bukamata.id – Suara mesin jahit yang biasanya riuh kini perlahan meredup di sebuah pabrik besar di kawasan Kabupaten Tangerang. Di antara barisan meja produksi yang mulai kosong, sejumlah pekerja perempuan tampak berpelukan, sebagian lain menyalami rekan-rekannya sambil menahan air mata. Seorang pria muda menunduk dan menandatangani seragam temannya—sebuah kenang-kenangan kecil sebelum mereka benar-benar berpisah.
Suasana haru itu menyelimuti ribuan buruh PT Victory Chingluh Indonesia, pabrik yang selama bertahun-tahun memproduksi sepatu merek global ternama, Nike. Di akhir Oktober 2025 ini, kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) massal kembali menggemparkan publik. Sekitar 3.000 karyawan resmi diberhentikan, dan kisah mereka menjadi potret getir di tengah geliat industri alas kaki nasional yang disebut-sebut masih “positif”.
Gelombang PHK yang Tak Kunjung Usai
PHK massal di pabrik sepatu itu bukanlah yang pertama. Menurut catatan serikat buruh, sejak Januari 2025 hingga kini, sudah tiga kali gelombang pemangkasan terjadi. Awal tahun, 2.400 pekerja terpaksa angkat kaki dari pabrik dengan alasan serupa—penurunan pesanan dan efisiensi produksi. Kini, gelombang baru datang lagi, menambah panjang daftar pekerja yang kehilangan mata pencaharian.
“Perusahaan menyampaikan bahwa order saat ini tidak cukup untuk menghidupi jumlah pekerja yang berjumlah sekitar 15 ribu orang. Sehingga, mereka harus melakukan PHK kurang lebih 3.000 buruhnya,” ujar Sekretaris Jenderal Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Andi Kristiantono, saat dikonfirmasi pada Kamis (30/10/2025).
Kabar yang beredar di media sosial menyebutkan, PHK itu dilakukan karena pabrik berencana memindahkan lokasi produksinya ke Pekalongan, Jawa Tengah. Namun sebagian informasi menyebut arah relokasi justru ke wilayah Cirebon. Apa pun tujuannya, yang jelas ribuan buruh kini menghadapi kenyataan pahit: mereka kehilangan pekerjaan.
“Buruh Jadi Tumbal Krisis”
Andi Kristiantono menegaskan bahwa KASBI menolak keras kebijakan PHK massal ini. Ia menilai, langkah perusahaan merupakan bentuk pengalihan beban krisis kepada para pekerja.
“Kami menilai bahwa di tengah situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Manajemen PT Victory Chingluh Indonesia kembali menjadikan buruh sebagai tumbal atas krisis yang lahir dari kegagalan tata kelola sistem produksi perusahaan,” ujarnya tegas.
Menurut Andi, alasan perusahaan tidak cukup kuat. Ia menyebut, hasil investigasi serikat menunjukkan bahwa beberapa pabrik dalam satu grup yang sama justru tengah mengalami peningkatan pesanan.
“PT Chingluh Cikupa satu grup dengan PT VCI (Victory Chingluh Indonesia) dan memproduksi sepatu yang sama. Saat ini, pabrik justru sedang banjir orderan sehingga banyak lemburan,” katanya.
Pernyataan itu menimbulkan pertanyaan besar. Jika benar permintaan menurun, mengapa masih ada lembur di pabrik satu grup yang sama? Apakah benar efisiensi menjadi alasan utama, atau ada strategi bisnis lain yang sedang dijalankan?
Guncangan di Tengah Pertumbuhan
Di sisi lain, pemerintah melalui Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian, Rizky Aditya Wijaya, menilai situasi industri alas kaki nasional sebenarnya masih cukup baik.
“Alas kaki sangat baik kondisinya. Pertumbuhannya sekitar 8-an persen tahun ini,” ujarnya di Jakarta, Kamis (30/10/2025). Menurut Rizky, industri sepatu memang padat karya, sehingga komponen biaya terbesar adalah tenaga kerja.
Karena itu, ia menjelaskan, PHK di beberapa wilayah bukan berarti pabrik menghentikan produksi. “Jadi, bukan berarti mereka PHK terus setop produksi, nggak. Mereka pindah ke daerah tengah. Yang upahnya jauh lebih murah. Untuk konteks yang di Tangerang kemarin, itu infonya mereka pindah ke Cirebon,” tambahnya.
