bukamata.id – Gemerlap lampu panggung festival musik malam itu membakar semangat ribuan anak muda yang berjejal di area venue. Udara riuh oleh gelak tawa, dentuman nada bass yang menggetarkan dada, serta riak obrolan antarpenonton yang tengah menanti penampil favorit mereka. Panggung musik independen hingga festival skala besar seperti The Sounds Project kini bukan sekadar ajang perayaan bunyi, melainkan lanskap raksasa tempat identitas, gaya hidup, dan budaya pop anak muda berkelindan secara intens.
Di tengah hiruk-pituk skena musik urban Jakarta Selatan, lahirlah gelombang musik eksperimental yang meleburkan batas-batas tradisional dan modern. Salah satu entitas yang berhasil menyedot perhatian massa adalah RoBoKop (Rombongan Bodonk Koplo). Mengusung genre hipdut—sebuah perkawinan silang antara energinya musik hip-hop dengan denyut dangdut koplo elektronik—RoBoKop menjelma menjadi ikon hiburan interaktif yang digandrungi generasi Z dan milenial.
Namun, di balik sorak-sorai penonton dan kilatan kamera ponsel yang tak pernah redup, panggung hiburan berdiri di atas benang yang sangat ringkih. Fenomena viralitas di media sosial, batas komodifikasi, hingga gesekan dengan nilai-nilai sensitif seperti simbol keagamaan, kerap kali berubah menjadi pusaran polemik yang menelan para pelakunya. Nama Clareesya, salah satu pilar penting di balik dinamika RoBoKop, mendadak berada di titik tengah badai tersebut.
Profil Clareesya: Sosok Multitalenta di Balik Kemudi RoBoKop
Siapa sebenarnya Clareesya? Bagi penikmat skena underground dan penjelajah linimasa TikTok, sosok yang juga akrab disapa Acica ini bukanlah orang baru. Clareesya memulai langkahnya di dunia digital sebagai kreator konten dan selebgram. Lewat unggahan yang bergaya kasual, eksplosif, serta humoris, ia berhasil membangun basis pengikut yang kuat di berbagai platform, termasuk Instagram (@clareesya) dan Threads.
Karier musiknya melesat tajam ketika ia memutuskan untuk bergabung dengan RoBoKop. Di dalam grup asal Jakarta Selatan ini, Clareesya tidak sekadar bertindak sebagai pemanis panggung atau penyanyi pelengkap. Ia memegang peran ganda yang cukup vital: sebagai produser musik remix paruh waktu dan pengisi panggung utama atau biduan secara penuh waktu.
Di balik layar, ia memiliki kepekaan terhadap ritme musik yang disukai pasar digital dengan mengutak-atik beat dangdut klasik, menyuntikkan elemen hip-hop, dan memolesnya dengan sentuhan sampling elektronik modern. Sementara saat berdiri di bawah sorotan lampu spotlight, persona Acica bertransformasi total lewat aksi panggung yang jenaka, interaktif, serta gaya tarian ikonik yang selalu berhasil mengubah lapangan festival menjadi arena joget massal.
Di mata penggemarnya, Clareesya adalah representasi seniman muda yang ekspresif, berani menabrak batasan genre musik, dan lihai memanfaatkan ekosistem media sosial. Namun, populernya panggung digital membawa konsekuensi lain: setiap gerak-gerik, pilihan kata, dan gestur dapat diuji oleh jutaan pasang mata dalam hitungan detik.
Satu Panggung Festival, Dua Isu yang Menyulut Amarah Publik
Perhelatan The Sounds Project yang sejatinya menjadi ajang selebrasi musik justru berubah menjadi panggung sorotan tajam publik. Di dalam satu arena dan gelaran acara yang sama, muncul dua insiden beruntun yang menyinggung sensitivitas simbol keagamaan, di mana salah satunya melibatkan langsung sosok Clareesya usai dirinya turun dari panggung hiburan.
1. Polemik Unggahan “Gaya Takbir” Clareesya
Merayakan eforia sehabis tampil memukau bersama RoBoKop di festival tersebut, Clareesya membagikan serangkaian foto momen penampilannya di platform Threads. Salah satu foto memperlihatkan dirinya mengenakan busana terbuka sembari mengangkat kedua tangan ke atas.
