bukamata.id – Harum bedak bayi dan suara tangis kecil seharusnya menjadi melodi paling indah bagi seorang ibu yang baru saja menyambut buah hatinya ke dunia. Namun, bagi Nina Saleha, aroma itu kini berkelindan dengan rasa trauma yang pekat, sesak, dan menghantui setiap embusan napasnya. Di koridor Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, sebuah drama horor dunia nyata nyaris merenggut masa depan keluarganya. Sebuah insiden yang kini menjadi sorotan nasional: bayi yang nyaris tertukar—atau lebih tepatnya, bayi yang nyaris dibawa pulang oleh tangan yang salah melalui prosedur yang dianggap “cacat.”
Kejadian yang berlangsung pada Rabu (8/4/2026) ini meledak di jagat maya setelah Nina mengunggah kegelisahannya melalui akun TikTok @nindy5760. Dalam hitungan jam, video tersebut menembus angka lebih dari 1,2 juta penonton. Publik terhenyak, marah, dan skeptis. Bagaimana mungkin sebuah rumah sakit rujukan utama di Jawa Barat, sebuah institusi “plat merah” yang seharusnya menjadi standar emas pelayanan kesehatan, bisa mengalami “lubang” prosedur yang begitu fatal?
Detik-detik Menegangkan: “Itu Anak Saya!”
Semuanya bermula dari harapan yang membuncah. Bayi Nina sedang menjalani perawatan di ruang NICU Gedung Kesehatan Ibu dan Anak RSHS karena kondisi bayi kuning (ikterus) setelah lahir. Setelah lima hari menjalani terapi sinar yang melelahkan bagi perasaan seorang ibu baru, kabar gembira itu datang: bayi Nina diperbolehkan pulang.
Nina menunggu dengan sabar proses administrasi yang kerap kali panjang dan berliku. Di tengah penantian, ia sempat meninggalkan ruangan sejenak untuk mengisi perut, sebuah kebutuhan manusiawi setelah berhari-hari terjaga. Namun, insting seorang ibu memang tak pernah meleset; ia memiliki semacam radar batin yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Saat kembali ke ruang perawatan, dunianya seolah runtuh dalam sekejap. Ia melihat bayinya—darah dagingnya sendiri—berada di dekapan seorang wanita asing yang juga sedang menunggu proses kepulangan anaknya.
“Saya kaget karena melihat bayi saya sudah digendong orang lain. Saya kenali dari pakaian dan selimutnya,” ungkap Nina dengan nada gemetar dalam video yang beredar luas.
Ketegangan memuncak di koridor rumah sakit yang dingin. Nina tidak tinggal diam. Ia segera menghampiri wanita tersebut dan memastikan bahwa bayi yang digendong itu adalah miliknya. Ia mengenali setiap detail kecil yang seringkali luput dari pandangan orang lain: arah lipatan topi, corak baju, hingga kelembutan selimut yang ia siapkan sendiri dengan penuh cinta dari rumah.
“Saya lihat ada ibu yang sudah menggendong bayi. Saya perhatikan bajunya, selimutnya, topinya, kok mirip. Pas saya lihat wajahnya, ternyata itu anak saya,” tuturnya saat ditemui di kediamannya di Jalan Terusan Nanjung, Kota Cimahi.
Nina langsung berteriak histeris, mengklaim haknya sebagai ibu. “Itu anak saya!” serunya di hadapan petugas, sebuah teriakan yang lahir dari kedalaman rasa takut kehilangan yang paling purba.
Alibi yang Menyakitkan: “Tadi Sudah Dipanggil”
Yang membuat Nina semakin meradang—bahkan melampaui rasa takutnya—adalah jawaban dari pihak perawat saat ia melayangkan protes keras. Alih-alih mendapatkan penjelasan sistematis atau permintaan maaf yang tulus saat itu juga, ia justru mendapatkan alasan yang menurutnya tidak masuk akal untuk urusan nyawa seorang manusia. Perawat berdalih bahwa mereka telah memanggil nama Nina, namun karena tidak ada respons, bayi tersebut diserahkan kepada ibu lain yang kebetulan ada di lokasi.
Bagi Nina, penjelasan ini adalah penghinaan terhadap logika keamanan pasien. Bagaimana mungkin identitas seorang bayi hanya divalidasi melalui “panggilan suara” tanpa verifikasi dokumen resmi, KTP, atau gelang identitas yang masih melingkar di pergelangan kaki atau tangan sang bayi?
“Suster bilang tadi sudah dipanggil nama saya, tapi tidak ada respons, jadi bayinya diberikan ke ibu itu,” ujar Nina menirukan ucapan petugas.
Tragedi ini menjadi semakin kelam saat Nina mengetahui bahwa prosedur keamanan paling dasar telah dilanggar secara sadar. Gelang identitas yang seharusnya menjadi bukti sah hubungan ibu dan anak diduga telah dilepas sebelum bayi itu dipastikan berada di tangan yang benar.
“Bahkan saya dengar gelang identitasnya sudah digunting. Itu yang membuat saya semakin kaget. Saya protes, kenapa bisa begitu saja diberikan. Anak saya sudah ada di luar, padahal surat kepulangan belum ada, belum resmi keluar,” tegasnya dengan mata berkaca-kaca.
