Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Kenapa Bansos Tiba-Tiba Hilang Padahal Dulu Rutin Cair? Ini Penyebab yang Wajib Diketahui

Kamis, 27 Agustus 2026 05:00 WIB

WhatsApp Bawa Senjata Baru Lawan Penipu, Nomor Asing Kini Bisa Lebih Mudah Dikenali

Kamis, 27 Agustus 2026 04:00 WIB
Bansos

Bansos BPNT Agustus 2026 Mulai Disalurkan, Cek Nama Anda Sekarang!

Kamis, 27 Agustus 2026 03:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kenapa Bansos Tiba-Tiba Hilang Padahal Dulu Rutin Cair? Ini Penyebab yang Wajib Diketahui
  • WhatsApp Bawa Senjata Baru Lawan Penipu, Nomor Asing Kini Bisa Lebih Mudah Dikenali
  • Bansos BPNT Agustus 2026 Mulai Disalurkan, Cek Nama Anda Sekarang!
  • Banjir Rezeki! Cara Klaim Saldo DANA Gratis 27 Agustus 2026 Hari Ini, Langsung Cair ke Dompet Digital
  • Klaim Skin & SG2 Gratis! Kode Redeem FF 27 Agustus 2026 Terbaru Hari Ini
  • Krisis Guru di Jabar Masih Dikaji, MQ Iswara Tunggu Data Valid dan Penataan PPPK
  • MQ Iswara Apresiasi Pemprov di Tengah Tekanan Fiskal, APBD Naik Jadi Rp31,4 Triliun
  • Momen Humanis di Nagekeo: Asyik Melayani Selfie Warga, Seskab Teddy Hampir Ketinggalan Rombongan Presiden
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 27 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Sanitasi Bandung Darurat: 285 Hektare Masih Kumuh, Ini Rencana Besar Pemkot

By SusanaSelasa, 21 Oktober 2025 18:04 WIB2 Mins Read
Ilustrasi Kawasan Kumuh. Foto: Pixabay.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kawasan kumuh di Kota Bandung masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus dituntaskan pemerintah daerah.

Hingga kini, sekitar 285 hektare wilayah masih masuk kategori kumuh, terutama akibat buruknya sanitasi, drainase, dan infrastruktur permukiman.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Bandung, Luthfi Firdaus, menegaskan bahwa persoalan terbesar bukan semata rumah tidak layak huni, tetapi minimnya sarana pengelolaan air limbah.

“Masalah sanitasi masih jadi pekerjaan berat. Kita sudah membangun septic tank individual dan komunal setiap tahun, tapi jumlahnya belum sebanding dengan kebutuhan,” ujar Luthfi, Selasa (21/10/2025).

Kapasitas Pembangunan Masih Minim

Setiap tahun, Pemkot Bandung hanya mampu membangun 10–17 unit septic tank komunal atau individual, jumlah yang sangat jauh dari ideal jika dibandingkan dengan luas kawasan kumuh yang mencapai ratusan hektare.

Untuk mempercepat penanganan, tahun depan Pemkot Bandung berencana mengajukan Dana Alokasi Khusus (DAK) ke pemerintah pusat. Rencananya, alokasi tersebut akan digunakan untuk membangun sekitar 100 unit septic tank komunal di titik-titik kumuh prioritas.

“Dukungan dari pusat sudah ada, tapi alokasinya masih terbatas. Tahun ini saja baru 17 unit septic tank komunal yang bisa dibangun,” tuturnya.

Keterbatasan Lahan Jadi Kendala Terbesar

Menurut Luthfi, kawasan padat penduduk sering menjadi hambatan utama. Pembangunan septic tank komunal membutuhkan lahan minimal 9 meter persegi untuk menampung limbah dari 15–25 kepala keluarga.

“Kondisi gang sempit membuat kami kesulitan mencari lokasi. Kami sudah usulkan agar Pemkot bisa membeli lahan kosong untuk dijadikan lokasi septic tank,” katanya.

Sebagai solusi cepat, DPKP kini memprioritaskan pembangunan septic tank individual agar limbah domestik tidak langsung mengalir ke sungai.

Sanitasi Buruk Berpotensi Ganggu Kesehatan Warga

Luthfi menegaskan bahwa isu sanitasi bukan sekadar persoalan teknis infrastruktur, melainkan terkait langsung dengan kesehatan publik. Banyak penyakit menular bersumber dari sanitasi yang tidak memadai.

“Ini menyentuh kesehatan masyarakat. Jadi, penanganan kawasan kumuh harus dilakukan serius dan terintegrasi,” tegasnya.

Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

DPKP menyebut bahwa penanganan kawasan kumuh tidak mungkin dikerjakan satu dinas saja. Permasalahan sanitasi, drainase, rutilahu, hingga pengolahan air limbah membutuhkan dukungan lintas sektor.

“DPKP terus melakukan pemantauan lewat sistem pengawasan kawasan permukiman. Targetnya jelas: menurunkan luas kawasan kumuh dan meningkatkan kualitas hidup warga Bandung,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Kenapa Bansos Tiba-Tiba Hilang Padahal Dulu Rutin Cair? Ini Penyebab yang Wajib Diketahui

Bansos

Bansos BPNT Agustus 2026 Mulai Disalurkan, Cek Nama Anda Sekarang!

Krisis Guru di Jabar Masih Dikaji, MQ Iswara Tunggu Data Valid dan Penataan PPPK

MQ Iswara Apresiasi Pemprov di Tengah Tekanan Fiskal, APBD Naik Jadi Rp31,4 Triliun

Momen Humanis di Nagekeo: Asyik Melayani Selfie Warga, Seskab Teddy Hampir Ketinggalan Rombongan Presiden

PN Bandung Tolak Lagi Praperadilan Mantan Pengurus Gereja: Status Tersangka ITE Bambang Soeharto Sah

Terpopuler
  • Janji Penguatan UMKM Dipertanyakan di Tengah Masifnya Penertiban PKL Kota Bandung
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung
  • Loyalis Fanatik Mulai Tergerus, Warga Makin Berani Kritik Dedi Mulyadi!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.