Masalah utama muncul bukan sekadar pada pilihan busana, melainkan pada kalimat pendamping (caption) yang ia tuliskan pada unggahan foto usai manggung tersebut:
“Gaya takbir. Love you @thesoundsproject @ghanabanyubiru @renggalihlembahingtyas,” tulis akun @clareesya.
Penggunaan istilah “gaya takbir” untuk menggambarkan gestur foto berbusana terbuka langsung menyulut reaksi keras. Bagi umat Islam, takbir adalah rukun ibadah yang amat sakral. Tangkapan layar unggahan tersebut menyebar cepat ke platform X melalui akun @jakartalks dan menuai gelombang desakan serta kecaman luas dari warganet.
Kolom komentar dipenuhi oleh ketidakpuasan publik yang merasa lelah dengan pola kesalahan berulang di ruang digital.
“Perlu ditanya nih maksudnya apa, biar gak kemana mana persepsi orang-orang,” komentar seorang netizen yang meminta ketegasan maksud.
Rasa jenuh publik terhadap siklus permohonan maaf figur publik disuarakan secara tajam oleh warganet lain: “Apakah semua masalah bisa selesai dengan klarifikasi dan minta maaf saja, mengapa sebagian orang gampang memaafkan dan di kemudian hari pasti tumbuh lagi karena tidak ada efek jera.”
Kekesalan tersebut makin dipertegas oleh komentar lain yang menyoroti tidak adanya rasa jera: “Bikin ulah, minta maaf, ga mikir gitu lagi, ulang lagi, tidak ada efek jera. Agamamu apapun tidak pantas untuk dijadikan lelucon,” ujar netizen.
Sementara yang lain memberi peringatan keras mengenai batas toleransi berekspresi: “Mau lu bertingkah kayak gimana pun, berpakaian model apapun, tapi tolong jangan pernah ngelecehin agama manapun,” timpal netizen lainnya.
2. Skandal Challenge Al-Qur’an Berhadiah Miras di Area Booth
Masih di lokasi dan helatan acara festival yang sama, tepatnya di area eksibisi venue The Sounds Project, suasana tak kalah memanas. Di sela-sela pergantian penampil—tepat saat massa tengah riuh rendah menunggu aksi panggung musisi Hindia—kerumunan memadati pelataran festival untuk sekadar membeli minuman atau mencari hiburan.
Di salah satu sudut area eksibisi, berdiri booth milik merek minuman beralkohol Newport. Sang pembawa acara (MC) memegang mikrofon dan melempar tantangan (challenge) interaktif: barang siapa pengunjung festival yang mampu menghafal dan melantunkan ayat suci Al-Qur’an—khususnya Surah Ad-Duha—akan langsung dihadiahi satu botol minuman keras secara gratis.
Aksi tersebut direkam oleh akun Threads @jarrkojarr dan viral secara nasional dengan kecaman tajam:
“Lo jualan minuman tapi Al-Qur’an lo jadiin challenge, dan dikasih 1 botol lagi. Sakit.”
Tautan Dua Peristiwa: Normalisasi Pengkerdilan Nilai Keagamaan
Fakta bahwa kedua peristiwa ini terjadi di ruang dan helatan acara yang sama (The Sounds Project) menunjukkan sebuah potret tentang bagaimana ekosistem hiburan malam hari ini memandang simbol-simbol keagamaan. Ada benang merah yang menghubungkan aksi unggahan Clareesya dengan marketing gimmick yang dilakukan booth Newport di area festival tersebut.
Kedua insiden ini memperlihatkan pergeseran batas etika di lingkungan festival hiburan anak muda. Baik dalam bentuk ekspresi pribadi seorang penampil seperti Clareesya maupun strategi promosi dari penyelenggara stan, simbol agama tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral, melainkan terancam terdegradasi menjadi sekadar materi pemicu atensi, gimmick, atau engagement media sosial.
Penggunaan istilah keagamaan secara sembarangan oleh figur publik di tengah atmosfer festival memperlihatkan bahaya dari ketidakpekaan etis. Di satu sisi, industri hiburan modern menuntut pelakunya untuk terus tampil ekspresif dan mencuri perhatian. Namun di sisi lain, kebebasan berekspresi yang lepas dari sensitivitas budaya hanya akan menciptakan gelombang kegaduhan publik.
