Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Banjir Item Gratis! Klaim Kode Redeem FF Hari Ini Sabtu 6 Juni 2026 Sebelum Kehabisan

Sabtu, 6 Juni 2026 09:05 WIB

Pecah Rekor Konflik Artis: Kronologi Lengkap Badai Pascacerai Ruben Onsu dan Sarwendah

Sabtu, 6 Juni 2026 08:38 WIB
Garena Free Fire

Buruan Klaim! Kode Redeem FF Terbaru 6 Juni 2026, Amankan Hadiah Skin Senjata dan Bundel Gratis

Sabtu, 6 Juni 2026 06:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Banjir Item Gratis! Klaim Kode Redeem FF Hari Ini Sabtu 6 Juni 2026 Sebelum Kehabisan
  • Pecah Rekor Konflik Artis: Kronologi Lengkap Badai Pascacerai Ruben Onsu dan Sarwendah
  • Buruan Klaim! Kode Redeem FF Terbaru 6 Juni 2026, Amankan Hadiah Skin Senjata dan Bundel Gratis
  • Cut Salwa Viral di TikTok, Warganet Cari Link Video Telegram
  • Jadwal Pencairan PKH dan BPNT Juni 2026: Cek Besaran dan Syarat Penerima
  • Viral di TikTok, Video Cut Salwa Jadi Perbincangan Publik, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
  • Belum Dapat Bansos? Tenang, Ada Pencairan Susulan PKH dan BPNT di Bulan Juni 2026
  • Link Video Cut Salwa Ramai Diburu Netizen, Isinya Bikin Penasaran!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 6 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Pecah Rekor Konflik Artis: Kronologi Lengkap Badai Pascacerai Ruben Onsu dan Sarwendah

By Aga GustianaSabtu, 6 Juni 2026 08:38 WIB9 Mins Read
Sarwebdah dan Ruben Onsu. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Dahulu, mereka adalah cetak biru dari apa yang disebut publik sebagai family goals. Ruben Onsu dengan etos kerja yang tak pernah padam, dan Sarwendah dengan citra keibuan yang bersahaja—kerap tampil mengenakan daster saat mengurus rumah tangga. Namun, biduk pernikahan yang karam ternyata tidak otomatis menghentikan badai. Pascaperceraian resmi mereka, hubungan yang semula terlihat adem-ayem justru meledak menjadi perang terbuka di panggung publik.

Bukan lagi sekadar riak-riak kecil perselisihan mantan suami-istri, konflik ini telah bereskalasi menjadi polemik besar. Di dalamnya berkelindan isu hak asuh, uang nafkah fantastis sebesar Rp 225 juta per bulan, kehadiran orang ketiga, saling sindir bernada miring, makian kasar saat live shopping, hingga puncaknya: gerakan boikot massal dari netizen.

Bagaimana sebuah perpisahan yang awalnya diupayakan damai bisa berubah menjadi bola liar pembunuhan karakter? Berikut adalah kronologi lengkap dan mendalam dari hulu ke hilir mengenai konflik panas antara Ruben Onsu dan Sarwendah.

Perjanjian di Atas Kertas yang Dilanggar (Awal Pascaperceraian)

Akar dari seluruh kekacauan ini bermula dari satu hal yang paling sensitif bagi setiap orang tua: waktu bersama anak. Ketika palu hakim diketuk dan perceraian mereka disahkan, Ruben dan Sarwendah sebenarnya telah mengikatkan diri pada sebuah perjanjian bersama terkait pengasuhan ketiga anak mereka, yakni Betrand Peto, Thalia Onsu, dan Thania Onsu.

Berdasarkan dokumen hukum dan kesepakatan pascacere, pembagian waktu pertemuan diatur dengan skema empat-tiga. Artinya, dalam satu minggu, Ruben Onsu memiliki hak mutlak untuk bertemu, berkumpul, dan menginap bersama anak-anaknya selama dua hingga tiga hari.

Namun, di lapangan, teori tak seindah praktik. Pihak Ruben mulai merasakan adanya tembok tebal yang menghalangi jalannya pertemuan tersebut. Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, menjadi orang pertama yang membuka tabir ini ke publik.

“Mengenai masalah anak itu dalam perjanjian sudah tegas tertulis dan tercantum bahwa dalam satu minggu, Ruben memiliki waktu untuk ketemu dan berkumpul dengan anaknya dua sampai tiga hari… tetapi faktanya kan juga tidak sesuai bahkan dari awal perceraian mereka,” ujar Minola dalam sebuah wawancara mendalam di akhir Mei 2026.

