Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Merasa Terpukul Atas Meninggalnya Arief, Bos Persib Minta Bobotoh Tahan Diri dan Jangan Balas Dendam

Selasa, 27 Oktober 2026 17:26 WIB

5 Kuliner Bandung Viral 2026 yang Bikin Antre, Harga Mulai Rp8 Ribuan!

Selasa, 27 Oktober 2026 17:21 WIB

Tepis Penolakan Warga, DPKP Bandung Tegaskan Skatepark Taman Teuku Umar Hanya 30 Persen

Selasa, 27 Oktober 2026 17:13 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Merasa Terpukul Atas Meninggalnya Arief, Bos Persib Minta Bobotoh Tahan Diri dan Jangan Balas Dendam
  • 5 Kuliner Bandung Viral 2026 yang Bikin Antre, Harga Mulai Rp8 Ribuan!
  • Tepis Penolakan Warga, DPKP Bandung Tegaskan Skatepark Taman Teuku Umar Hanya 30 Persen
  • Sudah Terdaftar Bansos Tahap 4? Cek di cekbansos.kemensos.go.id Pakai NIK
  • Dua Pemain Muda Persib Dipanggil Timnas U-20, Siap Uji Coba Lawan Amerika Serikat
  • Pabrik Obat Keras Ilegal di Kopo Bandung Diduga Raup Rp8 Miliar Sehari, 10 Orang Jadi Tersangka
  • Wali Kota Salurkan Santunan untuk Korban Pengeroyokan Pasar Caringin, Dua Orang Tewas
  • Jenguk Warga Binaan, Pengunjung Lapas Banceuy Kedapatan Bawa Sabu di Ikat Rambut
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 27 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Rafael Situmorang Bedah Polemik Ranah Privat vs Komunal dalam KUHP Baru di UIN Bandung

By Muhammad Rafki Razif KiransyahSelasa, 14 April 2026 17:23 WIB2 Mins Read
Anggota DPRD Jabar, Rafael Situmorang. (Foto: bukamata.id/M Rafki)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Perbedaan cara pandang masyarakat terhadap batas antara urusan privat dan komunal menjadi sorotan dalam diskusi hukum yang berkembang belakangan ini. Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Rafael Situmorang, saat menghadiri agenda Sekolah Legislatif di UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Selasa (14/4/2026).

Menurut Rafael, keberagaman karakter masyarakat Indonesia membuat satu persoalan bisa dipersepsikan berbeda di tiap lingkungan.

“Di satu masyarakat dianggap urusan privat, tapi di masyarakat lain bisa menjadi urusan komunal karena berdampak pada lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam konteks tertentu bahkan ada pandangan bahwa negara tidak perlu ikut campur dalam kehidupan individu. Perbedaan perspektif inilah yang kemudian memicu perdebatan panjang, termasuk dalam pembahasan KUHP baru Indonesia.

Baca Juga:  Pemprov Jabar Puasa Internal Demi Pesta Layanan Publik di Tahun 2026

Rafael kemudian menarik pembahasan ke konteks yang lebih luas, yakni posisi Indonesia sebagai bagian dari masyarakat global.

Ia merujuk pada gagasan Soekarno dalam Pidato 1 Juni 1945 yang menjadi dasar lahirnya Pancasila.

Dalam pidato tersebut, Soekarno menekankan pentingnya dua prinsip utama: nasionalisme dan internasionalisme.

“Kita adalah bangsa yang merdeka dan mencintai bangsa sendiri, tapi juga bagian dari masyarakat internasional,” jelasnya.

Baca Juga:  Wakil Ketua DPRD Jabar Yakin Kelangkaan Gas LPG 3 Kg Segera Ditangani

Menurut Rafael, kedua nilai tersebut harus berjalan beriringan. Nasionalisme tidak boleh berkembang menjadi sikap yang menutup diri, apalagi hingga merugikan bangsa lain.

Ia juga menyinggung dinamika sejarah, seperti Konfrontasi Indonesia–Malaysia, yang menurutnya tidak bisa dilepaskan dari konteks geopolitik global saat itu.

Begitu pula dengan berbagai pernyataan keras Soekarno terhadap negara-negara Barat, yang lahir dari situasi politik internasional, bukan semata ambisi ekspansi.

Kesadaran sebagai bagian dari dunia internasional, lanjut Rafael, juga tercermin dalam penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Bandung.

Baca Juga:  120 Anggota DPRD Jabar Periode 2024-2029 Resmi Dilantik, Banyak Wajah Baru

“Itu simbol bahwa Indonesia hadir bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga sebagai bagian dari solidaritas bangsa-bangsa di dunia,” katanya.

Melalui forum tersebut, Rafael menekankan pentingnya memahami konteks sosial, budaya, dan global dalam melihat persoalan hukum di Indonesia.

Baginya, keberagaman bukan sekadar tantangan, tetapi juga menjadi kunci dalam merumuskan kebijakan yang adil dan relevan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

DPRD Jabar Pancasila Rafael Situmorang
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Tepis Penolakan Warga, DPKP Bandung Tegaskan Skatepark Taman Teuku Umar Hanya 30 Persen

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Sudah Terdaftar Bansos Tahap 4? Cek di cekbansos.kemensos.go.id Pakai NIK

Pabrik Obat Keras Ilegal di Kopo Bandung Diduga Raup Rp8 Miliar Sehari, 10 Orang Jadi Tersangka

Wali Kota Salurkan Santunan untuk Korban Pengeroyokan Pasar Caringin, Dua Orang Tewas

peredaran narkoba

Jenguk Warga Binaan, Pengunjung Lapas Banceuy Kedapatan Bawa Sabu di Ikat Rambut

Korban Bertambah, Satu per Satu Terduga Pelaku Pengeroyokan Pasar Caringin Diciduk Polisi

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Delapan Mahasiswa di Bandung Diamankan Polisi Usai Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran
  • Lomba Coding SD-SMP 2026 Dibuka, Siswa Ditantang Bikin Solusi Bencana Alam
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.