Langkah Penyesalan dan Pelajaran: Klarifikasi Terbuka dari Clareesya
Sadar bahwa unggahannya menyulut gelombang kecaman luas di tengah isu keagamaan yang sedang hangat di festival tersebut, Clareesya tidak bergeming lama. Foto dan tulisan kontroversial itu segera dihapus dari akun media sosialnya, disusul dengan penerbitan pernyataan klarifikasi resmi dan permohonan maaf terbuka.
Dalam penyataan tertulisnya, Clareesya meluruskan bahwa istilah tersebut dituliskan tanpa niat sedikit pun untuk melecehkan atau menistakan agama. Unggahan tersebut murni lahir dari luapan emosi kebahagiaan atas pencapaian karier musiknya:
“Dengan ini saya, Clareesya, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kegaduhan dan ketidaknyamanan yang timbul sehubungan dengan postingan saya di Threads. Saya ingin meluruskan bahwa postingan tersebut dibuat semata-mata sebagai bentuk rasa syukur dan ungkapan kebahagiaan pribadi karena suatu pencapaian yang sudah lama saya impikan, yaitu dapat berkesempatan bermain dalam sebuah konser sebesar acara tersebut,” ungkap Clareesya.
Ia menjelaskan bahwa bagi seorang musisi yang sedang merintis karier, kesempatan untuk tampil di panggung sebesar The Sounds Project adalah impian besar. Namun, ia menyadari bahwa padanan kata yang digunakannya muncul di momen yang tidak tepat:
“Saya menyadari bahwa postingan tersebut muncul di tengah adanya pemberitaan yang sedang ramai diperbincangkan, sehingga rasa syukur dan isi hati yang sebenarnya saya maksudkan dapat dipahami atau ditafsitkan ke arah yang berbeda. Rasa syukur tersebut sepenuhnya ditujukan atas pencapaian pribadi saya sebagai seorang musisi dan tidak dimaksudkan untuk menghina, merendahkan, melecehkan, menistakan, ataupun menyinggung agama… Saya memohon maaf atas ketidaknyamanan yang timbul dan memastikan bahwa hal serupa tidak akan saya ulangi di kemudian hari.”
Tak berhenti pada pernyataan formal, Clareesya juga mengakui kesalahannya secara pribadi melalui media sosial. Ia mengungkapkan bahwa teguran keras dari sang ibunda menjadi pemukul kesadaran terbesar baginya untuk memetik pelajaran berharga:
“Ada beberapa orang yang asbunnya tolol dan aku salah satunya. Tapi untungnya aku masih punya ibu yang langsung ngingetin kalo aku salah. Ini jadi pelajaran ya buat aku supaya lebih mikir sebelum ngomong dan ngetik,” tulisnya jujur.
Refleksi Bagi Industri Musik Modern
Sorotan tajam yang mengarah pada Clareesya, grup RoBoKop, hingga penyelenggara festival memberikan refleksi mendalam bagi ekosistem seni hiburan tanah air. Popularitas di era digital adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, media sosial mempercepat jalan seorang musisi dari panggung kecil menuju panggung festival megah. Di sisi lain, publik menuntut tanggung jawab moral dari setiap narasi yang dilontarkan.
Seorang figur publik, terlepas dari seberapa bebas atau nyentriknya genre musik yang diusungnya, memikul tanggung jawab sosial di ruang terbuka. Ketika karya musik seperti hipdut berhasil merangkul masyarakat luas, para pelakunya dituntut untuk memiliki kedewasaan dalam berinteraksi dengan publik.
Penting bagi para pekerja seni, manajemen merek, hingga penyelenggara acara festival untuk menyadari bahwa kreativitas tetap memiliki batas etis, simbol keagamaan harus steril dari komodifikasi hiburan, dan unggahan di media sosial memiliki dampak kolektif yang luas.
Gemerlap lampu panggung festival memang selalu memikat, dan dentuman bass hipdut RoBoKop akan terus mengajak penonton bergoyang. Namun, riak polemik yang terjadi di The Sounds Project—baik di sudut booth pameran maupun di balik layar ponsel para penampilnya—menjadi pengingat yang sangat nyaring: bahwa di panggung hiburan yang serba gemerlap sekalipun, kesadaran menjaga etika dan menghormati nilai-nilai sakral adalah pondasi utama agar seorang seniman dapat bertahan dengan penuh kehormatan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










