bukamata.id – Gelombang tren olahraga padel di Tanah Air kembali mencatatkan babak baru yang masif. Belum lama ini, kehadiran arena olahraga modern di kawasan dataran tinggi Paris van Java langsung menyita perhatian publik pencinta olahraga raket. Fasilitas anyar ini digadang-gadang sebagai salah satu arena paling prestisius di nusantara karena membawa spesifikasi teknis langsung dari daratan Eropa.
Sebagai bentuk uji tuntas kualitas arena, tokoh bisnis sekaligus kolektor koi ternama asal Kota Kembang, Hartono Soekwanto, tak tanggung-tanggung langsung mendatangkan dua atlet profesional asal negeri Tango, Argentina. Kedua atlet tersebut adalah Maxi Sánchez Blasco yang bercokol di jajaran elite ranking 50 Argentina, serta Tiago Vallejos yang memegang posisi top 10 pemain terbaik di negara tersebut. Kehadiran mereka diuji secara langsung untuk menjajal dinamika permainan di atas permukaan lapangan baru ini.
Pelopor Penggunaan Material Alba dan Karpet Mondo X3
Berdiri megah di Jalan Ir. H. Juanda Nomor 420, kawasan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, fasilitas olahraga ini menorehkan rekor penting. Tempat ini menjadi pionir pertama di Indonesia yang menggunakan struktur lapangan resmi buatan merek global asal Eropa, Alba. Perlu diketahui, produsen Alba dikenal luas sebagai vendor resmi untuk rangkaian turnamen tingkat dunia, Premier Padel Tour di Benua Biru.
Keunggulan fasilitas ini kian paripurna berkat penyematan jenis karpet premium tertinggi saat ini, yaitu Mondo X3. Teknologi mutakhir karpet ini mengandalkan sistem rajutan tiga benang. Spesifikasi tersebut jauh melampaui performa generasi sebelumnya seperti seri X1 maupun X2, sehingga diklaim mampu meredam benturan demi melindungi persendian kaki sekaligus memberikan efek pantulan bola yang jauh lebih akurat dan tajam.
Secara keseluruhan, pusat olahraga ini menyediakan total delapan arena berstandar benua biru, yang terbagi dalam dua unit kategori Major Set serta enam unit bertipe Alba.
Standar Konstruksi Presisi Tinggi untuk Faktor Keamanan
Pembangunan infrastruktur fisik arena ini dikerjakan langsung oleh tangan-tangan tenaga ahli konstruksi asal Eropa. Hasilnya terbukti pada tingkat kerataan permukaan lantai yang sangat presisi tanpa menyisakan celah titik mati atau dead spot.
Kombinasi pengecoran lantai yang amat rata serta balutan karpet Mondo X3 membuat arena ini sangat ramah bagi pegiat olahraga senior, khususnya usia 40 tahun ke atas. Faktor keamanan ini sangat diperhatikan guna meredam potensi cedera otot maupun risiko tersandung akibat kontur lapangan yang tidak rata.
“Ini yang dirasakan oleh Bos Koi, ternyata pemain-pemain dunia itu kayak begini pelintiran bolanya. Kita merasakan apa yang mereka rasakan,” ujar Bos Koi Hartono Soekwanto, Sabtu (1/8/2026).
Hartono memberikan apresiasi mendalam atas komitmen manajemen pengelola yang berani membawa standar kompetisi global ke tatar Sunda. Selain keunggulan material lantai serta dinding kaca pengaman, kompleks olahraga ini juga merancang tinggi langit-langit (ceiling) mencapai 16 meter, memberikan sirkulasi udara serta keleluasaan visual yang maksimal bagi para pengunjung.
Nilai Investasi Fantastis Capai Miliaran Rupiah
Dari segi pembiayaan, proyek pembangunan fasilitas ini memakan anggaran yang sangat masif. Jika pembuatan satu unit lapangan konvensional umumnya memerlukan estimasi dana sekitar Rp300 juta, maka setiap unit lapangan di kompleks ini justru menghabiskan modal menembus angka Rp1 miliar.
Akumulasi total investasi yang digelontorkan oleh pihak manajemen ditaksir melampaui Rp8 miliar demi merampungkan delapan arena berstandar World Premier Tour Eropa pertama di Indonesia.
“Jadi saya benar-benar mengucapkan terima kasih pada teman-teman yang membuat lapang ini, Dago Padel Club, yang sudah membuat lapang Eropa terbaik di dunia untuk di Kota Bandung,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










