bukamata.id – Gunung bukan tempat bermain-main. Kalimat itu kembali terasa nyata setelah tragedi mengerikan terjadi di Gunung Dukono. Gunung api aktif yang selama ini dikenal ekstrem dan tak pernah benar-benar “tidur” itu kembali memakan korban jiwa.
Yang membuat publik geram, tragedi ini terjadi saat status pendakian sebenarnya sudah resmi ditutup pemerintah. Namun, larangan itu diduga diabaikan demi ambisi petualangan dan konten media sosial.
Tiga pendaki dilaporkan meninggal dunia usai erupsi hebat pada Jumat, 8 Mei 2026. Dua di antaranya merupakan warga negara asing asal Singapura, sementara satu korban lainnya warga Indonesia asal Jayapura. Yang paling menyeramkan, sebagian korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan hingga tinggal tulang belulang dan tubuh tidak utuh di dekat kawah aktif.
Peristiwa ini langsung menjadi sorotan nasional dan memicu kemarahan warganet. Banyak yang menyebut tragedi tersebut sebagai akibat dari budaya nekat mendaki gunung aktif demi konten viral.
Gunung Dukono Sudah Ditutup, Tapi Pendaki Tetap Nekat Masuk
Fakta paling mengejutkan dari tragedi ini adalah status pendakian Gunung Dukono ternyata sudah ditutup sejak 17 April 2026.
Penutupan dilakukan Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara melalui Dinas Pariwisata menyusul peningkatan aktivitas vulkanik yang terpantau sejak akhir Maret 2026.
Larangan itu bahkan diperkuat rekomendasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi yang menetapkan radius bahaya sejauh empat kilometer dari kawah aktif.
Namun, aturan tersebut diduga dilanggar rombongan pendaki berjumlah sekitar 20 orang yang terdiri dari wisatawan lokal dan asing.
Mereka diduga masuk secara diam-diam melalui jalur ilegal tanpa izin resmi.
Kapolres Halmahera Utara AKBP Erlichson Pasaribu bahkan menegaskan adanya dugaan kelalaian serius dalam tragedi ini.
“Pendakian sudah dilarang. Jadi bisa dinilai sendiri, pasti ada kelalaian.”
Polisi kini memeriksa sejumlah porter dan pemandu pendakian untuk mengusut bagaimana rombongan tersebut bisa lolos menuju kawasan berbahaya.
Detik-detik Maut di Bibir Kawah
Tragedi bermula ketika Gunung Dukono mengalami erupsi besar sekitar pukul 07.41 WIT.
Kolom abu vulkanik dilaporkan menyembur lebih dari 1.000 meter ke udara. Material panas dan pasir vulkanik langsung menyelimuti area sekitar kawah.
Pendaki yang berada terlalu dekat tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diri.
Sebanyak 17 orang berhasil dievakuasi hidup-hidup, meski beberapa mengalami luka akibat paparan material vulkanik dan sesak napas.
Namun tiga lainnya dinyatakan hilang.
Korban pertama ditemukan tertimbun pasir vulkanik sekitar 50 meter dari bibir kawah.
Sementara dua pendaki asal Singapura ditemukan dalam kondisi mengerikan di bawah batu besar sekitar 13 meter dari kawah aktif.
Tim SAR menyebut keduanya ditemukan saling berpelukan. Tubuh mereka disebut sudah tidak utuh akibat dampak erupsi dan panas ekstrem.
Gunung Dukono, Gunung “Tak Pernah Tidur” yang Sangat Berbahaya
Banyak orang mengenal Gunung Dukono sebagai salah satu gunung paling aktif di Indonesia.
Gunung dengan ketinggian sekitar 1.335 meter di atas permukaan laut itu termasuk gunung api Tipe A dengan sejarah letusan panjang sejak tahun 1600-an.
Yang mengerikan, erupsi Dukono sering terjadi hampir setiap hari.
Sepanjang 2025, Dukono bahkan masuk daftar empat gunung paling aktif di Indonesia bersama Gunung Semeru, Gunung Ibu, dan Gunung Lewotobi Laki-Laki.
Karakter erupsinya juga sangat berbahaya karena bisa terjadi tiba-tiba tanpa gempa vulkanik besar sebagai tanda awal.
Material abu, batu pijar, gas beracun, hingga badai petir vulkanik dapat muncul sewaktu-waktu.
Itulah sebabnya PVMBG berkali-kali menegaskan bahwa kawasan sekitar kawah bukan destinasi wisata biasa.
Budaya FOMO dan Konten Viral Disebut Jadi Pemicu
Tragedi ini juga membuka kembali perdebatan soal budaya FOMO di kalangan pendaki muda.
Dalam beberapa tahun terakhir, video erupsi dari bibir kawah Gunung Dukono kerap viral di TikTok, Instagram, hingga X.
Banyak pendaki sengaja mendekati kawah aktif demi mendapatkan video dramatis dan sensasi ekstrem. Padahal, risiko kematian mengintai setiap saat.
Salah satu video viral bahkan memperlihatkan detik-detik sebelum erupsi besar terjadi. Para pendaki tampak tertawa dan merekam semburan abu dari jarak sangat dekat sebelum akhirnya situasi berubah menjadi kepanikan.
Narasi “menaklukkan gunung” kini dianggap bergeser menjadi ajang mencari validasi media sosial.
Warganet Murka: “Alam Tidak Bisa Diajak Bercanda”
Kolom komentar media sosial dipenuhi kritik keras terhadap pendaki ilegal yang nekat menerobos larangan. Banyak yang menyebut tragedi ini sebenarnya bisa dicegah jika aturan dipatuhi, seperti diktip dari akun Instagram @am.ira7034, Senin (11/5/2026).
“Kebanyakan pendaki sekarang cuma FOMO demi konten. Alam itu bukan tempat cari validasi,” tulis akun @chr***
“Erupsi keluar cepat begitu, memang sempat lari? Kok malah ditonton,” komentar akun @dyk***
“Kawah itu bisa runtuh kapan saja. Orang-orang terlalu meremehkan gunung aktif,” tulis akun @mr***
Komentar-komentar tersebut viral dan memicu diskusi luas soal rendahnya literasi kebencanaan di kalangan wisatawan ekstrem.
Tragedi Dukono Jadi Alarm Nasional
Peristiwa ini mengingatkan publik pada tragedi Erupsi Gunung Marapi 2023 yang menewaskan puluhan pendaki beberapa tahun lalu. Indonesia memang berada di kawasan cincin api dunia dengan lebih dari 120 gunung api aktif.
Namun ironisnya, banyak wisatawan masih menganggap erupsi sebagai tontonan eksotis, bukan ancaman mematikan.
BNPB kini meminta seluruh wisatawan mematuhi rekomendasi resmi PVMBG sebelum melakukan aktivitas pendakian.
Pemerintah juga berencana memperketat pengawasan jalur pendakian menggunakan sistem pelacakan GPS dan sanksi tegas bagi pendaki ilegal.
Tragedi Gunung Dukono menjadi pengingat pahit bahwa alam tidak pernah bisa diprediksi.
Gunung aktif bukan arena adrenalin.
Satu keputusan nekat bisa berubah menjadi petaka yang tak lagi bisa diperbaiki.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










