bukamata.id – Demonstrasi besar-besaran yang memicu kerusuhan di berbagai daerah sejak 25 Agustus 2025 disebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berakar dari kesalahan kebijakan ekonomi.
Salah satunya, pemerintah terlalu lama menaruh dana besar di Bank Indonesia ketimbang menggerakkan sektor riil melalui perbankan nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Rabu (10/9/2025), bahwa tekanan ekonomi masyarakat sudah berlangsung lama akibat kebijakan fiskal dan moneter yang tidak tepat.
“Yang kemarin demo itu karena tekanan berkepanjangan di ekonomi, karena kesalahan kebijakan fiskal dan moneter sendiri,” ujarnya.
Menurut Purbaya, dari sisi fiskal, pemerintah lambat membelanjakan anggaran sehingga APBN kurang maksimal menggerakkan perekonomian.
Sementara dari sisi moneter, dana pemerintah justru “parkir” di Bank Indonesia (BI) ketimbang di perbankan komersial. Akibatnya, uang itu tidak mengalir sebagai kredit produktif ke sektor riil.
“Kalau pemerintahnya masih lambat belanjanya dan moneternya juga sama, maka akan lebih buruk dibandingkan dua zaman sebelumnya karena dua mesin mati,” kata Purbaya, membandingkan kondisi saat ini dengan pemerintahan sebelumnya.
Ia berjanji memperbaiki keadaan dengan mempercepat penyerapan belanja pemerintah dan menarik Rp200 triliun dari total Rp425 triliun dana pemerintah yang mengendap di BI untuk dialihkan ke sistem perbankan nasional.
“Quick win-nya di situ. Saya akan balik kondisi yang memburuk karena langkah kita sendiri,” tegasnya.
Sebelumnya, seruan demo 25 Agustus 2025 awalnya beredar lewat grup WhatsApp dan media sosial oleh kelompok “Revolusi Rakyat Indonesia”. Massa menuntut pengusutan dugaan korupsi, pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, hingga pembubaran DPR.
Aksi pada 25 Agustus di Jakarta diikuti ratusan massa dari berbagai elemen. Bentrokan dengan aparat terjadi hingga malam hari. Pada 28 Agustus, serikat buruh menggelar demo menolak outsourcing, upah murah, hingga revisi UU Pemilu.
Namun setelah buruh bubar, mahasiswa dan pelajar berdatangan menuntut pencabutan tunjangan anggota dewan yang mencapai Rp100 juta per bulan.
Puncak eskalasi terjadi ketika kendaraan taktis Brimob menabrak pengemudi online Affan Kurniawan, 21 tahun. Kematian Affan memicu kemarahan publik dan aksi meluas ke berbagai daerah seperti Bandung, Makassar, Surabaya.
Massa juga menyerbu rumah legislator Ahmad Sahroni, Uya Kuya, Eko Patrio hingga Menteri Keuangan Sri Mulyani yang saat itu masih menjabat, menjarah barang berharga, yang disiarkan langsung di TikTok.
Akar persoalan ekonomi yang diungkap Menkeu Purbaya, termasuk dana pemerintah yang mengendap di Bank Indonesia menambah konteks baru di balik gelombang unjuk rasa.
Publik kini menanti langkah cepat pemerintah untuk menyalurkan dana tersebut ke sektor riil agar perekonomian bergerak dan ketegangan sosial mereda.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