Minola menegaskan bahwa anak bukanlah komoditas atau benda mati yang bisa dimonopoli salah satu pihak. Anak memiliki hak emosional untuk mendapatkan kasih sayang yang utuh dari ayah kandungnya. Dalam pandangan kubu Ruben, Sarwendah sebagai pemegang hak asuh utama dituding tidak kooperatif dan gagal memberikan arahan kepada anak-anak agar memprioritaskan waktu bersama ayahnya ketimbang agenda lain, seperti bermain dengan teman atau kerabat.

Kekecewaan Ruben dan Ruang Komunikasi yang Buntu

Melihat situasi yang kian menyulitkan, Ruben Onsu tidak tinggal diam. Presenter kondang ini mengaku telah berkali-kali menurunkan ego dan mencoba menghubungi anak-anaknya secara langsung. Namun, setiap kali komunikasi diinisiasi, jawaban yang diterima selalu berubah-ubah dengan dalih kesibukan anak-anak.

Rasa frustrasi Ruben pun memuncak. Di hadapan media, dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan kesedihan, ia meluapkan kekecewaannya. Bagi Ruben, statusnya sebagai mantan suami Sarwendah adalah realitas yang sudah ia terima, tetapi statusnya sebagai ayah tidak akan pernah ada masa kedaluwarsanya.

Baca Juga:  Sikap Tak Terduga Betrand Peto di Tengah Isu Prahara Ruben Onsu dan Sarwendah

“Sejujurnya, kami juga sudah selesai, sudah berpisah. Jadi tidak ada lagi sebenarnya kebersamaan itu dalam kehidupan kami. Tetapi kalau anak tetap ada dalam kehidupan saya sampai kapan pun,” tutur Ruben lirih.

Kondisi diperparah karena jangankan untuk bertemu fisik dan menginap, untuk sekadar melakukan panggilan video (video call) saja, Ruben mengaku sangat kesulitan. Komunikasi dua arah antara dirinya dan Sarwendah dicap telah berada di titik nadir atau “tidak baik”. Ruben merasa ada upaya sistematis yang membuatnya perlahan berjarak dari darah dagingnya sendiri.

Bayang-bayang Giorgio Antonio dan Ketakutan Ayah Kandung

Di tengah mandeknya akses pertemuan, situasi semakin memanas dengan munculnya sosok baru di lingkaran terdekat Sarwendah. Pria tersebut adalah Giorgio Antonio, yang santer dikabarkan sebagai kekasih baru mantan personil Cherrybelle tersebut.

Kehadiran Giorgio di tengah-tengah ketiga anak Ruben memicu alarm kewaspadaan yang tinggi bagi Ruben. Bukan karena urusan asmara sang mantan istri, melainkan karena dampaknya terhadap psikologis anak-anaknya yang masih di bawah umur. Ruben menilai, mengenalkan sosok pria lain secara intim kepada anak-anak tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah adalah langkah yang terlalu dini dan berisiko.

“Kalau itu sudah menikah, kalau ini kan belum. Jadi saya rasa ada batasnya ya… Kalau itu berjodoh, alhamdulillah, tetapi kalau enggak kan nanti tanggapan dari anak-anak beda lagi,” cetus Ruben memperingatkan.

Ketakutan terbesar Ruben, sebagaimana yang disampaikan oleh Minola Sebayang, adalah terjadinya alienasi orang tua (parental alienation). Ruben khawatir, dengan dibatasinya komunikasi dengannya sementara di sisi lain anak-anak terus didekatkan dengan Giorgio, ikatan emosional antara ayah dan anak akan terkikis habis.

Ruben didera kecemasan bahwa anak-anaknya akan tumbuh dengan persepsi keliru—menganggap bahwa ayahnya tidak lagi peduli dan menelantarkan mereka. Lebih jauh, Ruben takut anak-anaknya secara tidak sengaja “dizalimkan” untuk membenci ayah kandung mereka sendiri hingga dicap sebagai anak durhaka. Pihak Ruben juga menyayangkan sikap Sarwendah yang justru kerap memamerkan kedekatan anak-anak dengan Giorgio di media sosial, lalu menepis kekhawatiran Ruben dengan menuduhnya sekadar “cemburu”.

Protes Keras Lewat Penghentian Nafkah Rp 225 Juta

Merasa hak-haknya sebagai ayah terus diabaikan sementara kewajibannya dituntut tanpa cela, Ruben Onsu akhirnya mengambil keputusan ekstrem. Ia memutuskan untuk memainkan kartu terakhirnya sebagai bentuk perlawanan: menghentikan gelontoran nafkah anak.

Langkah radikal ini mengejutkan publik, mengingat selama ini Ruben dikenal sangat royal. Minola Sebayang kemudian membongkar nilai nafkah yang selama ini dikeluarkan Ruben, sebuah angka yang fantastis: Rp 225 juta per bulan.

