bukamata.id – Kisah haru sepasang lansia yang tinggal di rumah tak layak huni viral di media sosial dan menyentuh hati publik. Video yang memperlihatkan kondisi rumah rapuh tersebut ramai dibagikan di platform seperti TikTok dan memicu gelombang empati dari warganet di seluruh Indonesia.
Pasangan lansia yang akrab disapa nini dan kai itu diketahui tinggal berdua tanpa anak maupun keluarga yang mendampingi. Mereka menjalani hari-hari dalam keterbatasan, bahkan disebut tanpa akses listrik, di sebuah rumah yang kondisinya nyaris roboh.
Tinggal di Rumah Rapuh di Pelosok Kalimantan Selatan
Berdasarkan informasi yang beredar, lokasi rumah tersebut berada di Desa Bancing Paramasan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, di jalur menuju Batu Licin hingga Desa Emil Baru, Kabupaten Tanah Bumbu.
Rumah tersebut pertama kali diketahui publik setelah seorang pengendara yang melintas merasa penasaran. Dari luar, bangunan itu tampak kosong dengan kondisi atap miring dan dinding lapuk. Namun saat didekati, ternyata ada penghuni di dalamnya, sepasang lansia yang masih bertahan hidup dalam kondisi serba terbatas.
Kondisi tersebut langsung memicu reaksi warganet yang menilai tempat tinggal itu sudah jauh dari kata layak huni, terutama untuk lansia yang rentan terhadap cuaca ekstrem.
Viral dan Tuai Simpati, Bantuan Mulai Berdatangan
Setelah video tersebut viral, bantuan dari masyarakat mulai mengalir. Hal ini diungkapkan dalam unggahan terbaru akun TikTok @brondong246.
“Makasihlah atas donasi kawan yang merasa mengirimi donasinya, semoga panjang umur dan sehat badan,” tulisnya.
Gelombang solidaritas ini menunjukkan kekuatan media sosial dalam menggerakkan kepedulian publik. Banyak warganet berharap bantuan tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga berkelanjutan, terutama untuk perbaikan tempat tinggal pasangan lansia tersebut.
Klarifikasi dan Permintaan Maaf
Di tengah viralnya video, pengunggah yang diketahui bernama Pian juga menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf kepada pihak desa.
“Ulun minta maaf kepada Pakades Suarhardi dan jajarannya, polmas, babinsa, camat dan seluruh pihak terkait,” tulisnya.
Diketahui, sebelum viral di media sosial, pasangan lansia tersebut sebenarnya telah mendapatkan perhatian dari pemerintah desa setempat. Bahkan disebutkan bahwa bantuan sudah beberapa kali diberikan.
Sorotan Warganet: Bantuan Harus Tepat Sasaran
Meski bantuan mulai berdatangan, kolom komentar warganet dipenuhi berbagai kritik, saran, dan harapan agar penanganan dilakukan lebih maksimal.
Salah satu komentar menyoroti pentingnya administrasi kependudukan sebagai syarat akses bantuan sosial:
“Kalau tidak punya KTP atau KK, seharusnya desa bisa membantu memfasilitasi. Kondisi seperti ini harusnya jadi prioritas utama untuk bantuan seperti PKH atau bedah rumah,” tulis akun part***.
Komentar lain justru memberikan dukungan kepada pengunggah video:
“Bagus sudah diviralkan, jadi orang tahu kondisi sebenarnya. Mudah-mudahan rumahnya juga bisa diperbaiki agar layak huni,” tulis akun lainnya.
Ada pula harapan agar pemerintah daerah dan pihak terkait turun tangan lebih serius:
“Semoga ada perhatian dari pemerintah daerah atau pihak lain yang bisa membantu perbaikan rumah beliau,” tulis warganet lainnya.
Fenomena Viral dan Peran Media Sosial
Kasus ini kembali menegaskan peran besar media sosial dalam mengangkat isu kemanusiaan yang sebelumnya luput dari perhatian luas. Dalam hitungan jam, kondisi pasangan lansia tersebut berubah dari tidak diketahui menjadi sorotan nasional.
Namun di sisi lain, fenomena ini juga memunculkan pertanyaan: apakah perhatian akan tetap berlanjut setelah viralitas mereda?
Harapan: Dari Viral Menjadi Solusi Nyata
Kisah nini dan kai di pelosok Kalimantan Selatan bukan hanya tentang kemiskinan, tetapi juga tentang ketahanan hidup di tengah keterbatasan. Mereka tetap bertahan meski tanpa fasilitas memadai.
Kini, publik berharap perhatian yang muncul tidak berhenti pada simpati semata, melainkan berlanjut menjadi solusi nyata, mulai dari perbaikan rumah, akses listrik, hingga jaminan kesejahteraan yang layak.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik derasnya arus informasi digital, masih banyak cerita kemanusiaan yang membutuhkan aksi nyata, bukan sekadar viral sesaat.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










