bukamata.id – Peristiwa memilukan terjadi di jalur pendakian Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pada Sabtu (11/4/2026).
Gunung Ungaran merupakan gunung berapi bertipe stratovolcano yang sudah tidak aktif dan telah mengalami erosi cukup lanjut. Di kawasan sekitarnya terdapat destinasi populer seperti Bandungan dan kompleks wisata sejarah Candi Gedong Songo, serta Danau Rawa Pening di bagian tenggara gunung.
Baru-baru ini, seorang balita perempuan berusia 1,5 tahun dilaporkan mengalami hipotermia setelah ikut orang tuanya melakukan pendakian di tengah perubahan cuaca ekstrem yang terjadi secara tiba-tiba.
Kondisi darurat tersebut terjadi di kawasan Puncak Bondolan ketika hujan deras disertai penurunan suhu drastis melanda area pegunungan.
Tubuh mungil korban yang tidak mampu menahan dinginnya suhu ekstrem membuatnya terus menangis dan menunjukkan tanda-tanda kedinginan serius.
Tim SAR gabungan dari Basarnas yang tengah bersiaga dalam kegiatan Semarang Mountain Race langsung bergerak cepat setelah menerima laporan di lapangan.
“Tim SAR yang sedang siaga langsung menuju lokasi dan melakukan penanganan awal untuk menstabilkan kondisi korban,” demikian keterangan Basarnas melalui unggahan video resminya.
Penanganan Cepat di Lokasi Puncak Bondolan
Setibanya di lokasi, petugas segera melakukan tindakan penyelamatan darurat, termasuk menghangatkan tubuh balita menggunakan perlengkapan evakuasi standar seperti emergency blanket. Langkah ini dilakukan untuk mencegah kondisi korban semakin memburuk akibat paparan suhu dingin ekstrem.
Setelah kondisi mulai stabil, tim SAR kemudian mengevakuasi balita tersebut bersama kedua orang tuanya turun menuju Basecamp Perantunan untuk mendapatkan pemeriksaan medis lanjutan.
“Setelah penanganan awal, korban berhasil dievakuasi turun dengan kondisi lebih stabil,” tulis keterangan Basarnas.
Identitas Korban dan Kronologi Kejadian
Balita tersebut diketahui bernama Lan Lan, warga kawasan Candi Golf, Tembalang, Kota Semarang. Peristiwa bermula saat keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak tersebut memulai pendakian sekitar pukul 14.00 WIB.
Namun cuaca yang semula cerah berubah drastis menjadi hujan deras disertai angin kencang. Kondisi ini membuat suhu tubuh balita turun dengan cepat hingga mengalami gejala hipotermia.
Viral di Media Sosial, Warganet Beri Respons Beragam
Kejadian ini kemudian viral di berbagai platform media sosial setelah diunggah ulang oleh sejumlah akun, termasuk Instagram @kabarungaran. Video tersebut memperlihatkan proses evakuasi balita oleh tim SAR yang dibalut selimut darurat dan digendong menuruni jalur pendakian.
Beragam komentar warganet pun bermunculan, banyak di antaranya menyoroti pentingnya keselamatan anak dalam aktivitas alam terbuka.
“Punya anak balita itu harus ekstra hati-hati, jangan sampai ego orang tua mengalahkan keselamatan anak,” tulis salah satu pengguna Instagram.
Komentar lain juga menekankan pentingnya edukasi pendakian yang aman bagi keluarga.
“Anak kecil sebaiknya jangan dulu diajak ke medan ekstrem. Bisa mulai dari camping ground dulu,” tulis warganet lainnya.
BPBD Jateng: Korban Sudah Pulang dalam Kondisi Selamat
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, membenarkan kejadian tersebut. Ia memastikan bahwa balita sudah kembali ke rumah dalam kondisi selamat setelah mendapatkan penanganan.
“Balita sudah turun dari basecamp dan sudah dibawa pulang oleh orang tuanya dalam kondisi selamat,” ujarnya.
Evaluasi Keselamatan Pendakian Anak di Gunung
Pihak pengelola basecamp menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi bahan evaluasi penting terkait aturan pendakian, khususnya bagi pendaki yang membawa anak kecil.
Saat ini, pihak basecamp mulai mempertimbangkan pembatasan usia pendaki demi keselamatan di jalur Gunung Ungaran, terutama saat kondisi cuaca tidak menentu.
Edukasi: Risiko Hipotermia di Gunung Tidak Boleh Dianggap Sepele
Hipotermia merupakan kondisi berbahaya yang terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah batas normal akibat paparan udara dingin ekstrem. Di kawasan pegunungan, kondisi ini dapat terjadi lebih cepat akibat hujan, angin kencang, serta minimnya perlindungan tubuh.
Tanpa penanganan cepat, hipotermia dapat berujung pada kondisi kritis hingga mengancam nyawa, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa aktivitas pendakian bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan kegiatan yang membutuhkan persiapan matang, pengalaman, serta pemahaman risiko.
Keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama, terutama saat melibatkan anak-anak dalam lingkungan ekstrem seperti pegunungan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










