bukamata.id– Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya, Jawa Barat, terus berusaha menurunkan angka dengan target zero di tahun 2024 stunting melalui program satu aparatur sipil negara (ASN) satu anak stunting di 69 kelurahan tersebar di 10 kecamatan.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih, mengatakan gerakan yang dilakukan melalui program satu ASN satu anak tujuannya untuk menurunkan angka stunting yang masih tersisa dan semua unsur seperti Dinas Sosial, Keluarga Berencana (KB), Baznas, Babinsa, Polsek agnia dan Posyandu harus terlibat.
“Dalam mengentaskan angka stunting di Kota Tasikmalaya yang dilakukan melalui gerakan satu ASN satu anak stunting dan semua elemen masyarakat termasuk pemberian makan tambahan (PMT) yang diberikannya. Pemberian makanan pada anak harus berimbang seperti masak sayur sop, nasi, telur, daging, bubur kacang ijo, susu dan jeruk supaya berat badan bertambah serta tinggi badan juga meningkat,” jelasnya, Sabtu (13/1) dikutip dari Metro Tv News.
Ia juga mengatakan, angka stunting di wilayahnya mulai mengalami penurunan secara bertahap setelah dilakukan gerakan melalui program satu aparatur sipil negara (ASN) satu anak. Namun gerakan yang dilakukan harus ditangani supaya penanganan anak stunting kembali normal seperti biasa.
Berdasarkan data tahun lalu angka stunting mencapai 5.800 dan sekarang data terakhir 4.767 atau 10,75 persen dan tinggal 4,6 persen dituntaskan.
“Alhamdulillah, program one ASN one anak stunting di Kota Tasikmalaya sudah 691 anak dalam kondisi sudah normal seperti biasa tapi mereka tetap harus dibantu terutama dalam asupan gizi supaya tidak stunting lagi. Akan tetapi, untuk sisanya masih terus dilakukan agar mereka sembuh dari stunting dan paling utama tetap asupan gizi termasuk orang tuanya,” katanya.
Suryaningsih berharap, anak stunting di Tasikmalaya bisa normal kembali dengan adanya program satu ASN satu anak stunting. Meskipun beberapa anak masih terkendala dengan penyakit bawaan (komorbit).
“Mudah-mudahan tahun ini anak stunting bisa normal lagi dan bisa new zero di wilayah Kota Tasikmalaya. Akan tetapi, program satu ASN satu anak masih terdapat kendala terutama ketika anak balita stunting memiliki penyakit bawaan (komorbit) misalnya TB tapi mereka semuanya akan dituntaskan melalui gerakan satu ASN satu anak,” jelasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










