Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Adam Przybek

Persib Gagal di ACL Two, Nasib Adam Przybek Ikut Terseret

Kamis, 19 Februari 2026 20:04 WIB

Satpol PP Bandung Tegaskan Larangan Jualan Takjil di Zona Terlarang

Kamis, 19 Februari 2026 19:36 WIB

Link Video Teh Pucuk 17 Menit No Sensor Masih Diburu Netizen, Awas Jebakan di Balik Narasi Viral

Kamis, 19 Februari 2026 19:23 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Persib Gagal di ACL Two, Nasib Adam Przybek Ikut Terseret
  • Satpol PP Bandung Tegaskan Larangan Jualan Takjil di Zona Terlarang
  • Link Video Teh Pucuk 17 Menit No Sensor Masih Diburu Netizen, Awas Jebakan di Balik Narasi Viral
  • No Sensor? Link Video Teh Pucuk 17 Menit Viral, Simak Klarifikasinya
  • Polemik Paspor Kuat! Sosok Alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas Dihujat Usai Anak Resmi Jadi WNA
  • Satpol PP Bandung Larang Sahur On The Road dan Perang Sarung Selama Ramadan
  • Kecewa Berat, Bojan Hodak Teriak Soal Pitch Invader di GBLA
  • Jadwal Adzan Maghrib Kota Bandung Hari Ini, Siapkan Buka Puasa Tepat Waktu!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 19 Februari 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Saat Rakyat Kecil Diuji Kamera: Gangguan Mental Sudrajat dan Kritik Pedas ke Gaya KDM

By SusanaMinggu, 1 Februari 2026 10:00 WIB4 Mins Read
Pedagang es kue, Sudrajat dan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kasus Sudrajat alias Babeh Ajat, pedagang es gabus asal Bojonggede, Kabupaten Bogor, kini memasuki babak baru yang jauh lebih kompleks dari sekadar polemik “jujur atau bohong”.

Klarifikasi terbaru dari Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, mengungkap fakta penting yang selama ini luput dari sorotan publik: Suderajat dan istrinya diduga mengalami gangguan mental pascatrauma yang berdampak serius pada kemampuan komunikasi dan konsistensi cerita.

Fakta ini sekaligus menjadi bantahan terhadap tudingan bahwa Sudrajat sengaja memanipulasi cerita demi simpati publik, tuduhan yang sebelumnya mengemuka usai video klarifikasi yang diunggah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), viral di media sosial.

Asesmen Psikologis: Keterangan Berubah Bukan Karena Bohong

Menurut Camat Tenny Ramdhani, hasil asesmen menunjukkan Sudrajat dan istrinya memiliki indikasi disabilitas nonfisik berupa gangguan mental dan keterbatasan verbal, yang diperparah oleh trauma berat akibat insiden kekerasan dan intimidasi aparat di Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 24 Januari 2026.

“Keterangan yang berubah-ubah itu bukan karena niat menipu, tapi karena kondisi psikologis dan keterbatasan komunikasi,” tegas Tenny, dikutip dari Instagram @redsignalcom, Minggu (1/2/2026).

Baca Juga:  PKJB 2025: Jabar Siap Jadi Magnet Wisata Lewat Kerajinan dan Lingkungan Bersih

Trauma tersebut muncul setelah Sudrajat dituduh menjual es gabus berbahan spons, dagangannya dirusak, dan dirinya mengalami luka ringan di wajah serta bahu. Sejak kejadian itu, Sudrajat disebut semakin tertutup, mudah panik, dan kesulitan menjawab pertanyaan, terutama saat diwawancarai berulang kali oleh banyak pihak.

Diperkuat RT-RW: Suderajat Punya Riwayat Keterbelakangan Mental

Keterangan Ketua RT dan RW setempat menguatkan hasil asesmen. Sudrajat disebut telah lama mengalami keterbatasan mental, sementara kondisi istrinya bahkan dinilai lebih parah, dengan pola komunikasi yang sulit dipahami.

“Mereka memang jarang bersosialisasi, dan setelah viral, makin takut bertemu orang,” ujar salah satu perangkat lingkungan.

Fakta ini menempatkan Sudrajat sebagai warga rentan dengan disabilitas tak kasat mata, kelompok yang sering kali tidak terlindungi secara memadai dalam sistem hukum dan komunikasi publik.

Konten KDM Disorot: Tajam ke Rakyat Kecil, Tumpul ke Aparat?

