bukamata.id – Kenaikan harga kedelai mulai dirasakan para pedagang tahu dan tempe di pasar tradisional. Salah satunya di Pasar Cicadas, Kota Bandung, di mana pedagang memilih bertahan tanpa menaikkan harga, meski dampaknya mulai menggerus penjualan.
Nonor Norius (45), penjual tahu dan tempe, mengaku harga kedelai mengalami kenaikan dalam sebulan terakhir. Dari sebelumnya sekitar Rp8.900 per kilogram, kini naik menjadi Rp9.900.
“Kalau dinaikkan, konsumennya pada kabur, pada lari,” ujarnya saat ditemui, Senin (27/4/2026).
Meski biaya bahan baku meningkat, Nonor mengaku belum berani menaikkan harga jual. Ia khawatir pelanggan akan beralih atau mengurangi pembelian.
Saat ini, tahu yang dijualnya masih berada di kisaran harga normal, yakni Rp5.000 hingga Rp7.000 per bungkus, tergantung jenisnya. Ia menjual beberapa varian seperti tahu putih, tahu susu, dan tahu keju.
Namun, keputusan menahan harga tersebut berdampak pada penurunan omzet. Ia menyebut penjualan hariannya turun sekitar 30 persen.
“Biasanya terjual lebih dari 100 bungkus per hari. Tapi sekarang ada penurunan,” katanya.
Sementara untuk tempe, Nonor mengaku masih mengambil dari pemasok dengan harga yang relatif stabil, mulai dari Rp5.000 hingga Rp12.000 tergantung ukuran.
Di sisi lain, ia juga merasakan tekanan dari kenaikan harga bahan pokok lain seperti minyak goreng, yang ikut memengaruhi daya beli masyarakat.
“Walaupun begitu, jualan masih tetap berjalan,” ucapnya.
Nonor berharap pemerintah dapat segera menstabilkan harga kedelai agar tidak semakin membebani pedagang kecil.
“Harapannya ke pemerintah, semoga harga kedelai bisa segera turun supaya tidak terlalu berdampak ke pedagang,” pungkasnya.
Kondisi ini mencerminkan dilema yang dihadapi pelaku usaha mikro antara mempertahankan harga demi menjaga pelanggan, atau menyesuaikan harga dengan risiko kehilangan pembeli.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