Nina menekankan bahwa ini bukan sekadar masalah administrasi yang salah input. Ia merasa identitas bayinya ditiadakan begitu saja oleh kelalaian petugas. “Saya bilang, ini bukan hal kecil, ini anak saya,” katanya. Namun, alih-alih dirangkul, ia mengaku diminta untuk tenang dengan cara yang menurutnya tidak simpatik. “Responsnya hanya minta maaf. Tidak ada penjelasan detail. Malah saya diminta untuk tidak berisik,” tambahnya dengan nada penuh kekecewaan.
Trauma Sang Ayah dan Kejanggalan “Pihak Kedua”
Rizky (28), suami Nina, juga tak kalah terguncang. Saat insiden terjadi, ia sedang berada di toilet. Begitu kembali, ia mendapati istrinya sudah menangis histeris dikerumuni orang. Sebagai kepala keluarga, ia mencoba berkomunikasi dengan ibu yang sempat menggendong bayinya untuk mencari tahu apakah ada unsur kesengajaan atau murni kekeliruan.
“Iya, sempat ngobrol. Dia bilang mengira itu anaknya, karena anaknya sendiri belum dipakaikan baju, katanya masih di dalam,” jelas Rizky.
Penjelasan ini justru menyisakan tanda tanya besar di benak publik. Bagaimana bisa seorang ibu menerima bayi yang mengenakan pakaian dan selimut yang sepenuhnya berbeda dengan miliknya tanpa merasa ada yang aneh? Meski begitu, Rizky memilih untuk tetap berkepala dingin, walaupun api kekecewaannya terhadap manajemen rumah sakit tetap menyala.
“Kalau perasaan sih kaget, ya. Soalnya saya tidak tahu kronologinya dari awal. Harapannya, pihak rumah sakit bisa datang langsung ke rumah untuk memberikan penjelasan dan konfirmasi. Tidak mungkin saya yang ke sana, karena bukan saya yang salah,” tegas Rizky.
Oknum Senior dan Desakan Sanksi Tegas
Skandal ini menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM). Melalui sambungan telepon yang diunggah di kanal pribadinya, KDM mencecar pihak manajemen RSHS mengenai bagaimana sistem keamanan di ruang bayi bisa sekeropos itu. Jawaban dari pihak rumah sakit justru membuka tabir baru yang lebih mengejutkan: pelakunya adalah orang dalam yang sudah sangat berpengalaman.
Arif, Asisten Manajer Keperawatan RSHS, memberikan pengakuan yang membuat banyak orang mengelus dada.
“Itu oknum, Pak. Kebetulan yang bersangkutan itu pegawai kami yang sudah senior, sudah 20 tahun lebih bekerja di sana,” ujar Arif dalam percakapan tersebut.
Fakta ini memicu amarah publik. Jika pegawai dengan masa kerja 20 tahun saja bisa melakukan kesalahan sefatal menggunting gelang identitas dan menyerahkan bayi ke orang yang salah, lantas bagaimana dengan pengawasan internal mereka? KDM secara tegas mendesak agar pihak rumah sakit tidak hanya memberikan sanksi administratif formalitas.
Tuntutan yang muncul mencakup:
- Pemecatan: Sanksi berat harus dijatuhkan jika terbukti ada unsur kesengajaan atau kelalaian berat yang membahayakan nyawa dan hak sipil pasien.
- Evaluasi Total: Meninjau kembali seluruh SOP di unit sensitif seperti NICU dan ruang bersalin.
- Pemulihan Psikologis: RSHS wajib memastikan trauma yang dialami Nina Saleha mendapatkan penanganan medis dan psikologis yang tuntas.
Luka yang Belum Mengering
Meski pada Kamis malam (9/4/2026) pihak manajemen RSHS akhirnya mengeluarkan rilis resmi yang berisi permohonan maaf dan klaim bahwa masalah telah diselesaikan secara kekeluargaan, luka di batin Nina tidak bisa menutup begitu saja.
“Segenap manajemen RSUP Dr. Hasan Sadikin menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya atas ketidaknyamanan peristiwa yang dialami oleh anak Ibu Nina Saleha…” tulis rilis tersebut.
Namun, bagi seorang ibu yang nyaris kehilangan anaknya, kata “nyaman” terasa sangat dangkal untuk menggambarkan situasi tersebut. Ini bukan soal kenyamanan kursi tunggu, ini soal keberadaan seorang anak. Hingga hari ini, bayang-bayang kehilangan itu masih menghantui malam-malam Nina. Setiap kali bayinya menangis, ingatan tentang tangan asing yang menggendong anaknya kembali menyeruak.
“Pasca kejadian tersebut, saya masih kepikiran terus. Sampai sekarang juga belum bisa tidur,” ucap Nina lirih.
Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi seluruh institusi kesehatan di Indonesia. Bayi bukan sekadar “objek” atau “nomor antrean” yang bisa dipanggil lalu diserahkan tanpa verifikasi berlapis. Di era digital ini, transparansi adalah harga mati. Masyarakat tidak lagi hanya menuntut permintaan maaf, tetapi menuntut bukti bahwa sistem telah diperbaiki.
Bagi Nina dan keluarganya, mereka mungkin telah mendapatkan bayinya kembali secara fisik. Namun, rasa aman yang hilang di dalam gedung megah RSHS itu tampaknya membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk pulih. Kasus ini bukan hanya tentang bayi yang nyaris tertukar, tetapi tentang betapa rapuhnya perlindungan terhadap kehidupan yang baru saja dimulai jika hanya disandarkan pada selembar alibi “tadi sudah dipanggil.”
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










