Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Penantian 8 Tahun! dr. Gia Pratama Menangis Dengar Detak Jantung Calon Buah Hati

Minggu, 1 November 2026 19:03 WIB

Menalo Brace, Klok Gol Indah! Persib Tempel Ketat Persija

Minggu, 1 November 2026 18:02 WIB
Ilustrasi video syur

Bisnis Live Pornografi Raup Rp 750 Juta, Polda Jabar Tangkap 2 Tersangka

Minggu, 1 November 2026 17:30 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Penantian 8 Tahun! dr. Gia Pratama Menangis Dengar Detak Jantung Calon Buah Hati
  • Menalo Brace, Klok Gol Indah! Persib Tempel Ketat Persija
  • Bisnis Live Pornografi Raup Rp 750 Juta, Polda Jabar Tangkap 2 Tersangka
  • Persib Menggila! Unggul 3-0 atas Kalteng FC di Babak Pertama
  • Diduga Mabuk, Pemotor 15 Tahun Hilang Kendali di Jalan AH Nasution
  • Mutombo Absen, Persib Tak Mau Ambil Risiko Jelang Lawan Kalteng FC
  • Diduga Microsleep! Brio Seruduk 3 Kendaraan di Depan UIN Bandung
  • Marc Klok Comeback! Persib Siap Hajar Kalteng FC demi Puncak Klasemen
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 1 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Suka Minum Kopi? Ini Porsi Ideal yang Terbukti Ampuh Jaga Kesehatan Mental

By Aga GustianaJumat, 4 September 2026 10:47 WIB4 Mins Read
Minum kopi rutin dapat mendukung kesehatan perempuan usia paruh baya. (Foto: Pixabay/stokpic)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Bagi sebagian besar orang, menyesap secangkir kopi hangat sudah menjadi ritual wajib untuk mengawali hari. Tak sekadar ampuh mengusir kantuk, kebiasaan ini rupanya menyimpan khasiat yang lebih mendalam bagi kesehatan jiwa. Laporan ilmiah terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders edisi April 2026 mengungkapkan bahwa konsumsi kopi dalam porsi moderat berkorelasi positif dengan tingkat kesehatan mental yang lebih stabil.

Para penikmat kopi yang rutin meminum dua sampai tiga cangkir saban hari terbukti memiliki tingkat risiko yang lebih rendah terserang gangguan mood serta masalah psikologis akibat stres, seperti depresi dan kecemasan berlebih.

Melansir laporan Verywell Health, khasiat perlindungan kesehatan jiwa ini justru tak nampak pada orang yang meminum kopi kurang dari batasan dua hingga tiga cangkir. Namun di sisi lain, menenggak lebih dari tiga cangkir sehari justru bisa berbalik menjadi bumerang—memicu kepanikan, gelisah, hingga merusak pola tidur malam.

Tim ahli mengidentifikasi adanya pola kurva berbentuk huruf J (J-shaped curve) terkait grafik konsumsi dan dampaknya pada kondisi psikologis. Karakteristik ini menandakan bahwa manfaat kopi memiliki ambang batas tertentu, di mana efektivitasnya akan menurun atau bahkan berdampak buruk saat porsinya ditambah secara berlebihan.

Baca Juga:  Sering Dianggap Sepele, 7 Tanda Ini Buktikan Kamu Punya Kecerdasan Emosional di Atas Rata-rata!

Oleh sebab itu, takaran yang moderat dianggap sebagai kunci utama untuk memetik khasiat biologis dari seduhan biji kopi ini.

“Studi ini mendukung bahwa asupan dalam jumlah sedang merupakan ‘titik ideal’, yang sejalan dengan rekomendasi umum mengenai asupan kafein saat ini,” ujar Morgan L. Walker, MS, RD, ahli diet terdaftar di Lebanon Valley College.

Walker menerangkan, saat seseorang melewati ambang batas ideal tersebut, berbagai efek samping yang merugikan tubuh bakal lebih mudah muncul, mulai dari penurunan kualitas tidur hingga timbulnya rasa gelisah. Efek penolakan ini bakal terasa jauh lebih intens pada individu yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap kafein.

