Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Penjara atau Hotel Bintang Lima? Bongkar Fakta Bilik ‘Apartemen’ Mewah di Lapas Cibinong!

Kamis, 24 September 2026 11:01 WIB

KDS Dorong Pencak Silat Masuk Ekstrakurikuler SD hingga SMA di Kabupaten Bandung

Kamis, 24 September 2026 10:30 WIB

Saat Finfluencer dan AI Jadi Guru Keuangan, Masih Perlukah Belajar Manajemen?

Kamis, 24 September 2026 10:25 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Penjara atau Hotel Bintang Lima? Bongkar Fakta Bilik ‘Apartemen’ Mewah di Lapas Cibinong!
  • KDS Dorong Pencak Silat Masuk Ekstrakurikuler SD hingga SMA di Kabupaten Bandung
  • Saat Finfluencer dan AI Jadi Guru Keuangan, Masih Perlukah Belajar Manajemen?
  • Anjlok Lagi! Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp25.000, Cek Daftar Lengkapnya
  • Kejutan Last Minute, Persib Bandung Rekrut Bintang Brasil Caxambu?
  • Akhirnya Terbongkar! Inilah Sosok Dirtek Java United Arogan yang Berani Usir Shin Tae-yong, Pantes Suka Berulah
  • Panduan Lengkap Pencairan Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026: Jenis Bantuan, Skema, dan Cara Cek NIK
  • Kuliner Pagi di Bandung, 4 Tempat Sarapan Ini Bikin Susah Move On
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 24 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Opini

Saat Finfluencer dan AI Jadi Guru Keuangan, Masih Perlukah Belajar Manajemen?

By Aga GustianaKamis, 24 September 2026 10:25 WIB2 Mins Read
Dr. Virza Utama Alamsyah S.E., M.M. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

HARI ini, keputusan keuangan tidak lagi selalu dimulai dari ruang kelas, bank, atau konsultasi dengan profesional. Banyak orang justru mengenal investasi, dana darurat, utang, hingga strategi membangun kekayaan dari video berdurasi kurang dari satu menit di media sosial. Fenomena finfluencer membuat pengetahuan keuangan terasa lebih dekat dan mudah dipahami.

Masalahnya, popularitas tidak selalu berjalan seiring dengan kompetensi. Tidak semua pembuat konten finansial memiliki pendidikan formal, sertifikasi, atau pemahaman yang cukup untuk menjelaskan risiko secara utuh. Saran yang terdengar meyakinkan dapat diterima sebagai kebenaran, padahal kondisi keuangan setiap orang berbeda.

1. Akses Keuangan Meningkat, Literasi Belum Tentu Mengikuti

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 dari OJK, LPS, dan BPS mencatat indeks inklusi keuangan Indonesia mencapai 93,61 persen, sementara indeks literasi keuangan berada pada 69,57 persen. Angka ini menunjukkan masyarakat semakin mudah mengakses produk keuangan, tetapi kemampuan memahami dan mengambil keputusan keuangan masih memiliki ruang untuk diperkuat.

Inilah alasan ilmu manajemen keuangan tetap relevan. Manajemen keuangan bukan sekadar belajar menghitung laba atau membaca laporan keuangan. Di dalamnya terdapat kemampuan memahami risiko, nilai waktu uang, arus kas, keputusan investasi, struktur pendanaan, serta hubungan antara keputusan hari ini dan konsekuensi finansial di masa depan.

2. AI Membantu, tetapi Tidak Menggantikan Cara Berpikir

Tantangan berikutnya datang dari kecerdasan buatan. AI mampu menjelaskan istilah keuangan, membuat simulasi, bahkan membantu membaca data. Namun jawaban yang cepat bukan berarti keputusan yang tepat.

Tanpa fondasi pengetahuan, seseorang akan sulit menilai apakah jawaban AI masuk akal, relevan, atau justru menyesatkan. Karena itu, kemampuan paling penting di era AI bukan hanya mencari jawaban, melainkan menguji jawaban, memahami asumsi, dan berani mempertanyakan hasilnya.

3. Belajar Keuangan untuk Memiliki Kerangka Berpikir

Di sinilah pendidikan formal memiliki peran. Program Studi S1 Manajemen Taruna Bakti University, misalnya, dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari keuangan bukan sebagai kumpulan tips, tetapi sebagai disiplin ilmu yang terstruktur, kontekstual, dan dapat dipertanggungjawabkan. Program S1 Manajemen memang menjadi salah satu program studi unggulan yang ditawarkan Taruna Bakti University.

Pada akhirnya, kita tidak kekurangan informasi keuangan. Yang semakin dibutuhkan adalah kemampuan membedakan informasi, opini, dan analisis. Di tengah ramainya finfluencer dan kemudahan AI, ilmu manajemen keuangan justru menjadi kompas agar keputusan tidak hanya cepat, tetapi juga rasional, kritis, dan sesuai konteks.

Penulis: Dr. Virza Utama Alamsyah S.E., M.M., Dosen Taruna Bakti University & Praktisi Keuangan

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

AI Keuangan Finfluencer Manajemen Keuangan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Inspirasi Karier dari Pemain Juggling Bola

Professor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Belajar Dari Prabowo

Mindshift 4: PKM-PM IPB University Bekali Perempuan Pekerja Migran Purna dengan Budidaya Terpadu Menuju Kemandirian Ekonomi

Komunikasi Profetik di Era Digital: Arah Baru Pengembangan Ilmu Komunikasi

Doomposting Film “Ghost In The Cell”: Analisis Perilaku Netizen Lewat Cognitive Dissonance Theory

Banjir Konten UGC dari Brand Team,yang Dijual Produk apa Kisah Palsu?

Terpopuler
  • Bukan Uang Biasa? Jejak Tanda Tangan Purbaya di Rp100 Ribu Mulai Dicari Kolektor
  • Proyek Kabel Gatot Subroto Bandung Amburadul, Internet IndiHome Mati Nyaris Sepekan dan Bikin Rugi
  • 118 Gempa dalam 38 Hari, Apa yang Sebenarnya Bergerak di Bawah Kabupaten Bandung?
  • Unjani dan Djarum Foundation Kolaborasi Dorong Green Campus dan Green Leadership
  • Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
    Bursa Pilgub Jabar: Nama Purbaya Yudhi Sadewa Mulai Diperhitungkan, Parpol Pilih Wait and See
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.