bukamata.id – Kenaikan harga LPG nonsubsidi yang cukup signifikan memaksa masyarakat untuk memutar otak dalam mengatur dapur mereka. Menanggapi fenomena ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melontarkan gagasan agar warga mulai memanfaatkan potensi energi alternatif yang tersedia di lingkungan sekitar, mulai dari kayu bakar hingga pemanfaatan limbah ternak.
Langkah ini dipandang sebagai respons realistis di tengah melambungnya harga gas ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram yang resmi ditetapkan oleh PT Pertamina Patra Niaga.
“Kita di daerah mendorong untuk masyarakat menggunakan energi yang lainnya, bukan hanya menggunakan LPG, tapi juga bisa menggunakan misalnya, di daerah perkampungan, banyak kayu bakar, pakai kayu bakar,” kata Dedi di Bandung, Selasa (21/4/2026).
Dorong Inovasi Berbasis Kearifan Lokal
Dedi menekankan bahwa ketergantungan yang terlalu tinggi pada satu sumber energi seperti LPG membuat masyarakat rentan terdampak fluktuasi harga global. Baginya, masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa Barat, memiliki kreativitas untuk mengolah sumber daya lain, termasuk mengubah kotoran sapi menjadi biogas yang lebih ekonomis.
Ia optimis bahwa penyesuaian gaya hidup dan pemanfaatan teknologi tepat guna bisa menjadi kunci bertahan di tengah beban ekonomi yang meningkat.
“Jadi, memang kita harus berusaha menyesuaikan dengan tingkat kemampuan kebutuhan kita, dan saya meyakini warga Indonesia ini warga yang inovatif dan cerdas,” ucapnya.
Rincian Kenaikan Harga LPG
Sebagai informasi, tekanan ekonomi ini dipicu oleh kebijakan PT Pertamina Patra Niaga yang mengerek harga gas nonsubsidi. Saat ini, tabung 12 kilogram dibanderol seharga Rp 228 ribu, sebuah lonjakan tajam sebesar 18,75 persen.
Kondisi serupa terjadi pada varian gas 5,5 kilogram yang kini harus ditebus warga dengan harga Rp 107 ribu. Kenaikan ini pun memicu kekhawatiran akan terjadinya migrasi besar-besaran pengguna gas nonsubsidi ke gas melon 3 kilogram yang diperuntukkan bagi warga prasejahtera.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










