Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF

Rabu, 28 Oktober 2026 18:03 WIB

Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap

Rabu, 28 Oktober 2026 17:38 WIB

Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG

Rabu, 28 Oktober 2026 16:47 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF
  • Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap
  • Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
  • Persib vs Melbourne Victory Malam Ini Tayang di Mana? Ini Jadwal dan Link Live Streaming
  • Sekolah Rasa Rumah Makan Sunda? SMAN 2 Subang Direnovasi Usai Sidak KDM
  • Siapa Mamita? Istri ‘Raja Sawer’ Haji AW yang Dikecam karena Sawer Uang dari Mobil
  • Prediksi Line Up Persib vs Melbourne Victory Malam Ini, Thom Haye dan Klok Kawal Lini Tengah
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 28 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kontroversi Pendidikan Ala Militer di Jabar, FSGI Tolak Program tanpa Kurikulum Jelas

By SusanaSelasa, 20 Mei 2025 13:05 WIB3 Mins Read
Dedi Mulyadi kirim siswa 'nakal' ke Barak Militer.
Dedi Mulyadi kirim siswa 'nakal' ke Barak Militer. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Program Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menyelenggarakan pendidikan ala militer bagi anak-anak nakal dan bermasalah menuai pro dan kontra.

Sejumlah lembaga HAM seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Komnas HAM menyatakan program ini kurang tepat dan perlu dievaluasi demi kepentingan terbaik bagi anak.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) juga menolak program ini, apalagi ada rencana mengirim guru malas ke barak militer. FSGI menilai kebijakan ini bersifat instan, tidak menyentuh akar masalah, dan berpotensi tidak berdampak jangka panjang dalam perubahan perilaku.

Ketua Umum FSGI, Fahmi Hatib, menyoroti ketidaksiapan program ini.

“Jadi tujuannya harus jelas, kurikulumnya sinkron dengan tujuan, silabus juga harus ada dan modul ajar juga harus disiapkan. Sehingga bisa kemudian dilakukan evaluasi karena jelas apa yang mau diukur sesuai dengan tujuannya, instrumen yang akan digunakan, kapan akan dilakukan evaluasi serta bagaimana pengolahan hasil evaluasinya,” ujarnya di Jakarta, Senin (19/5/2025).

Baca Juga:  Nama RSUD Al Ihsan Diganti Welas Asih, FUUI: Tidak Ada Urgensi, Justru Bikin Gaduh

Dokumen pedoman yang lengkap seperti kurikulum, silabus, maupun modul ajar tidak tersedia, sehingga dikhawatirkan siswa hanya jadi kelinci percobaan.

Selama ini, dokumen yang beredar hanya berupa Surat Edaran Gubernur terkait pembangunan pendidikan di Jabar melalui Gapura Panca Waluya.

Pengawasan KPAI menemukan sejumlah masalah serius dalam pelaksanaan program di barak militer, antara lain:

  • Metode pembelajaran berbeda di dua lokasi yang diawasi.
  • Tidak adanya panduan rekrutmen peserta; proses rekrutmen tidak seragam, tanpa asesmen, dan ada siswa yang mendapat ancaman tidak naik kelas jika tidak ikut.
  • Pelaksanaan pembelajaran tidak jelas karena peserta dari jenjang dan kelas berbeda digabung dalam satu kelas.
  • Pengemblengan fisik yang intens menyebabkan kelelahan dan menurunnya fokus belajar.
  • Minimnya pemahaman perlindungan anak oleh para pembina.
Baca Juga:  Jabar Jadi Provinsi dengan PHK Terbanyak, Ini Kata Dedi Mulyadi

Sekjen FSGI, Fahriza Marta Tanjung, yang juga Kepala SMK di Sumatra Utara, meminta tindakan tegas dari pemerintah.

“Kami meminta Menteri Pendidikan Dasar Menengah agar segera mengambil tindakan dengan menghentikan pengiriman siswa nakal ke barak militer di Jawa Barat. Karena kegiatan ini tidak memiliki landasan psikologis dan pedagogik yang jelas,” tegasnya.

“Kegiatan barak militer tersebut tidak memiliki perencanaan aksi yang jelas. Tidak berbasiskan data, kajian, dan pengalaman pihak lain sebagai contoh. Misalnya pendidikan di Sekolah Taruna Magelang, kurikulumnya jelas sebagaimana sekolah umum lainnya dan dididik oleh guru-guru berkualitas, sementara urusan pengemblengan fisik saja yang ditangani militer, porsi guru jauh lebih besar dalam proses pembelajaran,” tambahnya.

Selama ini, sekolah telah memiliki program pembinaan seperti Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa, Pramuka, UKS, dan PMR untuk menangani siswa bermasalah.

Baca Juga:  KDM Ajak Publik Tak Resah soal Penyatuan Gedung Sate-Gasibu, Warganet: Urgensinya Pak?

Jika program-program tersebut kurang berhasil, sebaiknya dievaluasi dan dimaksimalkan, bukan langsung membawa siswa ke barak militer.

FSGI juga mengingatkan adanya Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (PPKSP).

Dalam peraturan ini, anak-anak yang terlibat kekerasan harus ditangani secara komprehensif dengan melibatkan instansi terkait di luar sekolah, seperti Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPAPP), selain sekolah dan Dinas Pendidikan setempat.

Ketua Dewan Pakar FSGI, Retno Listyarti, mengatakan, itulah yang harus diperkuat perannya di daerah.

Selain itu, FSGI mengajak semua pihak untuk menjalankan peraturan perundangan dalam penanganan siswa bermasalah, termasuk meningkatkan peran orangtua dalam pengasuhan.

“Pemerintah Daerah harus memiliki program penguatan ketahanan keluarga dan Pemda harus memperbanyak psikolog keluarga dalam membangun kesehatan mental anak dan orangtua,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi KPAI Pendidikan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap

Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG

Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029

Sekolah Rasa Rumah Makan Sunda? SMAN 2 Subang Direnovasi Usai Sidak KDM

Polrestabes Bandung Ungkap Motif Bentrok Pasar Induk Caringin: Berawal dari Perselisihan Lama

Siapa Dwi Bagus Martono? Suami Siri yang Jadi Tersangka Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Lomba Coding SD-SMP 2026 Dibuka, Siswa Ditantang Bikin Solusi Bencana Alam
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.