bukamata.id – Dunia pendidikan di Kabupaten Subang kembali diguncang oleh insiden yang memantik perdebatan tajam antara guru dan orang tua siswa. Sebuah video yang merekam adu argumen panas di lingkungan sekolah mendadak menyebar luas di media sosial, menyalakan perbincangan publik soal batas antara “mendidik” dan “melakukan kekerasan.”
Dalam video yang viral itu, terlihat seorang wali murid dengan nada tinggi memprotes tindakan seorang guru yang mengaku bernama Rana Setiaputra. Emosi sang orang tua memuncak karena anaknya diduga menjadi korban kekerasan fisik, ditampar oleh sang guru di depan teman-temannya.
Guru Rana tak membantah tuduhan tersebut. Ia mengakui bahwa memang menampar siswa, namun menyebut tindakannya sebagai bentuk disiplin terakhir setelah berbagai teguran tidak dihiraukan.
“Karena diomongkan baik-baik sudah tidak nurut, dengan cara-cara biasa anak-anak sudah pada ngelunjak,” ujar Rana dalam video yang beredar.
Rana mengaku kesabarannya habis ketika beberapa murid ketahuan memanjat tembok sekolah hingga tembok itu roboh. Menurutnya, insiden itu bukan sekadar kenakalan kecil, melainkan tindakan berbahaya yang menuntut reaksi tegas.
Namun, dari sisi orang tua, narasinya berbeda. Melalui akun Instagram @mangdans_, sang ayah menegaskan dirinya tidak membenarkan kekerasan terhadap siswa, meski ia mengakui kesalahan anaknya.
“Saya akui anak saya salah gara-gara manjat tembok sampai roboh, tapi saya tidak suka cara guru sudah pakai kekerasan. Dan bukan anak saya saja yang kena gampar, delapan anak kena gampar,” tulisnya dikutip Rabu (5/11/2025)
Pernyataan itu membuka fakta bahwa dugaan tamparan tidak hanya menimpa satu anak, tetapi delapan siswa sekaligus. Anak yang bersangkutan bahkan mengaku dipukul tiga kali oleh gurunya karena keterlambatan dan aksi nekatnya memanjat pagar sekolah.
Adu Mulut di Sekolah yang Jadi Sorotan
Ketegangan antara wali murid dan guru terekam jelas dalam video yang kemudian diunggah akun gosip @lambe_turah pada Rabu (5/11/2025). Dalam rekaman, sang ayah terlihat menantang guru dengan emosi tinggi, bahkan meminta perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Ini Anda main gampar-gampar aja seorang guru di Subang SMP 2. Liatin tuh, Pak Dedi tolong, Pak!” ucapnya lantang.
Guru Rana menanggapi tanpa gentar. “Laporin aja ke Pak Dedi, laporin ke Pak Dedi, saya tunggu,” balasnya tenang.
Adu argumen berlanjut ketika sang ayah menilai tindakan guru tidak pantas dilakukan di sekolah.
“Harusnya panggil orang tua ya, Pak, jangan main tangan sendiri. Apakah boleh? Sekarang saya tanya, boleh nggak seorang guru gampar-gampar anak? Nggak boleh, Bu, ada undang-undangnya sekarang, Bu,” tegasnya.
Guru Rana menimpali dengan nada menantang, “Undang-undang nomor berapa?”
Sang ayah pun menjawab keras, “Bukan soal undang-undang, Pak, tapi nggak boleh guru main tangan. Jangan sampai kayak gitu.”
Rana kemudian menegaskan bahwa yang ia lakukan masih dalam konteks pendidikan disiplin.
“Bapak mau liat konten Pak Dedi? Sekarang guru boleh mendidik yang sifatnya mendidik,” katanya.
Sang ayah langsung membantah, “Boleh apa? Boleh menggampar? Tidak bisa.”
Guru pun menjawab dingin, “Kalau gamparan saya yang sebenarnya, anak bapak sudah pingsan. Saya kepret begitu.”
Respons dari Dedi Mulyadi: “Harus Diselesaikan dengan Bijak”
Kasus ini makin melebar setelah Dedi Mulyadi ikut turun tangan. Melalui akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71, ia menemui langsung guru yang terlibat untuk meminta klarifikasi.
“Karena anaknya merokok, kemudian berkelahi dan loncat dari tembok sekolah,” jelas sang guru kepada Dedi.
Dedi pun menilai bahwa memang ada pelanggaran dari sisi siswa, namun penyelesaiannya tidak bisa hanya dengan emosi.
“Artinya ada kekeliruan oleh anak tersebut,” ujarnya tegas.
“Saya sudah mendengarkan apa yang menjadi latar belakangnya. Selanjutnya saya juga akan bertemu dengan orang tuanya. Saya pikir masalah ini harus segera selesai.”
Netizen Terbelah: Disiplin atau Kekerasan?
Polemik ini memecah opini publik. Sebagian netizen mengecam tindakan guru, menyebut kekerasan tidak bisa dibenarkan dalam bentuk apa pun. Namun, tak sedikit pula yang menilai sikap orang tua berlebihan dan justru memperburuk citra anak di sekolah.
“Saya dukung orang tua ini, keluarin aja anaknya dan dididik di rumah,” tulis seorang pengguna.
“Anak problematik berasal dari orang tua problematik,” sindir yang lain.
“Calon-calon anak yang di-blacklist sekolah lain. Bapaknya juga bakal ditandain,” tambah komentar lain.
Di Persimpangan Pendidikan
Kasus tamparan di Subang ini bukan sekadar persoalan guru dan murid, tetapi menggambarkan dilema lama dunia pendidikan: di mana batas antara disiplin dan kekerasan? Guru merasa kewalahan menegakkan aturan, sementara orang tua menuntut perlakuan manusiawi.
Selama kedua pihak saling merasa benar, polemik semacam ini akan terus berulang—meninggalkan luka di ruang kelas, dan tanda tanya besar tentang bagaimana sebenarnya mendidik dengan benar
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









