Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Kasus Tidak Unsur Pidana? Begini Akhir Tragis Dugaan Pungli Alkid Jogja yang Bikin Netizen Geram!

Sabtu, 3 Oktober 2026 18:12 WIB

Ujian Kedalaman Skuad Persib di Oktober 2026: 7 Laga Padat Bikin Maung Bandung Wajib Rotasi Total

Sabtu, 3 Oktober 2026 17:30 WIB

Diabaikan Negara Sendiri? Viral Cerita Atlet Indonesia Peraih 60 Medali Hasil Dukungan Sponsor Luar Negeri

Sabtu, 3 Oktober 2026 14:57 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kasus Tidak Unsur Pidana? Begini Akhir Tragis Dugaan Pungli Alkid Jogja yang Bikin Netizen Geram!
  • Ujian Kedalaman Skuad Persib di Oktober 2026: 7 Laga Padat Bikin Maung Bandung Wajib Rotasi Total
  • Diabaikan Negara Sendiri? Viral Cerita Atlet Indonesia Peraih 60 Medali Hasil Dukungan Sponsor Luar Negeri
  • Pemerintah Siapkan BSU 2026 Sebesar Rp900 Ribu, Cek Jadwal Pencairan dan Syarat Penerimanya
  • Profil Irjen Hengki: Dari Jajaran Reserse hingga Resmi Menakhodai Polda Jawa Barat
  • Bikin Geregetan! Sosok Aedan Scipio, Pesepakbola Berambut Nyaris 2 Meter yang Guncang Dunia
  • Tampil Bersama Raline Shah di Art Jakarta 2026, Ketua Kreator Jabar Soroti Pentingnya Seni Digital
  • Blunder Dedi Mulyadi, Polemik Data Center AI Ancam Kepercayaan Investor
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 3 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Wacana PKB Dihapus Diganti Jalan Provinsi Berbayar, Warga Jabar: Menarik Tapi Masih Membingungkan

By Muhammad Rafki Razif KiransyahRabu, 13 Mei 2026 22:20 WIB2 Mins Read
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Wacana Dedi Mulyadi untuk menghapus Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan menggantinya dengan sistem jalan provinsi berbayar menuai beragam respons dari masyarakat.

Sebagian warga menilai ide tersebut menarik dan bisa menjadi alternatif baru, namun pelaksanaannya dianggap masih membingungkan serta perlu kajian yang lebih matang.

Afrizal Pramestu (20), warga Cihapit, menilai konsep itu bisa diterima jika biaya yang dikeluarkan masyarakat lebih murah dibanding membayar pajak tahunan kendaraan.

“Bagaimana perhitungannya. Konsepnya bagus kalau memang bisa lebih murah ketimbang bayar pajak tahunan. Tapi bingung juga ini kalau pakai jalan milik kota,” katanya di kawasan Taman Cibeunying Utara, Rabu (13/5/2026).

Baca Juga:  Dibangun Tanpa Arah, Dikelola Tanpa Kendali: Lingkungan Jawa Barat di Titik Kritis

Menurutnya, pemerintah perlu menjelaskan secara rinci jalan mana saja yang termasuk jalan provinsi dan akan dikenai tarif.

“Harusnya ini dimatangkan lagi konsepnya. Terus juga kalau memang diterapkan harus jelas batas-batasnya mana saja,” ujarnya.

Sementara itu, Ihsan Sopian (32), warga Jatinangor, menilai konsep tersebut terdengar adil karena kendaraan listrik yang saat ini bebas pajak tetap ikut berkontribusi terhadap pendapatan daerah.

Namun ia menilai sistem pelaksanaannya harus benar-benar matang agar tidak membingungkan masyarakat.

Baca Juga:  Efisiensi Anggaran Capai 5 Triliun, Ini Rencana Dedi Mulyadi

“Sistemnya, teknisnya gimana, apakah ini itu jalan provinsi dari mana. Kebayang juga setiap kali masuk jalan provinsi ada mirip pintu kayak tol,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tarif yang harus jelas agar tidak memberatkan warga yang setiap hari melintasi jalan provinsi.

“Kalau setiap hari pakai jalan provinsi kemungkinan biaya juga bisa membengkak,” tuturnya.

Pendapat lain datang dari Rizal Sunandar (26), warga Rancaekek. Ia mempertanyakan munculnya wacana jalan berbayar di tengah kondisi infrastruktur yang menurutnya masih banyak rusak.

“Sampai muncul ide jalan harus berbayar. Prosesnya pasti panjang, jalannya katanya harus mulus dulu, tapi kan faktanya di lapangan masih banyak jalan jelek,” kata Rizal.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Ditantang Bongkar Restoran Asep Stroberi Puncak Bogor, Berani Gak?

Ia menambahkan, kesiapan infrastruktur pendukung juga harus menjadi perhatian utama sebelum kebijakan diterapkan.

Sebelumnya, Dedi Mulyadi menjelaskan wacana itu muncul karena kendaraan listrik saat ini belum dikenai PKB, padahal tetap menggunakan jalan dan berkontribusi terhadap kerusakan infrastruktur.

Meski demikian, ia menegaskan rencana tersebut masih sebatas konsep dan belum menjadi keputusan resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Namanya konsep, kan perlu dikaji, ini lagi dikaji,” ujar Dedi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi pajak kendaraan bermotor
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kasus Tidak Unsur Pidana? Begini Akhir Tragis Dugaan Pungli Alkid Jogja yang Bikin Netizen Geram!

Profil Irjen Hengki: Dari Jajaran Reserse hingga Resmi Menakhodai Polda Jawa Barat

Blunder Dedi Mulyadi, Polemik Data Center AI Ancam Kepercayaan Investor

Naik Kelas Lewat Gentengisasi: Asa Baru Perajin Tanah Liat Plered Purwakarta

BSU Kemnaker

Bansos Oktober 2026 Cair! Ada BSU Rp900 Ribu hingga Beras 30 Kg, Ini Rinciannya

Influenza A Merebak di Bandung Barat, 31 Orang Terkonfirmasi Positif

Terpopuler
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Badai di Tubuh KORMI Bandung: Hibah Seret, Kudeta Kepengurusan, hingga Sentilan Guru Besar UPI
  • Aturan Dibuat untuk Dilanggar? Menguliti Tiga Dosa Administratif Pengadaan Publikasi Purwakarta
  • Antara Regulasi dan Realita: Menguak Karut-Marut Anggaran Publikasi Rp250 Juta di Diskominfo Purwakarta
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.