bukamata.id – Kepolisian Daerah Jawa Barat mengamankan lima orang terduga pelaku perburuan liar di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana, Kabupaten Karawang. Penindakan ini dilakukan setelah beredarnya video seekor macan tutul jawa yang terlihat berjalan pincang akibat luka, dan menyita perhatian publik di media sosial.
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan menjelaskan bahwa kelima orang tersebut merupakan individu yang terekam dalam kamera jebak (camera trap) yang terpasang di area hutan. Usai video tersebut viral, aparat kepolisian langsung bergerak melakukan pendalaman hingga akhirnya melakukan penangkapan.
“Begitu informasi kami terima, penyelidikan langsung dilakukan. Tadi malam lima orang yang muncul dalam rekaman tersebut sudah kami amankan dan saat ini sedang menjalani proses hukum,” ujar Rudi, Selasa (27/1/2026).
Rudi menegaskan bahwa Polda Jabar menaruh perhatian serius terhadap upaya perlindungan satwa liar dan keberlangsungan ekosistem hutan di wilayahnya. Menurutnya, kasus ini menjadi pengingat pentingnya penegakan hukum terhadap segala bentuk aktivitas yang merusak alam.
“Yang menjadi fokus kami bukan hanya penindakan, tetapi memastikan kelestarian hutan tetap terjaga dan tidak lagi ada gangguan terhadap ekosistem di dalamnya,” tegasnya.
Ia menambahkan, para terduga pelaku berpotensi dijerat dengan undang-undang terkait lingkungan hidup dan konservasi apabila terbukti melakukan perburuan satwa dilindungi.
Sebelumnya, publik dihebohkan oleh rekaman macan tutul jawa (Panthera pardus melas) yang terlihat pincang saat melintas di hutan Pegunungan Sanggabuana. Video tersebut diketahui berasal dari kamera trap milik Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) yang dipasang di kawasan lereng timur Gunung Sanggabuana.
Pembina SCF, Bernard Triwinarta Wahyu Wiryanta, membenarkan keaslian rekaman tersebut. Ia menyebut data video diperoleh setelah timnya mengambil hasil pemantauan kamera yang telah terpasang selama beberapa bulan.
“Rekaman itu kami temukan saat pengambilan data kamera trap. Kejadiannya diduga terjadi sekitar 5 Oktober 2025. Dalam rekaman lain, terlihat juga beberapa orang yang diduga pemburu melintas dan bahkan mencoba merusak kamera yang kami pasang,” ungkap Bernard.
Kasus ini kini terus dikembangkan oleh pihak kepolisian guna mengungkap dugaan praktik perburuan liar yang mengancam keberadaan satwa langka di Pegunungan Sanggabuana.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









