bukamata.id – Polemik antara kreator konten Della Septiani dengan pihak dealer BYD di Bali masih terus bergulir dan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Kasus ini bukan sekadar soal pelayanan di showroom, melainkan telah berkembang menjadi isu besar yang menyentuh kredibilitas konten digital, etika pembuatan konten, hingga potensi sengketa hukum.
Berawal dari sebuah video singkat, kini konflik tersebut menghadirkan dua versi cerita yang saling bertolak belakang: pengalaman subjektif seorang kreator dan bukti visual berupa rekaman CCTV dari pihak dealer.
Awal Mula Viral: Narasi “Diremehkan karena Penampilan”
Kasus ini mencuat setelah Della mengunggah video yang berisi keluhannya saat mengunjungi showroom mobil listrik di Bali. Dalam video tersebut, ia membangun narasi emosional sebagai calon pembeli yang merasa tidak dilayani dengan baik karena datang dengan penampilan sederhana dan menggunakan sepeda motor.
Narasi tersebut dengan cepat menyebar luas. Isu “dipandang sebelah mata karena penampilan” menjadi bahan bakar viral yang sangat kuat di media sosial Indonesia. Banyak netizen yang merasa relate, sehingga simpati awal langsung mengarah kepada Della.
Dalam video itu, Della menggambarkan pengalaman yang kurang menyenangkan, mulai dari sikap security hingga sales yang dinilai tidak ramah dan tidak responsif terhadap pertanyaannya.
Klarifikasi Della: Meluruskan Pernyataan Awal
Setelah polemik semakin meluas, Della akhirnya memberikan klarifikasi resmi melalui akun TikTok pribadinya pada 25 April 2026. Ia membuka pernyataannya dengan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi.
Dalam klarifikasinya, Della meluruskan satu poin penting: ia sebenarnya tetap mendapatkan pelayanan, meskipun menurutnya kualitas pelayanan tersebut tidak memuaskan.
Ia menjelaskan kronologi secara lebih rinci:
- Datang bersama lima anggota tim menggunakan tiga sepeda motor
- Sempat terjadi miskomunikasi saat parkir karena tidak meminta izin terlebih dahulu
- Setelah itu, mereka masuk ke showroom dan dilayani oleh sales wanita
- Mengalami interaksi yang dinilai kurang ramah dan minim informasi
Menurut Della, komunikasi yang terjadi terasa kaku, singkat, dan tidak memberikan penjelasan mendalam terkait produk. Bahkan, ia mengaku sempat merasa diabaikan ketika sales yang mendampinginya pergi tanpa pamit.
Situasi tersebut membuat Della dan tim merasa tidak nyaman hingga akhirnya memutuskan meninggalkan lokasi tanpa melanjutkan survei pembelian.
Ia juga menegaskan bahwa konten viral yang dibuatnya adalah bentuk kritik terhadap oknum pelayanan, bukan untuk menjatuhkan nama brand.
Versi Dealer: CCTV Ungkap Kronologi Berbeda
Di tengah klarifikasi tersebut, pihak BYD Dipo Denpasar mengambil langkah tegas. Mereka tidak hanya memberikan klarifikasi, tetapi juga merilis rekaman CCTV sebagai bukti kronologi kejadian.
Dalam rekaman tersebut, terlihat sejumlah fakta yang berbeda dengan narasi awal:
1. Kedatangan dan Area Terbatas
Della dan tim sempat masuk ke area servis yang merupakan zona terbatas. Security kemudian mengarahkan mereka ke area parkir yang sesuai prosedur.
2. Penyambutan oleh Sales
Setelah masuk showroom, mereka terlihat disambut oleh tenaga penjual dan dipersilakan melihat unit kendaraan.
3. Pelayanan dan Izin Konten
Tim Della tetap mendapatkan penjelasan terkait mobil, bahkan diberikan izin untuk mengambil konten di dalam showroom.
4. Aktivitas Konten yang Berlanjut
Dalam rekaman lanjutan, Della juga terlihat kembali membuat konten setelah interaksi berlangsung.
Pihak dealer menegaskan bahwa standar pelayanan tidak dibedakan berdasarkan penampilan pelanggan, dan semua pengunjung mendapatkan perlakuan yang sama.
Konflik Memanas: Somasi dan Dugaan Pencemaran Nama Baik
Tidak berhenti pada klarifikasi, pihak dealer memutuskan untuk menempuh jalur hukum. Melalui kuasa hukum, mereka telah melayangkan somasi kepada Della atas dugaan pencemaran nama baik.
Langkah ini diambil karena konten yang viral dianggap merugikan reputasi perusahaan, terutama sebagai brand global yang tengah membangun kepercayaan di pasar Indonesia.
Pihak dealer juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi dan menunggu proses klarifikasi berjalan secara objektif.
Reaksi Netizen: Dari Empati ke Kecurigaan
Seiring munculnya rekaman CCTV, arah opini publik mulai berubah. Jika sebelumnya Della mendapatkan banyak dukungan, kini tidak sedikit netizen yang mulai mempertanyakan keakuratan narasi tersebut.
Komentar warganet pun bermunculan dengan nada kritis, seperti dikutip dari akun TikTok @dellasept, Senin (27/4/2026).
Banyak yang menyoroti perbedaan visual dalam rekaman:
“Tapi kenapa outfit yang dinarasikan sama yang terekam CCTV beda?” tulis akun @dwi***
Ada pula yang mengangkat isu profesionalisme dalam pembuatan konten:
“Kalau bikin konten di showroom itu harus izin, bahkan biasanya tertulis. Kalau tidak, wajar kalau pihak sana tidak siap,” tulis akun @jej***
Sebagian netizen menilai kedatangan Della tidak jelas tujuannya:
“Datang mau beli atau cuma bikin konten? Kalau cuma konten, wajar kalau sales kurang respons,” komentar akun @lan***
Sementara itu, komentar lain mencerminkan kebingungan publik:
“Coba tebak netizen percaya yang mana?” tulis akun @ash***
Narasi komentar ini menunjukkan bahwa publik kini tidak lagi menerima informasi secara mentah, melainkan mulai membandingkan berbagai sumber sebelum mengambil kesimpulan.
Penutup: Antara Klarifikasi dan Kebenaran Publik
Hingga saat ini, polemik antara Della Septiani dan dealer BYD Bali masih belum mencapai titik akhir. Permintaan Della agar rekaman CCTV ditampilkan secara utuh menunjukkan bahwa masih ada ruang pembuktian yang terbuka.
Di sisi lain, langkah hukum dari pihak dealer menandakan bahwa kasus ini telah melampaui sekadar perdebatan di media sosial.
Kasus ini menjadi refleksi penting di era digital: viralitas tidak selalu sejalan dengan kebenaran, dan setiap narasi membutuhkan verifikasi yang utuh sebelum dipercaya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










