Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Nasib Pedagang di Kiaracondong Bandung Usai Lapak Dibongkar

Selasa, 13 Oktober 2026 12:57 WIB

Dugaan Pelecehan Oknum Dosen Guncang FH Unpas, Mahasiswa Bersatu Gelar Aksi Mimbar Bebas

Selasa, 13 Oktober 2026 11:54 WIB

Tragedi Utang Rp 25 Juta: Skenario Keji di Balik Tewasnya Driver Taksi Online Sumedang

Selasa, 13 Oktober 2026 11:49 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Nasib Pedagang di Kiaracondong Bandung Usai Lapak Dibongkar
  • Dugaan Pelecehan Oknum Dosen Guncang FH Unpas, Mahasiswa Bersatu Gelar Aksi Mimbar Bebas
  • Tragedi Utang Rp 25 Juta: Skenario Keji di Balik Tewasnya Driver Taksi Online Sumedang
  • Kebakaran Hebat di Cicadas Bandung! Bangunan Kosong Dilalap Api
  • Thom Haye Kritik Fasilitas Pemulihan Persib, Akui Jaga Kebugaran Pemain Hampir Mustahil
  • Harga Emas Antam Hari Ini 13 Oktober 2026 Anjlok Rp20.000, Cek Daftar Lengkap Semua Ukuran
  • 19 Rumah di Saritem Bandung Masih Dijadikan Tempat Prostitusi
  • Bawa JNE Melesat di Era Digital, Mohamad Feriadi Dinobatkan Jadi CEO Terbaik ILA 2026
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 13 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Bongkar Borok Pelayanan Showroom Mobil Listrik, Konsumen Diusir Halus Sales Gegara Cuma Pakai Sendal Jepit?

By SusanaSelasa, 21 April 2026 14:58 WIB4 Mins Read
TikToker Della Septiani. (Foto: Tangkapan layar).
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh sebuah video viral yang menyoroti dugaan pelayanan kurang profesional di sebuah showroom mobil listrik. Kali ini, nama BYD ikut terseret setelah seorang konsumen mengaku mendapat pengalaman tidak menyenangkan saat berkunjung ke showroom mereka di Bali.

Video tersebut diunggah oleh Della Septiani melalui akun Instagram pribadinya @dellaaseptt, dan langsung memantik gelombang reaksi dari warganet.

Datang Niat Beli, Pulang dengan Kekecewaan

Dalam video yang beredar luas di Instagram dan TikTok, Della menceritakan pengalamannya saat datang ke showroom bersama timnya. Ia mengaku datang dengan penampilan sederhana menggunakan sandal jepit dan mengendarai sepeda motor.

Tujuannya jelas: mencari informasi tentang mobil listrik, mulai dari spesifikasi hingga harga. Namun, realita yang ia temui justru jauh dari ekspektasi.

Alih-alih mendapat penjelasan lengkap dari tenaga penjual, Della mengaku hanya mendapat respons singkat dan terkesan tidak ramah. Bahkan, saat mencoba menanyakan detail mobil hingga fasilitas charging station, jawaban yang diberikan dinilai tidak informatif.

Kekecewaan itu memuncak ketika ia merasa tidak dilayani secara serius sebagai calon pembeli.

“Saya benar-benar mau cari mobil listrik, tapi merasa tidak dilayani sama sekali,” ungkapnya dalam video.

Narasi Viral: Dinilai dari Penampilan?

Kasus ini dengan cepat bergulir menjadi isu yang lebih besar. Bukan sekadar pengalaman pribadi, melainkan dugaan diskriminasi pelayanan berdasarkan penampilan.

Della secara terbuka mempertanyakan apakah cara berpakaian dan kendaraan yang digunakan menjadi alasan dirinya tidak dilayani maksimal.

Ia bahkan membandingkan pengalamannya dengan showroom lain di Jakarta, termasuk brand mobil listrik asal Tiongkok seperti XPeng, yang menurutnya memberikan pelayanan lebih ramah dan profesional.

“Memangnya kalau datang pakai motor dan sandal jepit berarti nggak mampu beli?” ujarnya.

Ledakan Reaksi Warganet: “Sales Jangan Pilih Kasih!”

Tak sedikit pula yang mengaku pernah mengalami hal serupa di showroom kendaraan lain, sehingga kasus ini dianggap sebagai fenomena yang lebih luas, bukan sekadar insiden tunggal.

