bukamata.id – Senin, 11 Mei 202, Di luar gedung DPRD Kabupaten Jember, matahari mungkin sedang terik, namun di dalam Ruang Rapat Badan Musyawarah (Banmus), suasananya terkendali oleh embusan sejuk pendingin ruangan. Agenda hari itu bukan sekadar seremoni. Para pemangku kebijakan—mulai dari Dinas Kesehatan, BPJS, hingga belasan kepala puskesmas—duduk melingkar untuk membahas satu hal krusial: Campak. Penyakit yang tengah menghantui anak-anak Jember, mengancam nyawa, dan menuntut solusi cepat.
Namun, di tengah paparan data medis yang mendesak, sebuah paradoks tersaji dengan gamblang. Di salah satu sudut meja, seorang pemuda dengan setelan rapi tampak tidak sedang berjibaku dengan dokumen atau mencatat keluhan rakyat. Tangan kirinya menjepit sebatang rokok yang baranya masih menyala, mengepulkan asap di ruang tertutup ber-AC yang seharusnya steril dari polusi. Sementara itu, tangan kanannya sibuk. Matanya terpaku pada layar ponsel yang menyala terang dalam posisi horizontal. Jari-jemarinya lincah menari—bukan mengetik pesan penting, melainkan sedang asyik “push rank” di tengah keriuhan rapat formal.
Sosok itu adalah Achmad Syahri As Siddiqi, atau yang akrab disapa Ra Syahri. Di usianya yang baru 25 tahun, ia adalah representasi harapan anak muda Jember di kursi parlemen masa bakti 2024–2029. Namun, siang itu, ia justru menjadi personifikasi dari apa yang ditakuti publik terhadap politisi muda: sikap abai, defisit etika, dan hilangnya empati terhadap substansi mandat rakyat.
Badai Digital: Dari Layar HP ke Layar Publik
Apa yang dianggap Syahri sebagai hiburan sejenak di tengah rapat yang membosankan, ternyata berujung pada malapetaka citra. Seorang saksi mata merekam aksi tersebut. Video pendek itu tak butuh waktu lama untuk meledak. Pada Selasa, 12 Mei 2026, akun @pak jitu mengunggah rekaman tersebut ke platform Threads dan Instagram. Dalam hitungan jam, video itu menjadi api yang membakar reputasi sang legislator muda.
Amuk digital tak terelakkan. Netizen, yang sebagian besar adalah konstituen yang memberikan suara pada Pemilu lalu, meradang.
“Merokok di ruang rapat. Main game online saat pemaparan. Gini banget SDM wakil rakyat,” tulis akun ekomalikk.
Komentar lain menyoroti ironi lokasi kejadian. Di saat para dokter dan tenaga kesehatan bicara soal cara menyelamatkan paru-paru anak-anak Jember dari campak dan komplikasi pernapasan, sang wakil rakyat justru asyik merokok di depan hidung mereka.
Ketua DPRD Jember, Ahmad Halim, tak punya pilihan selain berdiri di garis depan untuk meredam amarah publik. Wajahnya tampak masygul saat memberikan pernyataan resmi.
“Kami akan proses karena ini menyangkut etika lembaga. Tentu kita tegur yang bersangkutan karena tidak menerapkan sistem kedisiplinan maupun attitude saat di ruang rapat,” tegas Halim dengan nada berat.
Profil Sang “Putra Mahkota” yang Tergelincir
Kejatuhan etika Syahri menjadi sorotan tajam bukan hanya karena tindakannya, tapi karena latar belakangnya yang mentereng. Syahri bukan sekadar politisi pendatang baru; ia adalah bagian dari dinasti politik dan keagamaan yang sangat dihormati di Jember.
- Garis Keturunan: Ia adalah putra sulung dari Achmad Fadil Muzakki Syah (Ra Fadil), mantan Anggota DPR RI yang memiliki pengaruh luas. Lebih dari itu, ia adalah cucu dari KH. Muzakki Syah, pengasuh Pondok Pesantren Al Qodiri yang kharismatik.
- Identitas Santri: Tumbuh di lingkungan pesantren, Syahri membangun citra sebagai politisi santri yang santun dan beradab. Saat kampanye, ia dikenal aktif melakukan pendekatan door to door, membawa janji perubahan dengan narasi “berjuang demi rakyat”.
- Pilihan Komisi: Ironisnya, Syahri sendiri yang memilih untuk duduk di Komisi D. Alasannya saat itu sangat mulia: ia tertarik pada isu pendidikan dan kesehatan karena percaya ilmu adalah kunci memutus rantai kemiskinan.
