bukamata.id – Suara Abraham Kabey bergetar ketika mengisahkan kembali perjalanan panjang keluarganya mencari pertolongan medis untuk menantunya, Irene Sokoy. Perempuan berusia 33 tahun itu tengah menanti kelahiran anak ketiganya pada Minggu siang, 16 November 2025. Namun alih-alih menerima pertolongan, keluarga justru harus berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya, sebelum akhirnya Irene dan bayinya menghembuskan napas terakhir dalam perjalanan ke RS Bhayangkara, Senin dini hari.
“Dia datang [ke rumah sakit] dengan harapan [dapat] melahirkan anak ketiga. Tapi [ia] pulang sudah dalam peti,” kata Abraham Kabey lirih, menahan tangis saat ditemui awak media di Kampung Hobong, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Jumat (21/11/2025)
Di pangkuannya duduk dua cucu kesayangannya, Yoan Kalvin Kabey (11) dan Alfonsina Kabey (6). Keduanya tampak kebingungan melihat suasana rumah yang dipenuhi pelayat. Mereka belum sepenuhnya memahami bahwa sosok ibu yang selama ini mengusap kepala mereka tiap malam kini tidak akan kembali.
Anak ketiga yang selama ini ditunggu keluarga besar Kabey pun tak sempat menyentuh dunia.
Perjalanan Mencari Pertolongan
Kisah tragis itu bermula ketika Irene merasakan kontraksi kuat di rumahnya di RW 2 Kensio, Kampung Hobong. Ketuban pecah, rasa sakit datang bertubi-tubi, dan pembukaan sudah mencapai enam. Mengandalkan speedboat, satu-satunya transportasi yang memungkinkan dari kampung tersebut, keluarga membawa Irene ke RSUD Yowari pada Minggu sore.
Saat tiba, perawat menyampaikan bahwa pembukaan Irene telah lengkap. Mereka memperkirakan berat bayi mencapai sekitar empat kilogram, sehingga proses persalinan normal berisiko tinggi.
Namun, menurut pihak keluarga, penanganan tidak segera diberikan. Mereka menilai proses pembuatan surat rujukan berjalan sangat lambat.
“Dari jam 10.00 malam sampai hampir jam 12.00 malam, surat belum juga dibuat,” ujar Abraham.
Waktu terus berjalan. Kondisi Irene semakin lemah, napasnya tersengal, rasa sakit tak tertahankan. Hingga akhirnya, ambulans baru tiba sekitar pukul 01.22 Waktu Papua.
“Dari sinilah perjalanan panjang yang kami sebut putaran penolakan dimulai,” tutur Abraham.
Satu per Satu Pintu Rumah Sakit Tertutup
Rumah sakit pertama yang dituju adalah RS Dian Harapan di Waena. Namun keluarga mengaku ditolak karena ruangan penuh dan tidak ada dokter anestesi. Mereka diarahkan ke RSUD Abepura.
Di rumah sakit tersebut, harapan kembali pupus. Pihak RSUD menyampaikan bahwa ruang bersalin sedang direnovasi, sehingga pasien tidak bisa ditangani.
“Kalau bilang rujuk, harusnya koordinasi dulu. Tapi kami terus disuruh cari rumah sakit lain, sementara dia sudah sesak dan sakit sekali,” ucap Abraham.
Dengan kondisi Irene yang semakin kritis, keluarga kemudian membawa perempuan itu ke RS Bhayangkara di Jalan Jeruk Nipis, Kotaraja. Di sana, dokter sempat memeriksa rujukan, dan dua perawat menengok ke dalam ambulans untuk melihat keadaan Irene. Keluarga memohon agar ia segera ditangani.
Namun menurut keluarga, rumah sakit meminta pembayaran uang muka Rp4 juta karena kamar yang tersedia adalah “kelas khusus” atau VIP. Kamar untuk pasien BPJS disebut penuh.
“Kami bilang tolong selamatkan dulu, urusan bayar nanti kami atur. Tapi tidak diterima,” kata Abraham.
Dokter lalu memberikan surat pengantar agar mereka menuju RSUD Jayapura di Dok II. Ambulans kembali melaju pada pukul 03.30.
