bukamata.id – Viral “link video ibu tiri vs anak tiri” di berbagai platform seperti TikTok, Telegram, X, hingga WhatsApp ternyata bukan sekadar fenomena konten sensasional.
Di balik tautan tersebut, tersimpan ancaman serius berupa malware dan phishing yang berpotensi membobol data pribadi pengguna. Fenomena ini kembali menunjukkan bagaimana kejahatan siber memanfaatkan rasa penasaran publik untuk menyebarkan serangan digital secara masif.
Konten Viral Jadi Umpan Kejahatan Siber
Modus yang digunakan pelaku tergolong klasik, namun masih sangat efektif. Mereka menyebarkan narasi provokatif seperti:
- “Full Video”
- “No Sensor”
- “Part Lanjutan”
Tujuannya bukan untuk menampilkan konten asli, melainkan mengarahkan korban ke situs berbahaya.
“Dampaknya tidak main-main. Pengguna bisa kehilangan akses akun hingga saldo rekening terkuras habis setelah mengklik atau mengunduh file dari link mencurigakan,” menjadi peringatan yang patut diperhatikan.
Riset Kaspersky: Jutaan Pengguna Terancam
Laporan dari Kaspersky Lab mengungkap ancaman yang cukup serius. Jutaan pengguna internet berpotensi terinfeksi malware saat mengakses konten berisiko, termasuk konten viral yang bersifat sensasional.
Pada perangkat Android, ditemukan sedikitnya 23 jenis malware yang memanfaatkan celah ini. Dari sekitar 4,9 juta kasus infeksi, sebanyak 25,4 persen berasal dari akses ke konten berisiko.
Beragam Jenis Malware Mengintai
Serangan malware tidak hanya hadir dalam satu bentuk. Pelaku menggunakan berbagai jenis perangkat lunak berbahaya, antara lain:
- Clickers: Mengarahkan pengguna ke situs berbahaya secara otomatis
- Banking Trojan: Mencuri data keuangan dan akses perbankan
- Ransomware: Mengunci perangkat dan meminta tebusan
- SMS Fraud Malware: Mengirim pesan premium tanpa izin
Beberapa jenis malware bahkan terus berkembang dan belum sepenuhnya terdeteksi oleh sistem keamanan.
Bisa Kuasai Perangkat Tanpa Disadari
Ancaman malware tidak hanya berhenti pada pencurian data. Dalam banyak kasus, malware mampu:
- Menginstal aplikasi tanpa izin
- Menghapus data penting
- Mengambil alih akses perangkat
- Mengganti password pengguna
Akibatnya, korban bisa kehilangan kontrol penuh atas perangkatnya dan mengalami kerugian besar.
Korban Cenderung Tidak Melapor
Salah satu persoalan utama adalah rendahnya tingkat pelaporan. Berdasarkan temuan Kaspersky, korban yang terinfeksi dari konten sensasional cenderung memilih diam.
Faktor rasa malu dan ketidaktahuan membuat banyak kasus tidak terungkap, sehingga memperluas penyebaran serangan siber.
Imbauan: Jangan Mudah Klik Link Viral
Masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap tautan mencurigakan yang beredar di media sosial. Jangan mudah tergiur dengan judul sensasional yang belum jelas kebenarannya.
Langkah sederhana seperti tidak mengklik link sembarangan, memverifikasi sumber informasi, dan menggunakan sistem keamanan pada perangkat dapat mencegah risiko serangan digital.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









