Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Dago Padel Club Bandung Gebrak Indonesia, Usung Standar Lapangan Kelas Dunia

Sabtu, 1 Agustus 2026 12:44 WIB

Kisah Haru Mbok Tukinil dan Yanto Kucing Oren yang Bikin Satu Indonesia Menangis

Sabtu, 1 Agustus 2026 10:40 WIB

Daftar Harga Terbaru BBM Nonsubsidi Pertamina, Resmi Turun Per 1 Agustus 2026

Sabtu, 1 Agustus 2026 06:29 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Dago Padel Club Bandung Gebrak Indonesia, Usung Standar Lapangan Kelas Dunia
  • Kisah Haru Mbok Tukinil dan Yanto Kucing Oren yang Bikin Satu Indonesia Menangis
  • Daftar Harga Terbaru BBM Nonsubsidi Pertamina, Resmi Turun Per 1 Agustus 2026
  • Cara Cek Bansos Tahap 3: Gunakan NIK KTP untuk Pastikan Namamu Masuk Daftar Penerima
  • Tanggal 1 Agustus Jatuh Hari Sabtu, Apakah Gaji Pensiunan PNS Tetap Cair? Ini Jawaban Taspen
  • Screenshot DM Instagram Bisa Ketahuan? Ini Rahasia Notifikasi yang Wajib Diketahui Pengguna
  • Bansos Kemensos Tahap 3 2026 Cair! Cek NIK KTP Sekarang, Ada PKH dan BPNT Rp600 Ribu
  • Cara Klaim Saldo DANA Gratis 1 Agustus 2026: Manfaatkan Peluang Cuan Hari Ini
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 1 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Awal Mula Gagasan Monarki dalam Sejarah Islam

By Aga GustianaSabtu, 26 April 2025 18:41 WIB2 Mins Read
Masjid Agung Umayyah di Damaskus. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gagasan monarki dalam sejarah kekhalifahan Islam berakar pada masa Mu’awiyah bin Abi Sufyan, pendiri Dinasti Umayyah. Setelah menerima baiat dari kaum Muslimin, termasuk kubu Hasan bin Ali, Mu’awiyah menghadapi kegelisahan besar: tidak ada mekanisme baku untuk menentukan penerus kepemimpinan.

Menurut Nurhasan dalam Mu’awiyah: Penggagas Pertama Sistem Monarki dalam Islam (2011), keresahan itu mendorong Mu’awiyah untuk memperkenalkan konsep putra mahkota. Ia ingin memastikan transisi kekuasaan berjalan mulus tanpa memicu konflik baru di tubuh umat Islam.

Terkait siapa yang pertama kali menggagas ide tersebut, terdapat dua pendapat. Sebagian sumber menyebut Mughirah bin Shu’bah, seorang sahabat senior, sebagai pihak yang menyarankan Mu’awiyah mengangkat putranya, Yazid, sebagai penerus. Sejarawan M. Khudari mencatat, Mughirah bahkan sempat menggalang dukungan politik dari masyarakat Kufah untuk mewujudkan rencana itu.

Namun, ada pula pendapat berbeda. Sejumlah sejarawan seperti Ali Muhammad ash-Shallabi, Bernard Lewis, dan Karen Armstrong mengkritisi riwayat yang menyebut peran Mughirah. Mereka menilai ide pembaiatan Yazid justru berasal dari Mu’awiyah sendiri, mengingat Mughirah sudah wafat sebelum proses itu bergulir sekitar tahun 53 H.

Mencegah Perpecahan Umat

Mu’awiyah, seorang pemimpin cerdas dan visioner, memahami betul kondisi rapuh umat Islam pasca terbunuhnya Utsman bin Affan. Peristiwa itu, ditambah perang-perang saudara seperti Perang Unta dan Perang Shiffin, memperlemah solidaritas yang dulu kokoh di masa Khulafaur Rasyidin.

Melihat ancaman perpecahan, Mu’awiyah menilai perlu ada model kepemimpinan yang mampu menjamin stabilitas politik jangka panjang. Ia pun mulai mengubah bentuk kekhalifahan menjadi model monarki, dengan mewariskan kekuasaan kepada keturunannya.

Menurut Karen Armstrong, gagasan monarki semula terasa asing bagi bangsa Arab. Budaya suku-suku di Jazirah Arab yang nomaden dan egaliter membuat mereka terbiasa memilih pemimpin berdasarkan kapasitas, bukan garis keturunan. Namun, serangkaian perang saudara membuktikan bahwa sistem seperti itu rawan konflik, sehingga kebutuhan akan pewarisan kekuasaan menjadi lebih bisa diterima.

Fenomena Baru dalam Sejarah Kekhalifahan

Penunjukan Yazid sebagai khalifah dilakukan saat Mu’awiyah masih hidup, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kekhalifahan Islam. Sebelumnya, pemimpin baru baru dipilih setelah wafatnya khalifah sebelumnya, sebagaimana terjadi antara Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Meskipun ide pewarisan kekuasaan terasa asing bagi masyarakat Hijaz, konsep ini lebih diterima di wilayah Syam dan Irak. Kedua kawasan tersebut sebelumnya memang telah akrab dengan model pemerintahan dinasti, jauh sebelum datangnya Islam.

Transformasi inilah yang kemudian menjadi pondasi awal terbentuknya sistem monarki dalam dunia Islam, yang berlanjut pada dinasti-dinasti besar setelahnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

abi sufyan Islam monarki muawiyah sejarah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Dago Padel Club Bandung Gebrak Indonesia, Usung Standar Lapangan Kelas Dunia

Kisah Haru Mbok Tukinil dan Yanto Kucing Oren yang Bikin Satu Indonesia Menangis

Cara Cek Bansos Tahap 3: Gunakan NIK KTP untuk Pastikan Namamu Masuk Daftar Penerima

Screenshot DM Instagram Bisa Ketahuan? Ini Rahasia Notifikasi yang Wajib Diketahui Pengguna

Mudah banget, cara mendapatkan saldo DANA gratis hanya dengan bermain game di HP.

Cara Klaim Saldo DANA Gratis 1 Agustus 2026: Manfaatkan Peluang Cuan Hari Ini

Game Free Fire

Klaim Sekarang! Daftar Kode Redeem FF 1 Agustus 2026, Buruan Ambil Hadiah Skin & Bundle Gratis

Terpopuler
  • Fakta Baru Satpam Tewas Terborgol di Waduk Jatiluhur: Polisi Tegaskan Belum Ada Tersangka
  • Rindang Jadi Beton! 9 Pohon di Cihapit Ditebang Demi Lapangan Padel?
  • Dikenalkan Bos Hartono, Ini Sosok Dr. Veronica yang Bikin Irfan Hakim Penasaran Soal Akupunktur Telinga
  • Bandung Tak Lagi Aman? Sisi Gelap Geng Begal Malam Hari dan Tekanan Ekonomi Modern!
  • Rahasia Persib Tak Terkalahkan Terungkap, Igor Tolic Sebut Faktor Ini Jadi Kunci Lolos ke Semifinal
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.