bukamata.id – Kisah mengharukan datang dari seekor sapi bernama Matilda, hewan asal Lampung yang selama bertahun-tahun hidup sebagai sapi pekerja. Sebelum dikenal publik, Matilda disebut telah membantu pemilik lamanya menarik gerobak ke sawah selama sekitar tujuh tahun untuk membantu perekonomian keluarga.
Perjalanan hidupnya yang panjang dan penuh perjuangan kini berubah drastis setelah ia berpindah tangan dan memasuki babak baru kehidupan di Kota Bandung.
Sapi Pekerja Keras yang Akhirnya “Dimuliakan” di Bandung
Kisah Matilda, sapi asal Lampung yang kini viral di Bandung, kembali menyita perhatian publik setelah presenter Irfan Hakim turut memberikan komentar emosional terkait perjalanan hidup hewan tersebut.
Dalam sebuah pernyataannya, Irfan Hakim menceritakan kembali bagaimana Matilda dikenal sebagai sapi pekerja keras yang menghabiskan hidupnya membantu menarik gerobak selama bertahun-tahun.
“Ada satu sapi yang seumur hidupnya hanya menarik gerobak, Matilda sapi pekerja keras, yang kerja keras sepanjang hidupnya, selama 7 tahun, akhirnya dimuliakan di sebuah mesjid di belakang rumah Pak Hartono,” ujar Irfan Hakim.
Dari Setia Farm ke Tangan Bos Koi di Bandung
Hidup Matilda dimulai ketika sapi tersebut dibeli oleh presenter Irfan Hakim dan dibawa ke peternakan Setia Farm. Namun tidak berselang lama, Matilda kembali berpindah kepemilikan setelah dibeli oleh pengusaha Hartono Soekwanto, yang akrab disapa Bos Koi.
Matilda kemudian tiba di kediaman Bos Koi di Bandung pada Minggu malam, 24 Mei 2026. Dalam perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, sapi jantan tersebut disebut menunjukkan ketenangan luar biasa.
“Sepanjang perjalanan Matilda tampak sangat anteng,” ujar sopir yang mengantarnya.
Sambutan Hangat yang Penuh Emosi di Rumah Baru
Setibanya di lokasi, Matilda langsung mendapat sambutan hangat dari Bos Koi. Momen pertama keduanya bahkan terlihat penuh kehangatan, ketika Bos Koi mengelus tubuh Matilda sebagai bentuk penyambutan.
Tidak hanya itu, Matilda juga langsung diberikan makanan dan minuman segar sebagai bentuk perhatian di rumah barunya.
Interaksi tersebut sontak menarik perhatian publik karena memperlihatkan kedekatan emosional yang tidak biasa antara pemilik dan hewan ternaknya.
Rencana Kurban yang Berubah karena Ikatan Batin
Awalnya, Hartono Soekwanto berencana menjadikan Matilda sebagai hewan kurban pada Iduladha tahun ini. Namun niat tersebut berubah setelah ia merasa memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan sapi tersebut.
Bos Koi bahkan mengungkapkan perasaan yang cukup menyentuh, menyebut Matilda seperti memiliki keterkaitan khusus dengan dirinya.
“Matilda siapanya saya? Setelah mencari-cari jawabannya, ternyata reinkarnasi anak saya,” ungkapnya emosional.
Karena alasan tersebut, Matilda akhirnya diputuskan batal dikurbankan dan akan tetap dirawat dengan penuh perhatian di peternakan milik Bos Koi. Posisi hewan kurban kemudian digantikan oleh sapi lain.
Perhatian Irfan Hakim dan Kisah yang Viral di Publik
Kisah Matilda juga mendapat perhatian dari Irfan Hakim, yang sejak awal mengenal perjalanan sapi tersebut. Ia menggambarkan kisah Matilda seperti sebuah drama penuh kejutan.
“Ini seperti anak CEO yang menyamar di sebuah kampung, lalu ditemukan oleh ayahnya. Ini seperti drama Cina,” ujarnya sambil tertawa.
Ungkapan tersebut semakin memperkuat kesan bahwa perjalanan hidup Matilda bukan sekadar cerita hewan ternak, melainkan kisah emosional yang menyentuh banyak orang.
Hidup Baru Matilda di Bandung
Kini, Matilda tidak lagi menjalani kehidupan berat seperti sebelumnya. Sapi asal Lampung itu telah menemukan tempat tinggal baru yang lebih nyaman di Kota Bandung.
Ia kini hidup dalam perawatan yang lebih baik, jauh dari aktivitas berat yang dulu menjadi rutinitasnya di pedesaan.
Kisah Matilda menjadi sorotan karena menggambarkan perubahan nasib yang drastis, dari hewan pekerja menjadi simbol kasih sayang dan kepedulian manusia terhadap makhluk hidup.
Sosok di Balik Sukses Matilda: Hartono Soekwanto
Di balik viralnya kisah sapi Matilda, terdapat sosok pengusaha asal Bandung yang dikenal luas di dunia ikan hias, yakni Hartono Soekwanto. Ia bukan sekadar peternak biasa, melainkan salah satu figur penting dalam industri Koi (Nishikigoi) yang telah menorehkan prestasi di tingkat internasional.
Bagi sebagian pecinta Koi, nama Hartono sudah identik dengan kualitas, konsistensi, dan pencapaian yang mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.
Perjalanan Hartono Soekwanto dimulai pada tahun 2008, saat ia membeli sebuah rumah di kawasan Setrasari, Sukasari, Bandung. Rumah tersebut memiliki kolam kosong yang kemudian menjadi titik awal kecintaannya pada ikan Koi.
Dari rasa penasaran, ia mulai memelihara ikan Koi sederhana yang dibeli dari pasar seharga sekitar Rp150.000.
“2008 itu saya beli rumah, ada kolam kosong. Saya isi ikan Koi pertama dari pasar,” kenangnya.
Namun, langkah awal itu tidak langsung mendapat sambutan positif. Ia justru sempat menerima cibiran dari lingkungan sekitarnya yang meremehkan pilihannya.
Alih-alih menyerah, komentar negatif justru menjadi bahan bakar semangat Hartono. Ia memutuskan untuk memperdalam ilmu langsung ke negara asal Koi, yaitu Jepang.
Keputusan itu menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Di Jepang, ia belajar intensif tentang teknik budidaya, seleksi kualitas, hingga filosofi Nishikigoi dari para ahli.
“Daripada berhenti di tengah, saya pilih belajar langsung ke Jepang,” ujarnya.
Hasil kerja kerasnya tidak sia-sia. Dalam waktu relatif singkat, sekitar 2 tahun 8 bulan, Hartono berhasil menembus dunia kompetisi Koi internasional dan meraih prestasi bergengsi.
Ia kemudian dikenal sebagai salah satu pembudidaya yang mampu mengubah Koi bernilai puluhan juta rupiah menjadi juara dunia.
“Setelah belajar di Jepang, saya ikut kontes dan akhirnya jadi juara dunia,” kata Hartono.
Puncak pencapaiannya terjadi pada tahun 2013, ketika ia meraih gelar Grand Champion Nishikigoi of the World di Jepang melalui Koi jenis Kohaku bernama Mu-Lan Legend.
Penutup
Perjalanan Matilda menunjukkan bahwa setiap makhluk hidup memiliki kisah yang bisa menyentuh sisi emosional manusia. Dari sapi penarik gerobak di Lampung hingga kehidupan baru di Bandung, Matilda kini menjadi cerita viral yang penuh makna dan haru.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