Detik-detik Kematian
Namun takdir berkata lain. Saat ambulans memasuki kawasan Entrop, Distrik Jayapura Selatan, kondisi Irene memburuk. Ia mengalami kejang hebat, mulut mengeluarkan busa, dan napasnya tersengal-sengal.
Melihat kondisi itu, keluarga panik dan memutuskan kembali ke RS Bhayangkara karena dianggap lebih dekat.
“Setibanya di sana sekitar pukul 05.00 WP, sayangnya nyawa Irene sudah tidak lagi dapat ditolong,” kata Abraham dengan suara gemetar. “Dia meninggal di pangkuan kami. Bayinya juga sudah hilang denyut.”
Air mata kembali mengalir di wajah lelaki paruh baya itu. penyesalan dan kemarahan bercampur menjadi satu.
Suami Terpukul
Neil Castro Kabey, suami Irene, masih terlihat terpukul berat. Di kediaman mereka yang sederhana, ia duduk termenung dikelilingi kerabat.
“Ia jarang mengeluh. Tapi untuk anak ketiga ini, dia minta operasi karena katanya jalannya sempit,” katanya mengenang istrinya.
Menurut Neil, kartu BPJS Irene aktif dan selalu digunakan untuk pemeriksaan kehamilan. Namun ketika di RS Bhayangkara, mereka justru diminta membayar biaya tiga sampai empat juta rupiah untuk masuk kamar.
“Kami cuma bawa uang di bawah satu juta. Katanya tempat BPJS penuh. Kami bingung, sementara dia makin sesak,” ucapnya.
Yang membuatnya semakin kecewa adalah minimnya tenaga dokter saat kejadian.
“Kalau satu dokter keluar, harusnya ada yang gantikan. Ini nyawa manusia,” ujarnya kesal.
Pertimbangkan Langkah Hukum
Kini keluarga besar Kabey tidak ingin tragedi ini berlalu begitu saja.
“Sudah sering kejadian seperti ini, bukan baru sekali. Harus ada keadilan. Kalau tidak, ini terus terjadi,” tegas Neil.
Mereka mempertimbangkan langkah hukum untuk meminta pertanggungjawaban pihak rumah sakit yang menolak memberikan layanan.
Keluarga juga berharap pemerintah daerah turun tangan menyelidiki kasus ini, apalagi sebelumnya Gubernur Papua sudah pernah memberikan teguran keras terhadap manajemen layanan kesehatan RSUD Jayapura.
Gubernur Fakhiri Meminta Maaf
Tragedi ini mendapat perhatian langsung dari Gubernur Papua Matius D. Fakhiri. Dalam kunjungannya bersama sejumlah pejabat kesehatan, ia tidak menutupi kemarahannya.
“Tuhan sudah tunjukkan satu contoh kebobrokan pelayanan kesehatan di Papua. Saya mohon maaf atas kejadian dan kebodohan jajaran pemerintah dari atas sampai bawah. Ini kebodohan yang luar biasa,” tegas Fakhiri.
Ia berjanji melakukan evaluasi menyeluruh dan mengganti seluruh direktur rumah sakit di bawah Pemprov Papua.
“Banyak peralatan medis rusak karena diremehkan para direktur. Saya sudah minta langsung ke Menteri Kesehatan untuk membantu memperbaiki pelayanan di Papua.”
Ia juga menegaskan kembali prinsip pelayanan darurat:
“Saya sudah berkali-kali bilang: layani dulu pasien, baru urus administrasi.”
Bagi Fakhiri, tragedi ini harus menjadi momentum perubahan.
“Sebagai gubernur, saya tidak malu meminta maaf. Ini pembelajaran yang sangat penting bagi kami pemerintah.”
Di halaman rumah keluarga Kabey, suara ratapan sesekali terdengar di antara pelukan dan doa. Sementara itu, dua anak kecil duduk memandangi foto ibu mereka yang tersenyum. Mereka belum memahami sepenuhnya, tetapi kehilangan itu akan terus membekas sepanjang hidup.
Tragedi yang merenggut nyawa Irene dan bayinya menjadi potret buram pelayanan kesehatan di Papua—sebuah ironi di tengah hak kesehatan yang seharusnya menjadi milik setiap warga negara. Keluarga berharap tidak ada lagi ibu yang datang ke rumah sakit dengan harapan melahirkan, namun pulang dalam peti.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











