bukamata.id – Dinamika politik di internal Pemerintah Kabupaten Purwakarta mendadak memanas. Wakil Bupati Purwakarta, Abang Ijo Hapidin, secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya terhadap pola kepemimpinan Bupati Saepul Bahri Binzein (Om Zein). Melalui akun Instagram resminya @abangijo.hapidin, orang nomor dua di Purwakarta ini menyoroti adanya jurang perbedaan prinsip, terutama dalam menghadapi praktik pungutan liar (pungli) dan korupsi dana bantuan.
Abang Ijo secara tersirat menilai bahwa ketegasan yang ia upayakan sering kali kandas akibat kebijakan Bupati yang dianggap terlalu permisif terhadap oknum pelanggar aturan.
Kronologi Intervensi Kasus: Dari Cirata hingga Dana PIP
Dalam unggahan video yang viral tersebut, Abang Ijo membedah dua peristiwa konkret di mana kebijakan antara Bupati dan Wakil Bupati saling berbenturan:
1. Prahara Pungli di Bendungan Cirata
Abang Ijo menceritakan bagaimana tindakan tegas kepolisian terhadap oknum pungli di kawasan wisata Cirata justru berakhir antiklimaks.
“Bang Jo dapat masalah pungli yang ada di Bendungan Cirata, masyarakat baru mampir saja sudah dipungut biaya, akhirnya masyarakat memvideokan, melaporkan ke Polres hingga pada waktu itu jajaran Polres menangkap oknum pungli tersebut. Tidak lama kemudian Pak Bupati panggil, dibebaskan,” ujar Abang Ijo, Selasa (21/4/2026).
Ia menekankan bahwa tanpa sanksi yang nyata, edukasi terhadap masyarakat tidak akan berjalan efektif.
2. Penyelewengan Program Indonesia Pintar (PIP)
Kasus kedua menyasar sektor pendidikan. Saat melakukan sidak, Abang Ijo menemukan oknum operator yang diduga menilap dana bantuan siswa. Namun, alih-alih diproses secara hukum, oknum tersebut justru dikabarkan mendapatkan perlakuan istimewa.
“Tadinya Bang Jo mau tindak lanjuti ke pihak berwajib dan akhirnya dipanggil bagi-bagi oleh Bupati ke rumahnya, bahkan diberikan uang oleh Bupati langsung. Ada jejak digitalnya gitu kan. Nah Bang Jo nggak sepakat karena kita ini pemimpin yang harus dewasa setiap mengambil kebijakan, keputusan pada dasarnya harus berpihak kepada masyarakat,” tegasnya.
Darurat Sosial: Premanisme, Narkoba, dan Etika Remaja
Kritik Abang Ijo tidak berhenti pada urusan birokrasi. Ia memberikan rapor merah terhadap kondisi sosial di Purwakarta saat ini. Mulai dari merosotnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga degradasi moral di kalangan generasi muda yang ia nilai sudah dalam tahap mengkhawatirkan.
Ia menegaskan bahwa “nyanyiannya” di media sosial bukanlah bentuk perselisihan pribadi, melainkan wujud tanggung jawab moral sebagai pemimpin.
“Apakah itu bentuk kebencian terhadap Bupati? Bukan. Wajib kita ingatkan karena kita ini berdua yang sama-sama harus mengingatkan dewasa,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, Abang Ijo berjanji tidak akan menutupi borok yang ada demi perbaikan tata kelola pemerintahan ke depan.
“Masih banyak hal yang harus dibenahi di Purwakarta ini tuh dari mulai tata kelola pemerintahan, pendapatan daerah untuk membangun Purwakarta, banyak hal pemberantasan premanisme, narkoba, minuman keras, terus banyak anak-anak kita yang hari ini kita bisa lihat langsung miris banget tidak punya sopan etika terhadap gurunya, banyak anak-anak muda menjadi geng motor tawuran. Masih banyak hal, (saya tidak) akan menutup-nutupi keadaan,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









