bukamata.id – Sebagai landmark kebanggaan warga Jawa Barat, Gedung Sate di Kota Bandung tak pernah luput dari sorotan. Bangunan cagar budaya berarsitektur Neoklasik berkombinasi elemen lokal Nusantara itu tidak sekadar berfungsi sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, melainkan ruang publik tempat ingatan kolektif warga ditautkan.
Namun, ketika tampuk kepemimpinan berganti, wajah kawasan bersejarah ini kerap dipugar sesuai dengan visi arsitektural dan politik sang penguasa. Penataan kawasan Gedung Sate di era Gubernur Ridwan Kamil (2018–2023) kini disandingkan langsung dengan konsep penataan ulang di bawah Gubernur Dedi Mulyadi (KDM) yang meluncurkan kawasan “Pasanggrahan Panca Rasa”. Adu konsep bongkar pasang ini memicu dinamika, apresiasi, hingga kritik tajam dari masyarakat.
Era Ridwan Kamil: Modernisasi Ruang Publik dan Narasi Wisata
Pada penghujung tahun 2019, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil secara resmi menandatangani prasasti pembukaan Taman Gedung Sate yang baru saja selesai direvitalisasi. Emil, sapaan akrab mantan Wali Kota Bandung tersebut, menegaskan bahwa penataan area depan dan belakang gedung bertujuan untuk memperluas ruang terbuka publik dan menyesuaikan fungsi kawasan dengan kebutuhan zaman.
“Bahwa 2020 itu tahun pencanangan Gedung Sate sebagai destinasi wisata, maka pada 2020 Gedung Sate akan dibuka seluas-luasnya untuk masyarakat yang dimulai dengan perbaikan di taman depan dan taman belakang yang selama ini kurang memadai, biasanya orang berfoto-foto ‘kan di aspal (jalanan),” katanya.
Pendekatan arsitektural Emil berfokus pada estetika lanskap modern tanpa mengganggu struktur utama elemen bersejarah. Selain Taman Gedung Sate, beberapa area publik pendukung turut diselaraskan.
“Di waktu yang sama, taman di Saparua, Pusdai, dan Pakuan juga sudah selesai. Jadi silakan warga yang hadir bisa untuk mengapresiasi dan menikmati wajah baru dari lingkungan yang ada dalam kelola Biro Umum Setda Provinsi Jawa Barat,” ucapnya.
Emil optimistis perubahan tersebut membawa dampak psikologis positif bagi warga kota serta wisatawan.
“Kalau sesuai ekspektasi yang penting diapresiasi masyarakat, kalau menurut saya sih sudah sangat baik karena warga dan masyarakat makin mengapresiasi sejarah Gedung Sate. Tahun depan Gedung Sate berusia 100 tahun, jadi memang pada usia 100 tahun Gedung Sate punya wajah baru dan punya interaksi baru dengan masyarakat,” ujarnya.
Dari sisi anggaran, revitalisasi tahap awal era Ridwan Kamil (2018–2019) menghabiskan dana sekitar Rp14,9 miliar hingga Rp18 miliar untuk penataan taman depan dan belakang. Pada tahun 2020, proyek berlanjut dengan tambahan anggaran sekitar Rp23 miliar untuk mempercantik area internal Gedung Sate, Gedung Pakuan, serta GOR Saparua, sehingga total biaya penataan kawasan ini diperkirakan mencapai Rp37,9 miliar hingga Rp60 miliar.
Era Dedi Mulyadi: Pasanggrahan Panca Rasa dan Sentuhan Etnis Nusantara
Memasuki kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi, kawasan Gedung Sate kembali mengalami perombakan mendasar. Pemerintah Provinsi Jawa Barat merampungkan revitalisasi yang melingkupi halaman Gedung Sate, Jalan Diponegoro, hingga Lapangan Gasibu. Kawasan yang diberi nama Pasanggrahan Panca Rasa ini resmi dibuka untuk publik pada 17 Agustus 2026.
Penataan kali ini mengusung nuansa tempo dulu dengan sentuhan arsitektur tradisional Nusantara yang megah. Pemprov Jabar menggelontorkan anggaran sekitar Rp19,7 miliar pada tahap awal (2025) untuk penataan gerbang dan pilar luar, dilanjutkan dengan revitalisasi halaman serta integrasi plaza Gedung Sate-Gasibu senilai Rp15,8 miliar pada 2026. Secara akumulatif, total anggaran penataan era Dedi Mulyadi mencapai sekitar Rp35,6 miliar.
Tujuan utama penataan ini adalah menyatukan akses publik Lapangan Gasibu dengan halaman Gedung Sate, serta merekayasa penataan area luar guna mengurai kemacetan saat ada penyampaian aspirasi atau unjuk rasa.
Respon Warga: Antara Megah, Kerajaan, dan Nilai Estetika
Perubahan drastis pada era Dedi Mulyadi memicu reaksi beragam dari warga yang beraktivitas di sekitar Jalan Diponegoro dan Lapangan Gasibu.
Sejumlah warga menilai area depan kawasan tampak lebih luas dan megah, namun ada catatan kritis terkait keselarasan arsitektur. Teguh (21), seorang warga yang ditemui di lokasi, menyoroti percampuran gaya bangunan.
