bukamata.id – Provinsi Jawa Barat, dengan populasi hampir 50 juta jiwa, kini tengah menjadi sorotan tajam menyusul munculnya gelombang kritik dari sektor mahasiswa. Di bawah tajuk “Jabar Istimewa”, masyarakat selama ini kerap disuguhi visual pembangunan yang estetik, peresmian proyek ikonik, hingga narasi keberhasilan yang mendominasi layar ponsel. Namun, pada pertengahan Mei 2026 ini, PKC PMII Jawa Barat mencoba menyingkap apa yang mereka sebut sebagai “panggung sandiwara” di bawah kepemimpinan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Barat secara terbuka melontarkan mosi tidak percaya terhadap arah pembangunan provinsi saat ini. Melalui rangkaian dokumen visual yang diunggah pada akun resmi @pkcpmiijawabarat pada Kamis (14/5/2026), mereka menegaskan satu pesan kuat yang ditujukan langsung kepada pucuk pimpinan daerah: “Jabar Sedang Tidak Baik-Baik Saja.”
1. “Pesta Dedi, Jabar Wadul”: Protes Terhadap Hiper-Pencitraan
Kritik utama yang dilemparkan oleh kelompok intelektual muda ini berfokus pada apa yang mereka sebut sebagai “hiper-pencitraan.” Dalam salah satu poster yang paling mencolok, terlihat visual Gubernur Dedi Mulyadi yang sedang menunggangi kuda putih di tengah tumpukan sampah dan antrean sembako rakyat. Judul besar bertuliskan “PESTA DEDI, JABAR WADUL!” menjadi representasi kegelisahan mahasiswa.
PMII menilai bahwa selama ini tata kelola pemerintahan di bawah Dedi Mulyadi terlalu sibuk memoles tampilan di media sosial dan membangun narasi “Jabar Istimewa” daripada membenahi substansi masalah yang dihadapi rakyat di balik layar citra tersebut. Mahasiswa menyebut fenomena ini sebagai “Panggung Sandiwara Satu Orang,” sebuah sindiran keras terhadap gaya kepemimpinan yang dianggap memusatkan segala keberhasilan pada figur gubernur, sementara kegagalan sistemik tertutup oleh riuhnya konten digital.
2. Pendidikan dan Kesehatan: Hak yang Menjadi “Akrobat”
Masalah fundamental yang paling disorot adalah sektor pendidikan dan kesehatan. Meskipun anggaran dialokasikan dalam jumlah besar, fakta di lapangan menunjukkan kontradiksi yang menyakitkan bagi warga. PMII memamerkan visual sekolah yang hancur, salah satunya SDN Mekarsari 03 di Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur. Di sana, siswa masih harus belajar di bawah atap yang roboh, sangat kontras dengan kemegahan kantor-kantor pemerintahan di pusat kota.
Sektor kesehatan pun tak luput dari serangan. Program kesehatan yang sering dipromosikan sebagai solusi “Gratis” bagi rakyat miskin, kenyataannya disebut sering ditolak oleh pihak rumah sakit. “Pelayanan rumah sakit masih tebang pilih. Rakyat kecil cuma dapat slogan gratis, tapi praktiknya sulit akses,” ungkap narasi dalam kampanye tersebut. Carut-marut PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) juga kembali mencuat sebagai isu tahunan yang gagal diselesaikan secara tuntas oleh Gubernur Dedi Mulyadi, di mana warga berpenghasilan rendah masih kesulitan mendapatkan akses ke sekolah negeri.
3. Ekonomi: Pertumbuhan di Atas Kertas, Harga di Atas Langit
Data makroekonomi Jawa Barat memang seringkali menunjukkan angka pertumbuhan yang tampak impresif. Namun, PMII mengajukan pertanyaan kritis: “Ekonomi Meroket untuk Siapa?” Analisis mahasiswa menunjukkan adanya disparitas yang lebar antara statistik pemerintah dengan isi perut rakyat. Grafik hijau yang menunjukkan kenaikan ekonomi dianggap hanya sebagai simbol pemerintah, sementara realitas rakyat digambarkan dengan lonjakan harga bahan pokok yang mencekik.
Mahasiswa merinci daftar harga yang memberatkan warga saat ini:
- Beras: Rp 16.000/kg
- Minyak: Rp 18.000/L
- Gula: Rp 18.000/kg
- Cabai: Rp 80.000/kg
- Telur: Rp 32.000/kg
“Pertumbuhan cuma di angka, bukan di perut rakyat,” tulis mereka. Tingginya angka pengangguran di Jawa Barat yang masih berada di level mengkhawatirkan menjadi bukti bagi PMII bahwa narasi kesejahteraan yang diusung Gubernur belum mampu menyentuh akar rumput secara merata. Selain itu, praktik birokrasi yang lambat dan maraknya pungutan liar (pungli) dinilai masih menjadi hantu bagi iklim usaha kecil di Jabar.
4. Krisis Ekologis: Lingkungan yang “Dijual” demi Investasi
Isu lingkungan menjadi poin krusial dalam protes kali ini. Pembangunan proyek-proyek besar di kawasan resapan air, khususnya di wilayah Bogor seperti area Eiger dan MNC Lido, dinilai mengancam keselamatan ekologis masyarakat luas. PMII mempertanyakan apakah penegakan aturan lingkungan di bawah kepemimpinan Dedi Mulyadi hanya berlaku bagi rakyat kecil, sementara untuk elite dan pengusaha diberikan karpet merah.
“Kawasan resapan air Bogor terancam. Rakyat yang akan panen banjir, pengusaha yang panen untung,” tulis peringatan tersebut. Alih fungsi lahan yang masif demi ambisi pembangunan fisik dan ekonomi dianggap sebagai bom waktu yang akan merugikan Jawa Barat di masa depan jika tidak segera diaudit secara transparan.
5. Konsolidasi “Reignite PMII Jabar”: Menagih Solusi Nyata
Tidak hanya sekadar melontar kritik, PKC PMII Jawa Barat melalui gerakan “Reignite” menginstruksikan seluruh Ketua Cabang di kota dan kabupaten se-Jawa Barat untuk bergerak melakukan verifikasi data fakta lapangan. Hal ini dilakukan untuk mengonfrontasi kebijakan Gubernur yang dianggap lebih mementingkan alibi daripada solusi.
“Turun ke jalan, bawa fakta bicara nyata!” menjadi seruan penutup. Mahasiswa menekankan bahwa suara mereka bukan untuk diabaikan. Mereka mendesak Gubernur Dedi Mulyadi untuk berhenti menjadi pengolah citra (image maker) dan kembali menjadi pemecah masalah (problem solver).
Dengan munculnya gerakan ini, publik kini menunggu bagaimana respons dari pihak Gedung Sate. Apakah kritik pedas “Jabar Wadul” ini akan dijawab dengan perbaikan kebijakan yang nyata, atau kembali dibalas dengan balutan narasi-narasi estetik di media sosial sebagaimana yang diprotes oleh para mahasiswa selama ini? Satu hal yang pasti, desakan untuk menghentikan “sandiwara” politik kini tengah bergema kencang dari koridor-koridor kampus di seluruh penjuru Jawa Barat.
Hingga berita ini diturunkan, unggahan tersebut telah memicu berbagai reaksi dari netizen.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










