bukamata.id – Di heningnya Pegunungan Sanggabuana, kamera jebak yang dipasang Sanggabuana Wildlife Ranger bersama anggota TNI AD merekam kehidupan liar yang seharusnya bebas dari gangguan manusia. Seekor macan tutul Jawa, predator puncak yang menandai kesehatan hutan, tampak berjalan pelan dan waspada di antara pepohonan tinggi. Namun di balik rekaman itu, terselip bayangan kelam: pemburu ilegal yang menembus kedamaian hutan dengan senjata laras panjang, anjing buruan, dan niat membunuh.
Sebelumnya, Pegunungan Sanggabuana sempat menjadi sorotan karena tim Ekspedisi Macan Tutul Jawa merekam 19 individu macan tutul, termasuk fenomena unik seekor induk macan kumbang yang membawa dua anaknya dengan pola bulu berbeda—satu melanistik dan satu bercorak tutul.
Bernard T. Wahyu Wiryanta, peneliti dan fotografer satwa liar yang memimpin tim, menyebut, “Setiap macan tutul Jawa mempunyai pola tutul yang unik, berbeda tiap individu, sama seperti sidik jari manusia. Kamera jebak merekam 19 individu ini, 14 macan tutul dan 5 macan kumbang, termasuk induk yang membawa dua anaknya.”
Kebahagiaan dan keindahan alam itu kini ternoda. Rekaman terbaru mengungkap adegan yang membuat jantung tercekat: segerombolan pemburu liar muncul di hutan dengan senjata dan anjing pemburu, menyusuri jalan setapak yang sama yang biasa dilalui macan tutul.
Kamera menyorot gerakan mereka di siang dan malam hari, menembus kabut dan bayangan pepohonan. Bahkan terlihat bekas upaya perusakan kamera trap—tanda bahwa mereka sadar ada yang mengintai.
Yang paling memilukan adalah dampak langsung terhadap macan tutul. Seekor individu terlihat pincang, kaki kiri depannya terluka parah, tubuhnya kurus karena tak mampu berburu. Luka itu bukan hanya fisik—tapi simbol penderitaan akibat kejahatan manusia. Setiap langkahnya yang pelan, setiap napasnya yang berat, adalah bukti bahwa predator puncak itu kini menjadi korban kejahatan terorganisir yang mengintai hutan.
Kasus ini menegaskan dugaan perburuan liar yang terorganisir di Sanggabuana. Identitas pelaku belum terekam, namun rekaman jelas menunjukkan mereka bersenjata lengkap dan membawa anjing. Aktivitas semacam ini adalah ancaman nyata bagi ekosistem yang telah terbentuk selama ratusan tahun, mengancam bukan hanya macan tutul, tapi seluruh rantai kehidupan di hutan.
Netizen pun merespons dengan gelombang empati dan kemarahan. “Cepat sembuh dan cepat sehat kembali seperti sediakala ya macan tutul,” tulis seorang pengguna media sosial. Lainnya menuntut tindakan tegas: “Sing enggal ka tangkep pelakuna.” Sementara yang lain menyuarakan kemarahan umum: “Kenapa di Indonesia banyak banget orang jahat sama binatang.”
Gunung Sanggabuana sendiri adalah kawasan yang masih terawat, dengan pepohonan tinggi termasuk pohon kemenyan liar. Di puncaknya terdapat makam peziarah dan panorama yang memungkinkan pengunjung memandang kota Karawang hingga bendungan Jatiluhur.
Hutan ini adalah rumah bagi 432 jenis satwa liar, termasuk owa, monyet elang, dan macan tutul sebagai predator puncak. Keindahan dan keanekaragaman ini kini terancam oleh tangan manusia yang datang dengan niat merusak.
Tim Ekspedisi Macan Tutul Jawa yang sebelumnya merekam 19 individu melibatkan anggota Resimen Latihan dan Pertempuran (Menlatpur) Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad), dilepas langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak.
Maruli menekankan, keterlibatan TNI AD bukan sekadar kegiatan militer, tetapi bagian dari upaya pelestarian ekosistem. “Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keanekaragaman hayati demi kelangsungan hidup generasi mendatang. TNI AD akan terus mendukung kegiatan pelestarian hutan lindung seperti ini,” tegas KSAD.
Kini, Pegunungan Sanggabuana menjadi saksi ganda: keindahan alam yang berhasil terekam kamera jebak, dan ancaman nyata dari pemburu liar yang menembus kedamaian hutan.
Macan tutul Jawa, simbol kekuatan dan keseimbangan hutan, terpaksa berjuang melawan rasa sakit fisik dan ancaman manusia. Setiap totol bulu, setiap jejak kaki di tanah, setiap bisikan angin di pepohonan adalah pengingat bahwa alam membutuhkan perlindungan—dan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk memastikan keajaiban Pegunungan Sanggabuana tetap hidup bagi generasi yang akan datang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











