Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Sering Bikin Penasaran, Ini Arti Desil 6–10 dan Alasan Tak Jadi Prioritas Bansos

Jumat, 21 Agustus 2026 09:48 WIB

Inikah Tahun Terparah? 1.487 Titik Api Kepung Kalimantan, Jeritan Warga di Bawah Langit Merah!

Jumat, 21 Agustus 2026 09:25 WIB

Bansos BPNT Cair Agustus 2026: Cek NIK KTP Anda, 18 Juta Penerima Siap Terima Bantuan

Jumat, 21 Agustus 2026 06:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Sering Bikin Penasaran, Ini Arti Desil 6–10 dan Alasan Tak Jadi Prioritas Bansos
  • Inikah Tahun Terparah? 1.487 Titik Api Kepung Kalimantan, Jeritan Warga di Bawah Langit Merah!
  • Bansos BPNT Cair Agustus 2026: Cek NIK KTP Anda, 18 Juta Penerima Siap Terima Bantuan
  • NIK KTP Jadi Kunci! Cek BPNT Agustus 2026 Sekarang, Bantuan Rp600 Ribu Menanti
  • 4 Gol dalam 7 Laga! Balsa Sekulic Jadi Mesin Gol Persib Jelang Play-off ACL Two
  • Kapan PKH dan BPNT 2026 Cair? Ini Jadwal Tahap 3 dan Cara Cek Bansos Pakai NIK KTP
  • Klaim Saldo DANA Gratis 21 Agustus 2026: Dapatkan Link DANA Kaget dan Bonus Saldo Langsung Cair
  • Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 21 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

‘Riweuh’ Karena Nama: Kebijakan Sekolah Maung Dedi Mulyadi Panen Kritik Netizen

By Aga GustianaKamis, 14 Mei 2026 10:17 WIB2 Mins Read
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Foto: bukamata.id/ M Rafki.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menyulap 41 sekolah menjadi Sekolah Manusia Unggul (Maung) pada 2026/2027 bukannya mendapat apresiasi, justru berbuah kritik pedas. Bukan soal ambisi prestasinya yang disorot, melainkan rencana penghapusan nama-nama sekolah legendaris serta ketimpangan prioritas anggaran.

Identitas Sejarah yang Terancam

Keresahan terbesar muncul dari rencana perubahan nama sekolah bersejarah seperti SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung. Netizen menilai, mengubah nama sekolah yang sudah berdiri sejak 1916 tersebut adalah langkah nir-empati terhadap nilai historis dan kebanggaan alumni.

“Atuh euy semuanpunya sejarah sendiri tong di rubah rubah.. Atawa sakalian gedong sate diganti jadi gedung opak.. khas subang,” tulis salah satu netizen di kolom komentar unggahan akun Instagram @infowarungkopi, dikutip Kamis (14/5/2026).

Kekhawatiran lain muncul dari sisi administratif. Perubahan nama sekolah dianggap hanya akan menambah beban birokrasi bagi para alumni di masa depan. “Saya setuju untuk menghapus zonasi… tapi untuk mengubah nama sekolah itu berpotensi membuat ‘riweuh’ urusan apalagi ketika legalisir ijazah untuk keperluan registrasi,” komentar warganet lainnya yang mencemaskan kerumitan dokumen legal.

Kontras Kesejahteraan Guru yang Terabaikan

Kritik paling menohok justru datang dari sisi kemanusiaan. Di saat Pemprov Jabar sibuk melakukan rebranding sekolah dengan fasilitas khusus, kondisi kesejahteraan guru honorer di Jawa Barat disebut masih memprihatinkan.

Netizen mengingatkan Gubernur Dedi Mulyadi bahwa kualitas pendidikan bukan soal nama, melainkan manusia di dalamnya: “Lebih baik mikirin kesejahteraan guru dulu pak byk guru di Jabar gajinya di layak 300ribu perbulan itupun di bayarkan 3 bulan sekali.”

Nostalgia atau Solusi?

Gubernur Dedi Mulyadi sendiri bersikeras bahwa langkah ini adalah bentuk intervensi agar anak-anak berprestasi tetap memiliki wadah di sekolah negeri. Ia berdalih: “Dampaknya ke depan, kalau ini terus-terusan pemerintah provinsi membiarkan, maka nanti yang sekolah di sekolah swasta adalah anak orang kaya, anak pejabat, anak pejabat tinggi, anak anggota DPRD.”

Namun, bagi publik, dalih tersebut terasa hambar jika dibarengi dengan kebijakan “ganti nama” yang dianggap minim urgensi. Publik melihat ada ego sektoral yang dipaksakan dalam penggunaan istilah “Maung”, yang justru berpotensi menjadi bahan olok-olok generasi mendatang.

“Ntar ditanya anak aku pas dia udh gede ‘mama alumni sma mana?’ ‘Mama alumni sma MAUNG’ seriusan atuh pak @kdm_jawabarat masih banyak hal2 penting di bandung dan lainnya yg harus diurus drpd ganti nama kaya gini!” keluh netizen lain menutup polemik yang kian memanas di media sosial.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi jawa barat Pendidikan Jabar Sekolah Maung SMAN 3 Bandung SMAN 5 Bandung
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Inikah Tahun Terparah? 1.487 Titik Api Kepung Kalimantan, Jeritan Warga di Bawah Langit Merah!

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

NIK KTP Jadi Kunci! Cek BPNT Agustus 2026 Sekarang, Bantuan Rp600 Ribu Menanti

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Kapan PKH dan BPNT 2026 Cair? Ini Jadwal Tahap 3 dan Cara Cek Bansos Pakai NIK KTP

Malaysia Kena Imbas Karhutla di Kalimantan, 108 Sekolah Tutup Sementara

Ilustrasi virus HIV/AIDS

Kasus HIV/AIDS di Kuningan Naik Tiap Tahun: Tembus 1.354 Penderita, Merata di 32 Kecamatan

BPNT Agustus 2026 Cair Bertahap! Cek Penerima Bansos Pakai NIK KTP, 18,25 Juta KPM Terdata

Terpopuler
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Auto Resign Massal? Rahasia Gaji Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg yang Bikin Heboh Indonesia!
  • Mengenal Susanah, Ibu Pengupas Bawang Asal Bogor yang Disebut Prabowo Diupah Rp700 Ribu per Kg
  • Menembus Angka 75,90: Menguji Rekor IPM Jawa Barat di Tengah Bayang Ketimpangan
  • Pidato Presiden Sebut Upah Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg Viral, Begini Kata Istana
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.