bukamata.id – Meningkatnya populasi tikus di kawasan Bandung Raya mulai memunculkan perhatian terhadap potensi risiko penyakit yang ditularkan hewan pengerat, termasuk hantavirus.
Sejumlah kawasan padat penduduk seperti pasar tradisional, saluran drainase, pusat kuliner, hingga area permukiman dilaporkan mengalami peningkatan aktivitas tikus dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi tersebut dinilai berkaitan dengan tingginya produksi sampah, khususnya limbah makanan yang menjadi sumber pakan utama hewan pengerat di lingkungan perkotaan.
Sampah Makanan Dinilai Picu Peningkatan Populasi Tikus
Berdasarkan data pengelolaan lingkungan, volume sampah di Kota Bandung beberapa tahun terakhir mencapai ribuan ton per hari. Sebagian besar di antaranya merupakan sampah organik atau sisa makanan.
Akumulasi sampah organik yang tidak tertangani secara optimal dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangbiakan tikus rumah maupun tikus got.
Selain itu, keterbatasan kapasitas pengelolaan sampah dan tingginya ketergantungan wilayah Bandung Raya terhadap fasilitas pembuangan akhir juga dinilai menjadi tantangan tersendiri.
Fenomena tersebut juga terlihat dari meningkatnya keluhan masyarakat terkait keberadaan tikus di lingkungan rumah, tempat usaha, restoran, hingga gudang penyimpanan makanan.
Hantavirus Ditularkan Melalui Hewan Pengerat
Peneliti menyebut hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan melalui rodensia atau hewan pengerat, terutama tikus liar. Beberapa jenis yang dapat menjadi pembawa virus antara lain tikus rumah, tikus got, tikus ladang, dan mencit liar.
Penularan virus umumnya terjadi melalui partikel dari urin, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi, bukan semata-mata melalui gigitan.
BRIN dan Kemenkes Minta Masyarakat Tetap Tenang
Perhatian terhadap hantavirus meningkat setelah muncul kasus di luar negeri yang menjadi sorotan internasional. Salah satu jenis yang banyak dibahas adalah Andes virus yang ditemukan di kawasan Amerika Selatan. Namun hingga saat ini, peneliti menyatakan galur Andes belum pernah ditemukan di Indonesia.
Kementerian Kesehatan juga menegaskan bahwa jenis hantavirus yang pernah teridentifikasi di Indonesia berbeda dengan kasus yang ramai diperbincangkan saat ini.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional, Ristiyanto, menjelaskan beberapa jenis tikus yang hidup dekat manusia diketahui dapat menjadi reservoir atau pembawa hantavirus.
“Hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan melalui rodensia atau hewan pengerat, terutama tikus liar,” ujar Ristiyanto dalam keterangan resminya.
Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan
Untuk mengurangi risiko paparan penyakit dari hewan pengerat, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah sederhana:
- Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar
- Mengelola sampah makanan dengan baik
- Menutup akses masuk tikus ke rumah atau bangunan
- Membersihkan area lembap dan saluran air secara berkala
- Menghindari kontak langsung dengan kotoran atau bangkai tikus
Meningkatnya populasi tikus di kawasan perkotaan menjadi pengingat pentingnya menjaga sanitasi lingkungan. Selain berkaitan dengan kenyamanan, kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