Sisi menariknya, riset ini menemukan fakta bahwa variasi genetik dalam sistem metabolisme kafein masing-masing individu tidak memengaruhi kesimpulan akhir. Di samping itu, efek perlindungan terhadap kesehatan jiwa ini tercatat sedikit lebih dominan dirasakan oleh pria.

Baca Juga:  Jangan Ketinggalan, 4 Kopi Unggulan di Jawa Barat Ini Wajib Dicoba

Hasil konsisten juga terlihat pada beragam varian sajian kopi, termasuk varian tanpa kafein (decaf). Fakta tersebut mengindikasikan adanya peran penting dari senyawa non-kafein seperti zat antioksidan serta elemen bioaktif lain yang terkandung di dalam biji kopi.

Walker mengatakan temuan ini memperkuat apa yang sering ia sampaikan, bahwa kopi bisa menjadi bagian dari rutinitas sehat dan dapat memberikan manfaat kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah sedang. Namun, lebih banyak bukan berarti lebih baik.

Kendati demikian, respons biologis setiap individu tetap memegang peranan krusial saat mengonsumsi kopi sehari-hari.

“Sebagian orang merasa nyaman dengan dua cangkir, sementara yang lain mungkin merasakan efek samping dengan jumlah tersebut atau bahkan kurang,” katanya.

Bukan Obat Penawar Gangguan Jiwa

Di balik kabar baik tersebut, para pakar menegaskan agar masyarakat tak menjadikan sajian kopi sebagai medium pengobatan utama saat mengalami gangguan psikologis.

Luciana Soares, MS, RDN, profesor sekaligus direktur Program Magister Sains Nutrisi Klinis & Dietetik Johnson & Wales University memaparkan bahwa seduhan kopi memang ideal dijadikan pelengkap gaya hidup sehat, namun sama sekali bukan terapi penyembuhan.

Baca Juga:  Tren Coffee Shop Experience Bar, Bandung Hadirkan Pengalaman Kopi yang Mendalam

“Penting untuk dipahami bahwa konsumsi kopi tidak boleh digunakan untuk mengobati depresi atau kecemasan,” kata Soares.

“Konsumsi kopi tidak akan langsung membuat seseorang merasa lebih baik.”

Soares memberi catatan kritis bahwa studi ini menganut metode observasional sehingga belum mampu membuktikan relasi sebab-akibat secara langsung. Artinya, meski ada korelasi positif antara kebiasaan minum kopi dan kondisi mental yang prima, mekanisme medis pasti di baliknya masih membutuhkan pembuktian mendalam.

“Konsumsi kopi juga dapat mencerminkan gaya hidup tertentu karena biasanya melibatkan struktur, rutinitas, dan keterlibatan sosial,” kata Soares.

Keterbatasan riset lainnya terletak pada data yang berbasis laporan mandiri (self-reported) dari para responden. Penelitian ini belum mendata secara rinci teknik penyeduhan, rasio bahan tambahan seperti gula, susu, krim perasa, hingga detail pekatnya kopi yang diminum.

“Secara keseluruhan, penting untuk melihat hasil penelitian ini dalam konteksnya,” kata Walker.

“Penelitian ini juga tidak sepenuhnya memperhitungkan faktor-faktor kunci lainnya, seperti kualitas diet secara keseluruhan,” tambahnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

kesehatan mental kopi Manfaat Kopi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Penantian 8 Tahun! dr. Gia Pratama Menangis Dengar Detak Jantung Calon Buah Hati

Mojang Bandung Adjeng Wulandari, Buktikan Prestasi dan Organisasi Bisa Berjalan Beriringan

Raffi Ahmad Minta Maaf Lagi! Ungkap Siapa Pengundangnya ke Bundaran HI

Emas Antam Hari Ini Tertahan di Rp 2,526 Juta, Saatnya Beli?

Bansos

Siap-siap! Rilis 10 November, Syarat Dapat Bansos Digital Wajib Scan Wajah dan NIK

Kabar Terbaru Penyaluran Bansos PKH dan BPNT Kuartal IV 2026: Syarat Desil, Cara Cek, hingga Solusi Dana Belum Cair

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Berkas Kasus UU ITE Bambang Soeharto Hampir Rampung, Simalango Law Firm Soroti Langkah Tersangka Lapor Balik Saksi
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.