Kolom komentar akun TikTok @dellasept pada Selasa (21/4/2026) dipenuhi beragam reaksi. Tak sedikit yang justru membongkar fenomena serupa di dunia sales otomotif.

Salah satu warganet menyinggung dugaan strategi pemasaran yang dinilai sudah tidak relevan:

“katanya ini juga salah satu trik marketing biar calon buyer itu ego nya tertantang, jadinya beli karna pengen ngebuktiin ‘nih gw beli ya’, tpi jaman skr udah gk related lgi,” tulis akun @ndo***

Komentar lain datang dari warganet yang mengaku bekerja di bidang sales, menyoroti potensi kerugian besar akibat pelayanan buruk:

“Me melihat video ini sebagai sales counter yg selalu closing tiap customer walk in cuma bisa nepok kepala, customer walk in udah pasti 70% beli, 30%nya tergantung pelayanan atau budgeting. Kalo walk out tanpa spk, biggest losttttt,” tulis akun @pri***

Tak hanya itu, ada pula pengalaman serupa yang dibagikan warganet lain terkait interaksi dengan sales BYD:

“saya juga pernah tanya waktu sales byd live, cuma tanya ada diskon gk kak? di jawab ‘Byd untuk orang kaya, gk ada diskon’, buset dah gw beli bmw aja sales nya ramah amat sekali. mentang mentang lagi laku kali ya byd,” tulis akun @wel***

Isu Lebih Besar: Standar Layanan di Industri Otomotif

Kasus ini membuka diskusi penting tentang standar pelayanan di industri otomotif, khususnya di era persaingan kendaraan listrik yang semakin ketat.

Dalam konteks bisnis modern, pengalaman pelanggan (customer experience) menjadi faktor krusial dalam menentukan keputusan pembelian. Pelayanan yang tidak inklusif berpotensi merusak citra merek, terlebih di tengah tren digital di mana satu pengalaman buruk bisa viral dalam hitungan jam.

Apalagi, pasar mobil listrik di Indonesia sedang berkembang pesat. Brand seperti BYD dan kompetitornya berlomba menarik minat konsumen baru yang datang dari berbagai latar belakang.

Profil Singkat Della Septiani, Sosok di Balik Video Viral

Nama Della Septiani sendiri bukan sosok asing di media sosial. Ia dikenal sebagai kreator konten yang aktif di TikTok dengan gaya khas, termasuk konten joget “pargoy” yang kerap viral.

Perempuan asal Bangka Belitung ini merantau ke Jakarta untuk mengembangkan karier digitalnya. Dengan jutaan penonton di berbagai kontennya, Della memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik, termasuk dalam kasus ini.

Keberaniannya membagikan pengalaman pribadi menjadi pemicu diskusi luas tentang pentingnya pelayanan tanpa diskriminasi.

Pelajaran Penting: Jangan Nilai Konsumen dari Tampilan

Kasus ini menjadi pengingat bagi pelaku industri, khususnya sektor ritel dan otomotif, bahwa setiap konsumen memiliki potensi yang sama.

Di era digital, pendekatan pelayanan tidak lagi bisa mengandalkan asumsi visual. Profesionalisme tenaga penjual justru diuji dari bagaimana mereka memperlakukan semua calon pembeli secara setara.

Sementara bagi masyarakat, kasus ini juga menjadi refleksi bahwa suara konsumen kini memiliki kekuatan besar. Satu unggahan bisa mengubah persepsi publik terhadap sebuah brand.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Nasib Pedagang di Kiaracondong Bandung Usai Lapak Dibongkar

Dugaan Pelecehan Oknum Dosen Guncang FH Unpas, Mahasiswa Bersatu Gelar Aksi Mimbar Bebas

Tragedi Utang Rp 25 Juta: Skenario Keji di Balik Tewasnya Driver Taksi Online Sumedang

Kebakaran Hebat di Cicadas Bandung! Bangunan Kosong Dilalap Api

19 Rumah di Saritem Bandung Masih Dijadikan Tempat Prostitusi

Bawa JNE Melesat di Era Digital, Mohamad Feriadi Dinobatkan Jadi CEO Terbaik ILA 2026

Terpopuler
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.
    BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Ilustrasi video syur
    Viral Video Syur Perempuan Berseragam Poltekkes Bandung, Begini Kata Kemenkes
  • Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan
  • Incar Poin Penuh di Kandang Port FC, Persib Bandung Siap Tampil Habis-habisan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.