“Terlihat lebih bagus dan banyak perubahan, terutama di bagian depan karena lebih luas dilihatnya. Tapi menurut saya memang kurang cocok, karena tidak selaras antara bangunan zaman Belanda di-mix dengan budaya Sunda,” ujar Teguh.
Teguh juga mempertanyakan prioritas pembangunan kota.
“Saya akan mengkritik perihal perubahan wajah baru Gedung Sate, apakah perlu merevitalisasi tanpa adanya urgensi dan banyak di Kota Bandung yang harus dibenahi selain Gedung Sate,” katanya.
Teguh memberikan nilai 5 dari 10 untuk wajah baru ini.
Senada dengan Teguh, Luna (22) menilai revitalisasi terbaru terasa berlebihan dan merusak identitas asli Gedung Sate.
“Menurut aku wajah Gedung Sate sekarang malah jadi kurang bagus dibanding sebelumnya. Memang kelihatan lebih megah dan banyak perubahan, tapi menurut aku terlalu ramai dan agak berlebihan,” ujar Luna.
Luna membandingkan hasil kerja dua kepemimpinan tersebut dan menilai revitalisasi era Ridwan Kamil lebih menjaga karakter historis kawasan.
“Yang sekarang justru terasa lebih ramai dan terlalu banyak elemen, terlalu berbau kerajaan,” katanya.
Ia menegaskan pentingnya mempertahankan fungsi utama kawasan.
“Renovasi jangan cuma fokus bikin gedungnya kelihatan lebih megah atau baru, tapi juga harus mikirin fungsi dan karakter aslinya,” ujarnya.
Luna turut memberikan skor 5 dari 10.
Kritik perihal kenyamanan juga disampaikan Nazwa Nindya (21), yang merasa penataan kawasan belum sepenuhnya tuntas.
“Kalau dari perkembangan Gedung Sate sekarang cukup kurang memuaskan, karena mungkin dari progresnya masih 80 persen, jadi aku lebih nyaman ke lapangan yang dulu,” kata Nazwa.
Ia berharap Pemprov Jabar lebih akomodatif terhadap masukan publik.
“Kalau selagi masih renovasi yang 80 persen lebih bisa diperbaiki, terus lebih pendekatan sama pelari ataupun masyarakat sekitar tentang harapan seperti apa yang mereka harapkan,” ujarnya.
Nazwa menyematkan nilai 6 dari 10.
Di sudut lain, apresiasi positif datang dari Apin (18), warga Dago. Menurutnya, pembenahan yang dilakukan pemerintah membawa penyegaran visual yang baik.
“Untuk perkembangannya lumayan sih, bagus-bagus aja,” ujar Apin.
Ia tak ragu memberikan nilai 9 dari 10, meski menyertakan catatan.
“Dari 0 sampai 10 paling 9 sih, soalnya belum lihat hasil jadinya juga,” katanya.
Sorotan Netizen dan Komparasi Anggaran
Gelombang tanggapan juga membanjiri media sosial. Desain gapura baru di Jalan Diponegoro menuai perdebatan hangat di kalangan netizen.
“Banyak sih yang keren2 program KDM, tapi sebagai orang Bandung, bener2 kecewa dengan gapura dipasang di jalan Diponegoro.. ketauan bgt lain urang Bandungna eta nu nata,” ujar netizen.
Netizen lain menyoroti hilangnya beberapa fasilitas pendukung dan vegetasi di kawasan tersebut.
“punten pisan, GORENG!! sampe ngorbanin perpustakaan, sampe ngilangin pohon2 besar, batu prasasti juga gatau kemana tuhh hehee. arsitektur Gedung Sate beda jauh dengan Gapura baru yg di buat alias ga nyambung. keliatan banget sentimen politik dari gub sebelumnya. nuhun,” ujar netizen.
Perbandingan Konsep dan Anggaran Penataan
- Era Ridwan Kamil
- Konsep Utama: Modernisasi ruang terbuka hijau, integrasi wisata publik, serta penataan taman depan dan belakang.
- Total Anggaran: Rp37,9 miliar hingga Rp60 miliar (termasuk Gedung Pakuan dan GOR Saparua).
- Ciri Khas Desain: Sederhana, modern, serta mempertahankan karakter Neoklasik art-deco asli.
- Respon Publik: Dianggap lebih menyatu dengan karakter asli bangunan heritage.
- Era Dedi Mulyadi
- Konsep Utama: Pasanggrahan Panca Rasa, nuansa arsitektur tradisional Nusantara, serta integrasi Plaza Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu.
- Total Anggaran: Rp35,6 miliar (termasuk gapura, pilar luar, dan plaza terintegrasi).
- Ciri Khas Desain: Megah, kaya ornamen arsitektur lokal, serta pembangunan gapura dan pilar ikonik.
- Respon Publik: Dinilai lebih megah dan luas, namun dikritik terlalu ramai dan bernuansa film kolosal.
Perubahan wajah Gedung Sate dari era ke era menunjukkan betapa ruang publik senantiasa menjadi medan dialektika antara fungsi, estetika, identitas budaya, dan kebijakan anggaran. Pada akhirnya, masyarakat Jawa Barat yang menikmati kawasan ini yang akan menentukan: konsep mana yang paling meresap di hati?
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