Polemik membesar ketika Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut Sudrajat “tidak jujur” dalam sebuah wawancara YouTube. Pernyataan itu memantik kritik tajam warganet, terutama setelah fakta gangguan mental Sudrajat terungkap.

Baca Juga:  Euforia Juara Tercoreng, Dedi Mulyadi Pastikan Oknum Bobotoh Rusak Fasilitas GBLA Ditindak Tegas

Di kolom komentar Instagram @redsignalcom, Minggu (1/2/2026), gelombang kritik terhadap gaya komunikasi KDM pun mengalir deras.

“Iya lah pasti, mereka kurang istirahat setiap hari diwawancarai, belum lagi ada rasa takut dan tekanan,” tulis akun @ahm*.

Kritik lebih keras datang dari akun @tab*:
“Saya ga respect dg konten KDM yg tajem bgt ngomong ke rakyat kecil kyk bapak ini, tapi ga berani tajem ke oknum TNI POLISI yg nendang bapak ini. Miris.”

Warganet lain mempertanyakan etika menjadikan warga rentan sebagai konten publik.

“Etis kah menjadikan orang tua sebagai bahan konten? Kalau niat bantu ya bantu aja, ga usah dibikin konten,” tulis @san*.

Sementara akun @yul* menilai pendekatan KDM terlalu menekan secara psikologis.
“Harusnya mengayomi, bukan interogasi. Setiap orang punya latar belakang berbeda.”

Dari Simpati ke Stigma: Ketika Gangguan Mental Disalahartikan Kebohongan

Baca Juga:  Teladani Nabi Muhammad, Jadi Alasan Dedi Mulyadi Dukung Jeje Bawa Anak ke Kantor

Sebelumnya, video klarifikasi KDM yang menyoroti pengakuan Sudrajat soal rumah kontrakan memicu kekecewaan sebagian warganet. Banyak yang menilai Sudrajat berbohong karena ternyata menempati rumah miliknya sendiri.

Namun, fakta terbaru justru menggeser perspektif: inkonsistensi cerita bisa jadi gejala gangguan mental, bukan manipulasi sadar.

Dalam konteks ini, publik dinilai terlalu cepat menghakimi, sementara pejabat publik dianggap gagal membaca kerentanan psikologis korban.

Pelajaran Besar: Empati Lebih Penting dari Konten

Pemerintah Kecamatan Bojonggede menyatakan akan menyiapkan pendampingan psikososial berkelanjutan bagi Sudrajat dan keluarganya. Kasus ini sekaligus menjadi alarm keras soal pentingnya pendekatan berbasis empati, baik oleh aparat, pejabat publik, maupun media.

Di tengah budaya konten dan viralitas, kisah Sudrajat mengingatkan satu hal mendasar: tidak semua ketidakkonsistenan adalah kebohongan, dan tidak semua warga punya privilese mental untuk menjelaskan hidupnya dengan rapi di depan kamera.

Kasus ini bukan hanya soal Sudrajat, melainkan tentang bagaimana negara dan figur publik memperlakukan warga paling rentan di hadapan jutaan pasang mata.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi gangguan mental KDM pedagang es gabus Sudrajat trauma psikologis
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Satpol PP Bandung Tegaskan Larangan Jualan Takjil di Zona Terlarang

Satpol PP Bandung Larang Sahur On The Road dan Perang Sarung Selama Ramadan

Jadwal Adzan Maghrib Kota Bandung Hari Ini, Siapkan Buka Puasa Tepat Waktu!

THR PNS 2026 Segera Cair! Ini Nominal dan Komponen Lengkapnya

Istana Diguncang ‘Anak Paket C’, Tiyo Ardianto dan Kritik Soal MBG!

Dugaan Korupsi Rumdin DPRD Indramayu Naik ke Penyidikan, Kerugian Negara Rp16,8 Miliar

Terpopuler
  • Apa Isi Video Teh Pucuk 17 Menit? Link No Sensor Bikin Penasaran
  • Beredar! Link Video Teh Pucuk 17 Menit, Full Durasi No Sensor
  • Link Video Teh Pucuk 17 Menit vs 1 Menit 50 Detik: Benarkah Ada Dua Versi atau Sekadar Jebakan?
  • Viral No Sensor Video Teh Pucuk Durasi Panjang 17 Menit, Cek Faktanya!
  • Link Video Viral Teh Pucuk 17 Menit Bisa Jadi Malware, Jangan Asal Klik!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.