Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Video 6 Menit Guru Bahasa Inggris Viral di TikTok dan X, Ternyata Banyak Kejanggalan

Kamis, 14 Mei 2026 10:45 WIB

Lama Menghilang, Dado Akhirnya Kembali dan Bantu Persib Tumbangkan Persija

Kamis, 14 Mei 2026 10:32 WIB

Sinergi Kreatif: Abizar Machmud dan Menteri LH Perkuat Gerakan Lingkungan Jabar

Kamis, 14 Mei 2026 10:23 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Video 6 Menit Guru Bahasa Inggris Viral di TikTok dan X, Ternyata Banyak Kejanggalan
  • Lama Menghilang, Dado Akhirnya Kembali dan Bantu Persib Tumbangkan Persija
  • Sinergi Kreatif: Abizar Machmud dan Menteri LH Perkuat Gerakan Lingkungan Jabar
  • ‘Riweuh’ Karena Nama: Kebijakan Sekolah Maung Dedi Mulyadi Panen Kritik Netizen
  • Juri Panik! Ocha Dapat Beasiswa China, Panitia LCC Malah Terancam Masuk Penjara?
  • Persib Bandung Kena Sanksi Berat AFC: Denda Miliaran Rupiah dan Laga Tanpa Penonton
  • Update Harga Emas Hari Ini 14 Mei: Antam, UBS, dan Galeri 24 Kompak Berubah
  • Klaim Segera! Kode Redeem FF Terbaru 14 Mei 2026: Peluang Dapat Skin M1887 Terompet dan Diamond Gratis
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 14 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

‘Riweuh’ Karena Nama: Kebijakan Sekolah Maung Dedi Mulyadi Panen Kritik Netizen

By Aga GustianaKamis, 14 Mei 2026 10:17 WIB2 Mins Read
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Foto: bukamata.id/ M Rafki.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menyulap 41 sekolah menjadi Sekolah Manusia Unggul (Maung) pada 2026/2027 bukannya mendapat apresiasi, justru berbuah kritik pedas. Bukan soal ambisi prestasinya yang disorot, melainkan rencana penghapusan nama-nama sekolah legendaris serta ketimpangan prioritas anggaran.

Identitas Sejarah yang Terancam

Keresahan terbesar muncul dari rencana perubahan nama sekolah bersejarah seperti SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung. Netizen menilai, mengubah nama sekolah yang sudah berdiri sejak 1916 tersebut adalah langkah nir-empati terhadap nilai historis dan kebanggaan alumni.

“Atuh euy semuanpunya sejarah sendiri tong di rubah rubah.. Atawa sakalian gedong sate diganti jadi gedung opak.. khas subang,” tulis salah satu netizen di kolom komentar unggahan akun Instagram @infowarungkopi, dikutip Kamis (14/5/2026).

Kekhawatiran lain muncul dari sisi administratif. Perubahan nama sekolah dianggap hanya akan menambah beban birokrasi bagi para alumni di masa depan. “Saya setuju untuk menghapus zonasi… tapi untuk mengubah nama sekolah itu berpotensi membuat ‘riweuh’ urusan apalagi ketika legalisir ijazah untuk keperluan registrasi,” komentar warganet lainnya yang mencemaskan kerumitan dokumen legal.

Baca Juga:  Cagub Dedi Mulyadi Paparkan 4 Pilar Pembangunan di Debat Perdana Pilgub Jabar

Kontras Kesejahteraan Guru yang Terabaikan

Kritik paling menohok justru datang dari sisi kemanusiaan. Di saat Pemprov Jabar sibuk melakukan rebranding sekolah dengan fasilitas khusus, kondisi kesejahteraan guru honorer di Jawa Barat disebut masih memprihatinkan.

Netizen mengingatkan Gubernur Dedi Mulyadi bahwa kualitas pendidikan bukan soal nama, melainkan manusia di dalamnya: “Lebih baik mikirin kesejahteraan guru dulu pak byk guru di Jabar gajinya di layak 300ribu perbulan itupun di bayarkan 3 bulan sekali.”

Baca Juga:  Aduan Pilkada Lebih Mudah Melalui Sapawarga, Ini Cara Aksesnya

Nostalgia atau Solusi?

Gubernur Dedi Mulyadi sendiri bersikeras bahwa langkah ini adalah bentuk intervensi agar anak-anak berprestasi tetap memiliki wadah di sekolah negeri. Ia berdalih: “Dampaknya ke depan, kalau ini terus-terusan pemerintah provinsi membiarkan, maka nanti yang sekolah di sekolah swasta adalah anak orang kaya, anak pejabat, anak pejabat tinggi, anak anggota DPRD.”

Baca Juga:  Ribuan Buruh Jabar Lakukan Aksi Lanjutan Keputusan UMK di Kantor Disnakertrans

Namun, bagi publik, dalih tersebut terasa hambar jika dibarengi dengan kebijakan “ganti nama” yang dianggap minim urgensi. Publik melihat ada ego sektoral yang dipaksakan dalam penggunaan istilah “Maung”, yang justru berpotensi menjadi bahan olok-olok generasi mendatang.

“Ntar ditanya anak aku pas dia udh gede ‘mama alumni sma mana?’ ‘Mama alumni sma MAUNG’ seriusan atuh pak @kdm_jawabarat masih banyak hal2 penting di bandung dan lainnya yg harus diurus drpd ganti nama kaya gini!” keluh netizen lain menutup polemik yang kian memanas di media sosial.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi jawa barat Pendidikan Jabar Sekolah Maung SMAN 3 Bandung SMAN 5 Bandung
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Sinergi Kreatif: Abizar Machmud dan Menteri LH Perkuat Gerakan Lingkungan Jabar

Juri Panik! Ocha Dapat Beasiswa China, Panitia LCC Malah Terancam Masuk Penjara?

Pakar ITB Kritik Wacana PKB Diganti Jalan Provinsi Berbayar: Campur Dua Hal Berbeda

Wacana PKB Dihapus Diganti Jalan Provinsi Berbayar, Warga Jabar: Menarik Tapi Masih Membingungkan

Bandung Sehat Dimulai dari Rumah: Edukasi Gizi Tekankan Pola Makan Seimbang, Tidur Cukup, dan Gaya Hidup Aktif

ITB dan Pemkot Bandung Percepat Solusi Sampah Tamansari, Dorong Ekonomi Sirkular Berbasis Teknologi

Terpopuler
  • Link Full Video Guru Bahasa Inggris Viral Banyak Dicari, Publik Diingatkan Bahaya Phishing
  • Link Video Guru Bahasa Inggris Ramai Dicari, Link 6 Menit Ternyata Jebakan Phishing
  • Link Video Guru Bahasa Inggris Viral Berdurasi Panjang Ramai Dicari, Ini Faktanya
  • Link Video Bu Guru Bahasa Inggris Diburu Netizen, Identitas Pemeran Masih Misterius
  • Persib Bandung Gigit Jari? Striker Abroad Timnas Indonesia Dipastikan Bertahan di Eropa Musim Depan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.