bukamata.id – Ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah (MI) Tegal Koneng, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, ambruk pada Sabtu (19/9/2026) dini hari.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 01.00 WIB ketika hujan deras mengguyur kawasan Tegalkoneng. Tidak ada aktivitas belajar mengajar saat kejadian berlangsung, namun ambruknya bangunan membuat kegiatan pendidikan siswa MI Tegal Koneng terganggu.
Abuy Supian (59), guru kelas V MI Tegal Koneng, mengatakan bangunan tiba-tiba ambruk saat hujan deras melanda wilayah tersebut.
“Mendadak bangunan ambruk,” kata Abuy saat ditemui di lokasi kejadian, Minggu (20/9/2026).
Menurut Abuy, kerusakan bangunan diduga berkaitan dengan kondisi tanah yang mengalami pergeseran. Sebagian lantai ruangan sebelumnya memang telah mengalami ambles akibat pergerakan tanah.
Kondisi serupa juga terlihat pada sejumlah ruang kelas lainnya. Beberapa bagian bangunan disebut masih terancam ambruk karena lantai mengalami penurunan dan kayu penyangga atap telah lapuk.
Bangunan Sekolah Sudah Lama Rusak
Ambruknya ruang kelas MI Tegal Koneng tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa tanda. Sebelum kejadian, bagian bangunan sudah mengalami keretakan dan kerusakan.
Pihak sekolah bahkan sempat memasang bambu sebagai penyangga pada bagian depan bangunan karena kondisinya semakin mengkhawatirkan.
Abuy mengatakan pihak sekolah sebenarnya telah berulang kali mengajukan bantuan perbaikan kepada pemerintah pusat maupun Kementerian Agama.
Pada 2007, MI Tegal Koneng sempat mendapatkan bantuan untuk pembangunan tiga ruang kelas baru. Lima tahun kemudian, tepatnya pada 2012, sekolah kembali memperoleh bantuan untuk pembangunan satu ruang kelas baru.
Namun, setelah bantuan tersebut, sekolah belum kembali mendapatkan bantuan untuk memperbaiki sejumlah bagian bangunan yang mengalami kerusakan.
Kerusakan pun berangsur-angsur bertambah hingga akhirnya salah satu ruang kelas ambruk.
“Kalau mengajukan bantuan itu sering, realisasinya yang tidak ada,” ujar Abuy.
Dana BOS Terbatas
Kondisi tersebut juga diperberat dengan keterbatasan dana operasional sekolah.
Menurut Abuy, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima MI Tegal Koneng relatif kecil karena jumlah siswanya tidak banyak. Besaran BOS sendiri berkaitan dengan jumlah peserta didik.
Keterbatasan dana membuat sekolah kesulitan menggunakan anggaran operasional untuk menangani kerusakan bangunan yang membutuhkan biaya cukup besar.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pihak sekolah. Kerusakan fasilitas juga membuat sejumlah siswa memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah dasar negeri yang lokasinya lebih jauh dari rumah mereka.
Guru Bersyukur Tak Terjadi Saat Jam Belajar
Nendah Hodijah (54), guru kelas I dan II MI Tegal Koneng, mengaku mendengar suara ketika ruang kelas tersebut ambruk pada Sabtu dini hari.
Rumah Nendah berada tidak jauh dari sekolah. Namun, karena hujan masih turun deras, ia tidak langsung keluar untuk melihat kondisi bangunan.
Pada Sabtu pagi, Nendah baru mendatangi sekolah dan melihat langsung ruang kelas yang telah runtuh.
Meski merasa sedih melihat ruang kelas tempat siswa belajar ambruk, Nendah bersyukur kejadian tersebut berlangsung saat dini hari ketika tidak ada kegiatan belajar mengajar.
“Saya tak bisa membayangkan nasib para murid jika peristiwa itu terjadi saat proses belajar di kelas,” tuturnya.
Siswa Kelas I dan II Kehilangan Ruang Belajar
Ambruknya ruang kelas tersebut berdampak langsung terhadap kegiatan belajar siswa MI Tegal Koneng.
Siswa kelas I dan II kehilangan ruang belajar ketika kembali masuk sekolah pada Senin (21/9/2026).
Pihak sekolah kemudian melakukan musyawarah bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Buninagara dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) untuk membahas langkah sementara setelah ruang kelas tidak bisa digunakan.
Salah satu opsi yang disiapkan adalah memindahkan kegiatan belajar siswa ke kobong atau ruang sederhana yang tersedia di lingkungan tersebut.
“Untuk sementara, siswa mungkin belajar lesehan dulu di kobong,” kata Abuy.
Sekolah berharap pemerintah dapat segera memberikan bantuan pembangunan dan perbaikan ruang kelas sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung dengan aman dan normal.
MI Tegal Koneng Berdiri Sejak 1950
MI Tegal Koneng merupakan sekolah yang telah berdiri sejak 1950 dan selama puluhan tahun menjadi salah satu tempat pendidikan bagi masyarakat di sekitarnya.
Para siswa tidak hanya berasal dari Tegalkoneng, tetapi juga sejumlah kampung seperti Dengkeng, Budiasih, Gunungbatu, Cimungkal dan Kadalmoyan.
Karena itu, kondisi bangunan sekolah yang semakin rusak menjadi perhatian bagi masyarakat yang selama ini mengandalkan MI Tegal Koneng sebagai tempat pendidikan anak-anak mereka.
Pihak sekolah berharap persoalan tersebut segera mendapatkan penanganan, terutama karena beberapa ruang lain juga disebut berada dalam kondisi yang perlu diperhatikan.
Perbaikan bukan hanya dibutuhkan agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali normal, tetapi juga untuk memastikan siswa dan guru dapat menjalankan aktivitas pendidikan di lingkungan sekolah yang aman.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










