Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Upaya Penyelundupan Sabu saat Besuk, Pengunjung Lapas Banceuy Sembunyikan Barang di Ikat Rambut

Selasa, 27 Oktober 2026 19:44 WIB

Viral Gelang Emas 41 Gram Milik Pasien Diduga Raib di RSUD Cideres Majalengka

Selasa, 27 Oktober 2026 18:24 WIB

Sejajar Al Nassr, Persib Tembus Peringkat 22 Poin Klub AFC

Selasa, 27 Oktober 2026 18:05 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Upaya Penyelundupan Sabu saat Besuk, Pengunjung Lapas Banceuy Sembunyikan Barang di Ikat Rambut
  • Viral Gelang Emas 41 Gram Milik Pasien Diduga Raib di RSUD Cideres Majalengka
  • Sejajar Al Nassr, Persib Tembus Peringkat 22 Poin Klub AFC
  • Merasa Terpukul Atas Meninggalnya Arief, Bos Persib Minta Bobotoh Tahan Diri dan Jangan Balas Dendam
  • 5 Kuliner Bandung Viral 2026 yang Bikin Antre, Harga Mulai Rp8 Ribuan!
  • Tepis Penolakan Warga, DPKP Bandung Tegaskan Skatepark Taman Teuku Umar Hanya 30 Persen
  • Sudah Terdaftar Bansos Tahap 4? Cek di cekbansos.kemensos.go.id Pakai NIK
  • Dua Pemain Muda Persib Dipanggil Timnas U-20, Siap Uji Coba Lawan Amerika Serikat
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 27 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Bukan Vandalisme Biasa! Rahasia di Balik Mural ‘Dicari Penjaga Hutan Jabar’ yang Viral di Cianjur

By Muhammad Rafki Razif KiransyahJumat, 20 Februari 2026 21:05 WIB2 Mins Read
Viral mural di Cianju. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Video yang diunggah akun Instagram @cipanas_melawan pada Kamis (19/2/2026) viral di media sosial. Rekaman tersebut disebut dikirimkan oleh sekelompok pemuda yang mulai bergerak dan bersuara terkait isu lingkungan di kawasan Gunung Gede Pangrango, Kabupaten Cianjur.

Dalam unggahan itu, kelompok tersebut menyampaikan pesan peringatan melalui caption panjang yang berisi kritik terhadap kondisi demokrasi dan lingkungan. Mereka menilai suara masyarakat harus didengar, terutama ketika rakyat mulai enggan berbicara atau mengeluh.

“Jika rakyat pergi ketika penguasa berpidato, kita mesti berhati-hati. Barangkali rakyat sudah putus asa,” tulis mereka. Pesan tersebut juga menyinggung pentingnya keterbukaan terhadap kritik dan usulan masyarakat agar kebenaran tidak terancam.

Video tersebut memperlihatkan mural bertuliskan “Jabar Istimewa?” yang disertai pesan tentang kelestarian lingkungan. Mereka menilai keistimewaan tidak cukup hanya menjadi slogan, melainkan harus diwujudkan melalui keberpihakan terhadap rakyat dan alam.

Menurut kelompok tersebut, gunung bukan sekadar proyek pembangunan. Mereka menyoroti ancaman terhadap aliran air, ruang hidup petani, serta kerusakan lingkungan yang dinilai berpotensi terjadi akibat proyek energi panas bumi.

Aksi ini disebut sebagai bentuk kegelisahan atas konflik ekologis di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kawasan tersebut dinilai memiliki fungsi penting sebagai penyangga kehidupan dan sumber air bagi ribuan warga.

Mereka menegaskan, Gunung Gede Pangrango bukan sekadar lanskap pegunungan, melainkan wilayah konservasi strategis yang harus dijaga dari risiko kerusakan lingkungan maupun konflik sosial.

Tulisan “Di Cari Penjaga Hutan Jawa Barat” dalam mural disebut sebagai sindiran sekaligus seruan moral. Kelompok pemuda itu mempertanyakan siapa pihak yang benar-benar menjaga hutan dan berdiri di garis depan ketika kawasan ekologis dipertaruhkan.

Mereka menegaskan aksi mural tersebut bukan vandalisme tanpa makna, melainkan bentuk ekspresi generasi muda yang melihat adanya ketidaksesuaian antara narasi perlindungan lingkungan dan praktik pembangunan.

Kelompok itu juga menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya agar hutan tidak diperlakukan sebagai ruang kosong untuk investasi tanpa batas. Mereka menekankan gunung bukan sekadar titik koordinat proyek, dan air tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas.

Tagar “Save Gede Pangrango” dalam kampanye tersebut disebut bukan sekadar simbol, melainkan peringatan. Mereka menegaskan generasi muda akan terus mengawal isu lingkungan dan mencatat setiap kebijakan yang berpotensi mengancam kelestarian alam di Jawa Barat.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Upaya Penyelundupan Sabu saat Besuk, Pengunjung Lapas Banceuy Sembunyikan Barang di Ikat Rambut

Viral Gelang Emas 41 Gram Milik Pasien Diduga Raib di RSUD Cideres Majalengka

Tepis Penolakan Warga, DPKP Bandung Tegaskan Skatepark Taman Teuku Umar Hanya 30 Persen

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Sudah Terdaftar Bansos Tahap 4? Cek di cekbansos.kemensos.go.id Pakai NIK

Pabrik Obat Keras Ilegal di Kopo Bandung Diduga Raup Rp8 Miliar Sehari, 10 Orang Jadi Tersangka

Wali Kota Salurkan Santunan untuk Korban Pengeroyokan Pasar Caringin, Dua Orang Tewas

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Lomba Coding SD-SMP 2026 Dibuka, Siswa Ditantang Bikin Solusi Bencana Alam
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Delapan Mahasiswa di Bandung Diamankan Polisi Usai Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.