Saat dilantik pada 21 Agustus 2024, Syahri tampil penuh percaya diri. Ia bahkan sempat melontarkan guyonan yang kini terasa getir.
“Saya ingin seperti bapak saya dalam hal karier menjadi wakil rakyat. Sebagai orang yang besar dan dididik di kalangan pesantren, ini adalah amanah,” ujarnya kala itu.
Janji tinggal janji. Amanah yang ia sebutkan seolah menguap bersama asap rokok yang ia hembuskan di ruang rapat.
Tabir Lama dan Budaya yang Berkarat
Insiden Ra Syahri sebenarnya hanyalah puncak gunung es dari sebuah rahasia umum di Gedung DPRD Jember. Berdasarkan pengamatan lapangan dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas merokok di dalam ruangan ber-AC bukanlah hal baru bagi sebagian anggota dewan. Aturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) seringkali hanya dianggap sebagai pajangan dinding yang tak berlaku bagi para “tuan tanah” politik.
Namun, yang membuat kasus Syahri begitu menyakitkan bagi publik adalah kombinasi dari ketidaksopanan tersebut dengan sikap abai (bermain gim). Hal ini ditafsirkan sebagai bentuk penghinaan total terhadap forum. Saat seorang ahli kesehatan menjelaskan risiko kematian akibat campak, sang anggota dewan justru lebih peduli pada skor di layar ponselnya.
Hal ini memicu reaksi keras dari kalangan mahasiswa di Jember. Bagi mereka, Syahri telah mengkhianati kepercayaan generasi muda. Sebagai legislator termuda, ia seharusnya menjadi motor penggerak profesionalisme, bukan justru mengadopsi—bahkan memperparah—kebiasaan buruk para politisi senior yang selama ini dikritik.
Penyesalan di Balik Kata Maaf
Setelah gelombang kecaman tak lagi terbendung, Achmad Syahri akhirnya muncul ke publik untuk melakukan klarifikasi. Tidak ada lagi gaya santai dengan rokok di tangan. Dalam sebuah video permohonan maaf, wajahnya tampak lebih kuyu, menyadari bahwa karier politiknya yang baru seumur jagung kini terancam noda hitam yang sulit dihapus.
“Ini murni kesalahan saya pribadi. Saya meminta maaf kepada masyarakat Jember, pimpinan DPRD, serta anak-anak muda yang menaruh harapan kepada wakil rakyat,” ujar Syahri dengan suara yang tidak seberani saat ia dilantik.
Ia mengakui bahwa tindakannya adalah sebuah kekhilafan yang mencederai etika lembaga legislatif. Syahri menyatakan siap menanggung segala konsekuensi, baik dari internal Fraksi Gerindra maupun dari Badan Kehormatan (BK) DPRD Jember.
“Saya tidak akan menghindar dari tanggung jawab. Jika ada sanksi, saya siap menerimanya,” tambahnya sebagai upaya untuk menunjukkan sikap ksatria di tengah keterpurukan citra.
Sebuah Refleksi: Lebih dari Sekadar Game Online
Kasus Ra Syahri adalah pengingat keras bagi setiap pejabat publik. Di era digital, di mana setiap mata bisa menjadi kamera dan setiap warga bisa menjadi wartawan, transparansi bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Dinding-dinding ruang rapat dewan tidak lagi kedap suara maupun kedap penglihatan publik.
Kejadian ini juga menjadi cermin bagi partai politik dalam melakukan kaderisasi. Usia muda ternyata tidak menjamin progresivitas jika tidak dibarengi dengan pemahaman etika publik yang kuat. Menjadi wakil rakyat bukan sekadar memenangkan kursi melalui nama besar keluarga atau logistik yang melimpah, melainkan tentang ketahanan mental untuk tetap fokus pada urusan rakyat, bahkan di tengah rapat yang paling melelahkan sekalipun.
Asap rokok Syahri mungkin telah disapu bersih oleh sistem filtrasi udara di ruang Banmus, namun jejak digital aksinya akan terus tersimpan sebagai pengingat pahit. Rakyat Jember kini menanti: apakah permohonan maaf ini akan diikuti oleh perubahan perilaku yang nyata, ataukah kursi empuk parlemen memang benar-benar memiliki efek samping “amnesia” terhadap mandat rakyat?
Bagi Ra Syahri, perjalanan untuk memulihkan kepercayaan publik akan jauh lebih sulit daripada sekadar memenangkan satu pertandingan di game online. Ia kini sedang memainkan “permainan” yang sesungguhnya: mempertahankan integritas di mata jutaan warga yang ia wakili. Dan dalam permainan ini, tidak ada tombol restart.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