Angka tersebut bukan hanya mencakup biaya pendidikan berstandar internasional dan kebutuhan pokok, melainkan juga segala tetek-bengek tagihan rumah tangga yang diajukan oleh pihak Sarwendah. Bahkan, Minola menyentil salah satu pengeluaran yang dianggap tidak masuk akal untuk urusan anak.

Baca Juga:  GEGER! Nama Sarwendah Terseret Isu Misteri Gunung Kawi, Ternyata Ini Fakta Sebenarnya!

“Coba uang plastik sampah yang sampai Rp 9 juta per bulan itu masuk enggak dengan urusan pemeliharaan dan pendidikan anak? Tetapi, karena Ruben berusaha bertanggung jawab ya dia bayar,” tukas Minola gusar.

Penghentian nafkah ini diakui telah berjalan selama enam bulan, terhitung sejak Desember 2025. Ruben menegaskan aksi mogok bayar ini bukanlah karena ia bangkrut atau pelit, melainkan sebuah aksi protes sosiologis. Ruben ingin mengirimkan pesan yang jelas: jika kewajibannya dituntut berjalan, maka haknya untuk memeluk anak-anaknya selama tiga hari dalam seminggu juga harus dipenuhi.

Kubu Ruben juga membantah keras jika disebut memutuskan komunikasi. Mereka mengklaim memiliki bukti digital yang solid bahwa Ruben terus berupaya bicara dengan Sarwendah, namun Sarwendah selalu melempar bola panas dengan meminta Ruben langsung bicara pada anak-anaknya—sebuah tindakan yang dinilai sebagai upaya “cuci tangan”.

“Tetapi giliran minta uang dengan alasan biaya anak bertahun-tahun, dia enggak minta anaknya meminta pada Ruben, tetapi S sendiri yang minta uangnya,” sindir Minola tajam. Begitu geramnya Ruben dengan polemik nafkah ini, ia bahkan melontarkan tantangan terbuka: jika Sarwendah merasa tidak sanggup lagi membiayai anak-anak tanpa uang darinya, Ruben siap mengambil alih hak asuh sepenuhnya dan membesarkan mereka dengan keringatnya sendiri.

Ledakan Emosi di Live Shopping dan Seruan Boikot Netizen

Memasuki awal Juni 2026, perseteruan yang awalnya bergulir di ranah hukum dan pernyataan kuasa hukum bergeser ke media sosial. Menjadi sasaran kritik netizen terkait polemik uang bulanan dan pembatasan anak membuat benteng kesabaran Sarwendah runtuh.

Dalam beberapa sesi live streaming pribadi di TikTok dan Instagram, Sarwendah mulai menunjukkan resistensi emosional. Ia melontarkan kalimat sindiran yang meremehkan nominal nafkah dari Ruben Onsu.

“Rp 200 juta itu berapa kali live sih, oh my god. Rp 200 juta apa sih, berapa sih Rp 200 juta,” ujarnya dengan nada meremehkan yang langsung viral.

Situasi kian keruh ketika Sarwendah, dalam potongan video lainnya, mulai menyinggung isu sensitif yang diduga kuat menyerang personalitas dan orientasi seksual Ruben Onsu. Menggunakan istilah slang yang konotatif, ia berujar, “Enggak lah mengharapkan laki-laki apalagi cong… Dahulu gue juga enggak bisa bedain antara laki-laki sama cong. Sekarang gue udah bisa bedain.”

Puncak dari segala kontroversi ini terjadi saat Sarwendah melakukan sesi live shopping untuk menjual produk bisnisnya bersama Giorgio Antonio. Dicecar berulang kali oleh netizen di kolom komentar mengenai kebaikan Ruben dan uang Rp 225 juta, Sarwendah kehilangan kendali. Di depan kamera yang ditonton ribuan orang, ia berteriak kasar.

“Gue juga enggak butuh duit elo, anj*ng!”

Kata makian yang sangat kasar itu instan menjadi blunder terbesar bagi karier Sarwendah. Publik yang selama ini melihatnya sebagai sosok ibu yang lembut dan anggun merasa tertipu oleh personal branding-nya. Netizen menilai ucapan tersebut sangat tidak beretika, terlebih ditujukan kepada ayah dari anak-anaknya yang telah membiayai kehidupan mereka selama bertahun-tahun.

Reaksi balik dari masyarakat luar biasa masif. Di berbagai platform media sosial seperti X (dahulu Twitter), TikTok, dan Instagram, menggema gerakan untuk memboikot seluruh produk yang dijual atau dipromosikan oleh Sarwendah. Lapak-lapak dagangannya sepi pembeli dan dipenuhi sanksi sosial berupa komentar pedas. Publik sepakat untuk memberikan pelajaran ekonomi atas runtuhnya etika sang figur publik.

Baca Juga:  Konflik Sarwendah dan Ruben Onsu Memanas, Pendiri Cherrybelle Bongkar Fakta Mengejutkan?

