bukamata.id – Ancaman pergerakan tanah di ruas Tol Cisumdawu KM 177, Dusun Bojongtotor, Desa Sirnamulya, Kecamatan Sumedang Utara, kian memburuk. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendesak agar langkah mitigasi struktural segera diterapkan untuk menghindari kerusakan lebih luas dan risiko terhadap keselamatan masyarakat serta pengguna jalan.
Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, menjelaskan bahwa penanganan awal perlu difokuskan pada sistem drainase. “Langkah mitigasi yang perlu dilakukan, pertama pembenahan sistem drainase bawah permukaan seperti dewatering (pore water pressure reduction), subsurface-geodrain drainage, atau deep well guna mengurangi tekanan pori dalam tubuh lereng,” kata Wafid dalam keterangan resminya dikutip Selasa (24/6/2025). Selain itu, sistem drainase di permukaan lereng juga perlu diperbaiki.
Penguatan Lereng dan Sistem Peringatan Dini
Tak hanya itu, struktur fisik di lereng juga memerlukan penguatan serius. Wafid menyebutkan pentingnya memastikan pondasi bore pile tertanam lebih dalam, menembus hingga ke bawah bidang gelincir, untuk memberikan daya tahan maksimal terhadap pergeseran tanah.
Langkah berikutnya adalah memperbaiki tembok penahan tanah yang sudah rusak dan melakukan revegetasi atau penanaman kembali vegetasi alami untuk mengurangi laju erosi dan rembesan air hujan.
“Lalu dilakukan pemantauan terus, baik menggunakan pendekatan peralatan geodetik dan geoteknik, secara seketika (realtime) untuk memantau apabila terjadi deformasi permukaan maupun bawah permukaan sebagai sarana peringatan dini (early warning system) bagi warga sekitar lereng dan pengguna jalan tol,” jelasnya.
Penilaian Stabilitas Lereng Secara Menyeluruh
Badan Geologi juga menggarisbawahi pentingnya evaluasi berkala terhadap stabilitas lereng, termasuk dengan menambahkan model infiltrasi air dan kegempaan. Hal ini bertujuan untuk memastikan keamanan lereng secara jangka panjang dan mengantisipasi potensi pergerakan tanah lanjutan.
“Jika upaya mitigasi struktural sudah dilakukan dan kondisi pergerakan tanah masih berlanjut atau berkembang, perlu dilakukan pemindahan permukiman pada lereng bagian atas dan jalur transportasi kendaraan,” ujar Wafid.
Gerakan Tanah Sudah Terpantau Sejak 2017
Berdasarkan laporan yang diterima, gejala awal gerakan tanah di kawasan ini sudah muncul sejak 2017, bahkan sebelum proyek Tol Cisumdawu dibangun. Saat itu, retakan mulai terlihat di area kebun, jalan arteri, dan beberapa rumah penduduk. Situasi memburuk pada 2021 setelah pemotongan lereng dilakukan untuk pembangunan jalan tol.
Puncaknya terjadi pada akhir Mei 2025, saat curah hujan tinggi memicu amblasan yang cukup signifikan. Gerakan tanah terdeteksi di area seluas 7,36 hektare, dengan panjang sekitar 340 meter dan lebar maksimal 275 meter. Di lapangan, terlihat retakan melintang menyerupai tapal kuda di lereng, sementara bagian atas lereng (gawir mahkota) telah mengalami penurunan antara 1,35 hingga 1,65 meter.
Jenis gerakan tanah yang terjadi tergolong rayapan (creep), yaitu pergerakan lambat namun terus berulang. Wafid memperingatkan bahwa jenis ini bisa berkembang menjadi rotational landslide atau longsor dalam dengan bidang gelincir melengkung. Lebar retakan yang ditemukan berkisar antara 5–30 cm, dengan panjang 5–140 meter, dan kedalaman mencapai 1–2 meter.
Dampak Fisik dan Kekhawatiran Warga
Analisis dari citra drone lidar dan pemetaan digital (DEM) menunjukkan kerusakan sepanjang 193 meter pada kedua jalur Tol Cisumdawu, baik arah Bandung maupun Sumedang. Di bagian tengah lereng, sejumlah pile dan dinding penahan tanah (DPT) mengalami kerusakan akibat amblasan. Bahkan, bagian bawah jalan tol mengalami kenaikan (bulging) antara 20–50 cm, yang memaksa pengelola jalan tol, PT CKJT, melakukan pengerukan dan perataan ulang jalur.
Kondisi ini memicu kekhawatiran warga, terutama mereka yang tinggal tak jauh dari titik longsor. Rumah-rumah yang berada dekat dengan mahkota longsoran kini berada dalam risiko tinggi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











