasilitas ini berperan penting dalam mengairi area persawahan dan kebun milik warga, termasuk kebun kangkung dan pohon kelapa yang saat itu banyak tumbuh di wilayah tersebut.
Berkat jasanya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan irigasi, nama Pa Garsih kemudian diabadikan sebagai nama jalan utama di kawasan tersebut.
Pada era 1930-an hingga 1940-an, Pagarsih masih dipenuhi lahan pertanian dan kebun. Namun seiring urbanisasi yang melaju pesat, kawasan ini perlahan bertransformasi menjadi salah satu sentra bisnis di Bandung.
Saat ini, Jalan Pagarsih dikenal luas sebagai pusat industri percetakan, tempat berbagai usaha cetak skala kecil hingga menengah berkembang, mulai dari undangan, nota, hingga kalender.
Tak hanya berfungsi sebagai kawasan niaga, Pagarsih juga menyimpan nilai budaya. Di salah satu sudutnya terdapat Gang Nyi Empok, yang konon dinamai dari nama istri Pa Garsih.
Penamaan ini menjadi simbol penghargaan masyarakat terhadap sosok-sosok yang berjasa dalam perjalanan sejarah lokal.
Dengan menelusuri asal-usul nama Pagarsih, kita tidak hanya mengenang kontribusi tokoh masa lalu, tetapi juga memperkaya pemahaman akan identitas dan budaya Kota Bandung yang terus berkembang dari masa ke masa.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