Penyesalan yang Terlambat dan Upaya Damai

Menyadari dampak boikot yang mulai menghancurkan imperium bisnis dan reputasinya, Sarwendah akhirnya memilih jalan mundur. Tepat pada Jumat, 5 Juni 2026, melalui unggahan video resmi di akun Instagram pribadinya, ia muncul dengan narasi yang jauh berbeda: tanpa emosi, tanpa makian, melainkan dengan wajah penuh penyesalan.

Sarwendah secara terbuka mengakui bahwa tindakan dan ucapannya di media sosial tempo hari adalah sebuah kesalahan besar yang kurang bijak dan jauh dari nilai kerendahan hati.

“Saya menyadari bahwa kata-kata saya tersebut tidak menunjukkan kebaikan maupun kerendahan hati. Hal-hal yang seharusnya cukup diselesaikan di ruang lebih tenang, kini turut menyita perhatian dan energi dari banyak pihak,” aku Sarwendah dengan nada melunak.

Ia menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada seluruh lapisan masyarakat, warganet, penggemar, serta keluarga besarnya yang ikut menanggung beban psikologis akibat kegaduhan ini. Secara khusus, kalimat maaf paling emosional ia layangkan kepada ketiga anaknya. Ia menyesal karena ego orang dewasa telah menyeret anak-anak yang tidak berdosa ke dalam pusaran berita negatif di media massa.

Sebagai penutup dari klarifikasinya, Sarwendah berjanji akan menjadikan momen ini sebagai tamparan keras untuk belajar menjadi pribadi yang lebih berhati-hati dalam bertutur kata di ruang publik. Ia juga mengetuk pintu hati publik dan media untuk memberikannya waktu serta ruang privasi.

Sarwendah menyatakan keinginannya untuk menyelesaikan kemelut pascacere ini dengan Ruben Onsu bukan lagi lewat live media sosial yang penuh amarah, melainkan duduk bersama dengan kepala dingin, penuh kedewasaan, dan secara kekeluargaan demi masa depan anak-anak mereka.

Akhir Kata: Ujian Hidup dan Kedamaian yang Dicari

Di seberang kubu, Ruben Onsu yang telah telanjur terluka dengan bola liar pembunuhan karakternya selama dua tahun terakhir memilih untuk memasrahkan segalanya. Untuk mengobati rasa rindu yang menyiksa kepada anak-anaknya akibat konflik ini, Ruben mengungkapkan sebuah fakta menyentuh: ia kerap mengunjungi panti asuhan sebelum berangkat bekerja, hanya demi merasakan kehangatan atmosfer anak-anak agar emosi sedihnya tidak terbawa saat ia harus menghibur pemirsa di televisi.

“Ini menjadi ujian hidup saya. Saya hanya bisa bilang masyaallah banget ini… selebihnya saya serahkan sama Allah,” pungkas Ruben.

Konflik Ruben Onsu dan Sarwendah adalah sebuah refleksi nyata bahwa babak akhir dari sebuah pernikahan terkadang jauh lebih melelahkan ketimbang saat menjalaninya. Kini, setelah badai makian, nafkah ratusan juta yang dihentikan, dan ancaman boikot publik mereda, bola spekulasi beralih pada bagaimana kedua insan ini mampu meredam ego mereka demi masa depan tiga hati kecil yang menjadikannya sebagai tumpuan hidup.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Giorgio Antonio Konflik Ruben Sarwendah Minola Sebayang ruben onsu Sarwendah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Banjir Item Gratis! Klaim Kode Redeem FF Hari Ini Sabtu 6 Juni 2026 Sebelum Kehabisan

Garena Free Fire

Buruan Klaim! Kode Redeem FF Terbaru 6 Juni 2026, Amankan Hadiah Skin Senjata dan Bundel Gratis

Cut Salwa Viral di TikTok, Warganet Cari Link Video Telegram

Viral di TikTok, Video Cut Salwa Jadi Perbincangan Publik, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Belum Dapat Bansos? Tenang, Ada Pencairan Susulan PKH dan BPNT di Bulan Juni 2026

Link Video Cut Salwa Ramai Diburu Netizen, Isinya Bikin Penasaran!

Terpopuler
  • Video Cut Salwa Ramai Dicari di TikTok dan X, Ini Fakta yang Sebenarnya
  • Video ‘Rok Hijau Tosca’ 3 Menit Bikin Heboh Warganet, Ternyata Ini yang Terjadi
  • Video ‘Rok Hijau 3 Menit’ Viral, Link Mencurigakan Mulai Menjebak Warganet
  • Geger! Link Video Cut Salwa ‘No Sensor’ Viral Ramai Dicari Warganet
  • Tren Viral TikTok Meledak! Video Misterius Rok Hijau Jadi Buruan Netizen, Waspada Link Palsu
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.