bukamata.id – Rencana pembangunan Jalan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci) kembali menjadi sorotan. Infrastruktur ini digadang-gadang bakal menjadi jalan tol terpanjang di Indonesia dengan panjang total mencapai 206,65 kilometer, membentang dari Jawa Barat hingga Jawa Tengah.
Awalnya, tol Getaci direncanakan mulai dibangun pada 2022 dan selesai pada 2024. Namun, target tersebut meleset. Pemerintah bahkan sempat menyebut pengerjaan konstruksi baru bisa dimulai pada 2029. Meski demikian, proses pembebasan lahan sudah berjalan dan kini progresnya kian nyata.
Fokus Tahap Pertama: Gedebage–Tasikmalaya
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Willan Oktavian, menjelaskan bahwa proyek ini dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama akan menghubungkan Gedebage hingga Tasikmalaya, sementara tahap kedua baru dilanjutkan dari Tasikmalaya menuju Cilacap.
“Untuk sementara (pembangunan) sampai Tasikmalaya, baru kemudian dilanjutkan ke Cilacap,” kata Willan dalam acara International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 di Jakarta.
Pembangunan tahap awal ini memiliki prioritas tinggi karena menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Nilai investasi yang disiapkan mencapai Rp37,64 triliun.
Pembebasan Lahan di Jawa Barat
Di wilayah Jawa Barat, khususnya Kabupaten Bandung dan Garut, proses pembebasan lahan terus berjalan. Berdasarkan data terbaru, hampir 50 persen lahan di segmen Garut utara sudah berhasil dibebaskan. Dari total kebutuhan sekitar 4.500 bidang tanah, sekitar 2.200 bidang atau setara 113 hektare telah tuntas dengan kompensasi uang ganti rugi (UGR).
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jalan Tol Getaci II, Muhammad Hidayat Satria Adi, menuturkan bahwa capaian ini menunjukkan progres yang cukup signifikan. “Dari sisi luas lahan, sekitar 45 persen sudah terbebaskan,” jelasnya.
Ketua Pengadaan Tanah Proyek Tol Getaci Kabupaten Garut, Muhamad Rahman, bahkan mengungkapkan pihaknya mampu menyelesaikan pembayaran UGR untuk ratusan bidang dalam waktu singkat. “Pernah dalam tiga hari kami selesaikan 355 bidang. Jadi per hari bisa seratusan bidang,” katanya.
Dampak bagi Kota Termiskin di Jawa Barat
Menariknya, pembangunan tol ini akan melintasi Kota Tasikmalaya, yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) masih menyandang predikat kota termiskin di Jawa Barat dengan persentase penduduk miskin mencapai 11,10 persen. Kehadiran tol diharapkan dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi kawasan selatan Jawa Barat yang selama ini tertinggal dibanding wilayah utara.
Dengan konektivitas yang lebih baik, investasi baru di sektor perdagangan, pariwisata, hingga industri berpeluang tumbuh. Masyarakat lokal pun diharapkan bisa merasakan manfaat langsung dari infrastruktur raksasa ini.
Tahap Kedua: Menuju Cilacap
Meski tahap pertama hanya sampai Tasikmalaya, rencana awal untuk membentangkan tol hingga Cilacap tidak dihapus. Tahap kedua proyek ini akan melewati Kabupaten Ciamis, Pangandaran, hingga berakhir di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Sedikitnya ada 47 desa yang bakal terdampak di wilayah tersebut, tersebar di Kabupaten Ciamis, Pangandaran, serta Cilacap. Nantinya, para pemilik lahan yang terdampak juga akan menerima kompensasi UGR sesuai mekanisme yang berlaku.
Harapan Pembangunan Tol Getaci
Jika seluruh tahapan selesai, tol Getaci akan menjadi jalur alternatif strategis di koridor selatan Pulau Jawa. Selain mengurangi beban jalan Pantura, keberadaan tol ini juga diprediksi mendorong pusat-pusat ekonomi baru di sepanjang rute, khususnya di daerah-daerah yang selama ini relatif tertinggal.
Meski progresnya masih panjang, komitmen pemerintah mempercepat pembebasan lahan memberi sinyal positif bahwa proyek raksasa ini benar-benar akan terwujud. Bagi warga Jawa Barat dan Jawa Tengah, khususnya di jalur selatan, tol Getaci bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan harapan besar untuk masa depan yang lebih baik.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











