Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Jangan Panik! Ini Alasan Bansos Oktober 2026 Belum Cair dan Cara Mengatasinya

Minggu, 11 Oktober 2026 14:02 WIB

Dari Bubur Ayam hingga Nasi Goreng, Ini 5 Tempat Makan 24 Jam di Bandung

Minggu, 11 Oktober 2026 13:02 WIB

Persib vs Dewa United: Igor Tolic Waspadai Egy, Tiga Pemain Maung Bandung Berpeluang Pulih

Minggu, 11 Oktober 2026 12:04 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Jangan Panik! Ini Alasan Bansos Oktober 2026 Belum Cair dan Cara Mengatasinya
  • Dari Bubur Ayam hingga Nasi Goreng, Ini 5 Tempat Makan 24 Jam di Bandung
  • Persib vs Dewa United: Igor Tolic Waspadai Egy, Tiga Pemain Maung Bandung Berpeluang Pulih
  • Chelsea Bantai Bournemouth 5-1, Henderson dan Joao Pedro Sama-sama Cetak Brace
  • Video Dugaan Bullying di Tel-U Viral, Satgas PPKPT Mulai Turun Tangan
  • Incess Bingung saat Live TikTok, Cerita Panik saat Pertama Kali Dapat Paus
  • Mau Nonton Persib vs Dewa United? Catat Lokasi dan Jam Tukar Tiketnya!
  • Cek Harga Emas Pegadaian Minggu 11 Oktober 2026, Antam Masih Rp2,631 Juta per Gram
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 11 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

‘Riweuh’ Karena Nama: Kebijakan Sekolah Maung Dedi Mulyadi Panen Kritik Netizen

By Aga GustianaKamis, 14 Mei 2026 10:17 WIB2 Mins Read
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Foto: bukamata.id/ M Rafki.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menyulap 41 sekolah menjadi Sekolah Manusia Unggul (Maung) pada 2026/2027 bukannya mendapat apresiasi, justru berbuah kritik pedas. Bukan soal ambisi prestasinya yang disorot, melainkan rencana penghapusan nama-nama sekolah legendaris serta ketimpangan prioritas anggaran.

Identitas Sejarah yang Terancam

Keresahan terbesar muncul dari rencana perubahan nama sekolah bersejarah seperti SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung. Netizen menilai, mengubah nama sekolah yang sudah berdiri sejak 1916 tersebut adalah langkah nir-empati terhadap nilai historis dan kebanggaan alumni.

“Atuh euy semuanpunya sejarah sendiri tong di rubah rubah.. Atawa sakalian gedong sate diganti jadi gedung opak.. khas subang,” tulis salah satu netizen di kolom komentar unggahan akun Instagram @infowarungkopi, dikutip Kamis (14/5/2026).

Kekhawatiran lain muncul dari sisi administratif. Perubahan nama sekolah dianggap hanya akan menambah beban birokrasi bagi para alumni di masa depan. “Saya setuju untuk menghapus zonasi… tapi untuk mengubah nama sekolah itu berpotensi membuat ‘riweuh’ urusan apalagi ketika legalisir ijazah untuk keperluan registrasi,” komentar warganet lainnya yang mencemaskan kerumitan dokumen legal.

Baca Juga:  Ribuan Orang Padati Stadion Sidolig Jelang Arak-arakan Pendaftaran Dedi-Erwan

Kontras Kesejahteraan Guru yang Terabaikan

Kritik paling menohok justru datang dari sisi kemanusiaan. Di saat Pemprov Jabar sibuk melakukan rebranding sekolah dengan fasilitas khusus, kondisi kesejahteraan guru honorer di Jawa Barat disebut masih memprihatinkan.

Baca Juga:  MQ Iswara hingga Atalia Diisukan Jadi Pendamping Dedi Mulyadi yang Disiapkan Golkar

Netizen mengingatkan Gubernur Dedi Mulyadi bahwa kualitas pendidikan bukan soal nama, melainkan manusia di dalamnya: “Lebih baik mikirin kesejahteraan guru dulu pak byk guru di Jabar gajinya di layak 300ribu perbulan itupun di bayarkan 3 bulan sekali.”

Nostalgia atau Solusi?

Gubernur Dedi Mulyadi sendiri bersikeras bahwa langkah ini adalah bentuk intervensi agar anak-anak berprestasi tetap memiliki wadah di sekolah negeri. Ia berdalih: “Dampaknya ke depan, kalau ini terus-terusan pemerintah provinsi membiarkan, maka nanti yang sekolah di sekolah swasta adalah anak orang kaya, anak pejabat, anak pejabat tinggi, anak anggota DPRD.”

Baca Juga:  Ketok Palu! DPRD Jabar Serahkan Rekomendasi LKPJ 2025, Jadi Acuan Kebijakan Strategis Dedi Mulyadi

Namun, bagi publik, dalih tersebut terasa hambar jika dibarengi dengan kebijakan “ganti nama” yang dianggap minim urgensi. Publik melihat ada ego sektoral yang dipaksakan dalam penggunaan istilah “Maung”, yang justru berpotensi menjadi bahan olok-olok generasi mendatang.

“Ntar ditanya anak aku pas dia udh gede ‘mama alumni sma mana?’ ‘Mama alumni sma MAUNG’ seriusan atuh pak @kdm_jawabarat masih banyak hal2 penting di bandung dan lainnya yg harus diurus drpd ganti nama kaya gini!” keluh netizen lain menutup polemik yang kian memanas di media sosial.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi jawa barat Pendidikan Jabar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Jangan Panik! Ini Alasan Bansos Oktober 2026 Belum Cair dan Cara Mengatasinya

Video Dugaan Bullying di Tel-U Viral, Satgas PPKPT Mulai Turun Tangan

Viral Dugaan Bullying di Asrama Telkom University, Mahasiswa Pilih Tidur di Lobi

Ilustrasi tsunami

Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas

Dua Anak Punk Hilang Misterius di Irigasi Johar Karawang Usai Terlibat Perkelahian

Soroti Jasa Medis Cuma Rp20 Ribu, Anggota DPRD Jabar Sentil Pemprov Soal MoU 65 Rumah Sakit

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
  • SEJARAH! Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Puasa Gelar 35 Tahun Berakhir
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.