Rizky mengakui, informasi tersebut masih bersifat informal, sebagian besar diperoleh dari asosiasi perusahaan alas kaki di Indonesia, Aprisindo. Ia memastikan, pemerintah akan memantau perkembangan ini lebih jauh.
“Baru dari asosiasi (komunikasi). Dari perusahaannya belum. Nanti kita coba kawal lah. Jadi artinya, untuk alas kaki saat ini kita masih bagus, kita masih jadi basis produksi merek-merek terkenal,” ujarnya.
Namun ia juga mengakui adanya fenomena “shifting” lokasi produksi dari wilayah barat ke daerah dengan upah lebih rendah. “Fenomena PHK yang terjadi di Banten atau Jawa Barat itu terjadi karena adanya shifting lokasi ke tempat-tempat yang upahnya lebih rendah,” sambungnya.
Dari sudut pandang pemerintah, langkah perusahaan untuk berpindah lokasi bisa dilihat sebagai upaya mempertahankan efisiensi. Namun bagi para buruh yang kehilangan pekerjaan, ini adalah bencana sosial dan ekonomi yang nyata.
Jejak Luka di Lantai Pabrik
Pemandangan di pabrik Tangerang pasca-pengumuman PHK bagaikan potongan adegan dalam film duka industri. Para pekerja yang tersisa masih berusaha tersenyum. Namun di antara tawa, ada mata yang sembab, ada tangan yang menggenggam erat, dan ada seragam pabrik yang kini menjadi simbol perpisahan.
Beberapa video yang tersebar di media sosial memperlihatkan momen perpisahan penuh haru. Seorang pekerja perempuan memeluk sahabatnya sambil berkata pelan, “Jaga diri, ya.” Di pojok lain, beberapa pekerja laki-laki berfoto bersama di depan mesin produksi—tempat mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya.
Meski terlihat sederhana, bagi mereka seragam biru pabrik itu bukan sekadar pakaian kerja, melainkan simbol identitas dan kebanggaan. Kini, seragam itu mungkin akan disimpan sebagai kenangan masa lalu.
Bukan Kali Pertama
Bagi PT Victory Chingluh Indonesia, gelombang PHK semacam ini bukanlah hal baru. Pada Maret 2025, perusahaan juga dikabarkan memangkas sekitar 2.000 pekerja. Saat itu, Aprisindo mengonfirmasi bahwa langkah tersebut memang terjadi karena tekanan bisnis dan penurunan order sejak November 2024.
Namun sumber dari serikat buruh menilai, kondisi ini lebih kompleks dari sekadar “penurunan pesanan”. Sebab, perusahaan yang sama masih memasok merek internasional besar dan disebut tetap mendapat order rutin.
Kenyataan ini menimbulkan ironi: di tengah pertumbuhan industri yang disebut pemerintah masih positif, ribuan buruh justru kehilangan pekerjaan.
Nasib di Tengah Persaingan Global
Indonesia memang masih menjadi basis produksi untuk banyak merek sepatu terkenal di dunia. Namun tekanan global seperti efisiensi biaya, persaingan upah dengan negara tetangga, serta fluktuasi permintaan pasar membuat posisi buruh semakin rapuh.
Rizky Aditya Wijaya menegaskan, dari sisi pemerintah, kondisi industri masih terkendali. “Persaingan ok. Memang pasar agak turun naik ya,” ujarnya.
Namun bagi ribuan buruh yang kini menganggur, situasinya jauh dari “ok”. Mereka harus kembali mencari pekerjaan baru di usia yang tak lagi muda, di tengah biaya hidup yang terus naik, dan di pasar kerja yang semakin sempit.
Menatap Masa Depan dengan Ketidakpastian
Malam hari setelah pengumuman PHK, sebagian buruh masih duduk di depan gerbang pabrik, memandangi bangunan tempat mereka menghabiskan bertahun-tahun hidup. Beberapa dari mereka membawa kotak berisi perlengkapan pribadi: sarung tangan kerja, botol air, sepatu keselamatan. Barang-barang kecil itu kini menjadi saksi bisu perjalanan panjang mereka.
Kata-kata itu menggema di antara riuh berita tentang pertumbuhan ekonomi, relokasi pabrik, dan efisiensi biaya. Di balik semua data dan strategi industri, ada ribuan wajah yang kehilangan harapan—dan itu, mungkin, adalah sisi lain dari kemajuan yang jarang terlihat di layar kaca.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News








