bukamata.id – Kabar wafatnya Muhammad Imam Muslimin Mardi atau yang dikenal sebagai Yai Mim pada Senin (13/4/2026) pukul 13.45 WIB di Polresta Malang Kota menjadi duka yang menggema luas.
Sosok yang pernah dikenal sebagai akademisi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini meninggalkan perjalanan hidup yang tidak sederhana, mengalir dari dunia pendidikan, pengabdian pesantren, hingga menjadi sorotan publik akibat konflik yang viral.
Kepergiannya dalam status tersangka kasus dugaan pelecehan seksual dan pornografi menjadi bab akhir yang penuh refleksi. Namun di balik itu, tersimpan kisah panjang tentang seorang manusia yang pernah berjuang di jalur ilmu, spiritualitas, dan dinamika kehidupan sosial.
Dari Blitar Menuju Dunia Ilmu: Awal Perjalanan Yai Mim
Lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 11 Maret 1966, Yai Mim tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan nilai-nilai keislaman. Pendidikan dasarnya ditempuh di MI Al Qodiriyah, lalu berlanjut ke MTs Ma’arif Bakung, dua lembaga yang membentuk fondasi awal pemahamannya terhadap fiqih dan tafsir.
Perjalanan intelektualnya semakin matang saat ia nyantri di Pesantren Terpadu Al Kamal Kunir Wonodadi, di bawah bimbingan KH. A. Thohir Wijaya. Di pesantren inilah, ia tidak hanya mempelajari teks-teks keislaman, tetapi juga mulai menyelami dimensi spiritual dan tasawuf.
Langkah akademiknya berlanjut ke UIN Sunan Ampel Surabaya (dahulu IAIN Sunan Ampel), tempat ia menempuh studi Bahasa Arab dan lulus pada tahun 1991.
Keinginannya untuk terus belajar membawanya meraih gelar magister di Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 2000, hingga akhirnya menyelesaikan program doktor pada 2012 melalui kolaborasi studi di UIN Sunan Ampel dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Dedikasi sebagai Akademisi dan Pendidik Spiritual
Karier Yai Mim di dunia akademik dimulai sejak awal 1990-an sebagai dosen luar biasa. Dedikasinya dalam bidang pendidikan mengantarkannya menjadi dosen tetap di Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 1998.
Sebagai pengajar, ia dikenal tidak hanya menyampaikan materi akademik, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami nilai-nilai kehidupan melalui pendekatan spiritual. Ia kerap memadukan kajian ilmiah dengan refleksi tasawuf, menjadikan pembelajaran lebih menyentuh sisi batin.
Komitmennya terhadap pendidikan juga diwujudkan dengan mendirikan Pondok Pesantren Al Adzkiya’ Nurus Shafa (Anshofa) pada 2007. Pesantren ini menjadi ruang belajar yang menggabungkan keilmuan Islam dengan pendekatan filsafat dan tasawuf praktis.
Tak berhenti di situ, pada 2021 ia mendirikan Pondok Pesantren Bayt Al Qur’an Nurus Shafa (BaiQu NUsa), yang berfokus pada pengajaran Al-Qur’an dengan pendekatan spiritual. Bagi para santri, pesantren ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kedalaman batin.
Konflik yang Membesar: Dari Persoalan Lahan ke Panggung Publik
Nama Yai Mim mulai dikenal luas oleh masyarakat bukan karena kiprah akademiknya, melainkan akibat konflik dengan tetangganya, Nurul Sahara. Perselisihan yang awalnya bersifat personal ini bermula dari perbedaan pandangan terkait penggunaan lahan yang disebut sebagai tanah wakaf.
Ketegangan meningkat ketika aktivitas usaha rental mobil milik Nurul Sahara dianggap mengganggu akses keluar-masuk kendaraan di area tersebut. Perbedaan persepsi mengenai status lahan memicu gesekan yang semakin intens.
Puncaknya terjadi pada September 2025, ketika sebuah video yang diunggah melalui akun TikTok @sahara_vibesssss menjadi viral. Video tersebut memperlihatkan situasi konflik yang kemudian ditafsirkan beragam oleh publik.
Dalam rekaman itu, Yai Mim terlihat terbaring dan berguling di tanah saat dimintai klarifikasi. Sebagian warganet menilai tindakan tersebut sebagai upaya dramatisasi, sementara yang lain justru melihatnya sebagai ekspresi tekanan yang dialami.
Di sinilah konflik pribadi berubah menjadi konsumsi publik. Narasi yang berkembang di media sosial memecah opini masyarakat menjadi dua kubu, memperlihatkan bagaimana cepatnya informasi menyebar tanpa selalu diiringi pemahaman utuh.
Tekanan Sosial dan Dampak Kehidupan Pribadi
Konflik yang viral membawa dampak besar bagi kehidupan Yai Mim. Pada 22 September 2025, sejumlah warga di lingkungan tempat tinggalnya di Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang, memberikan surat pengusiran.
Tekanan sosial ini bukan hanya memengaruhi posisinya di masyarakat, tetapi juga karier akademiknya. Ia memilih mundur dari jabatannya sebagai dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sebuah keputusan yang mencerminkan beratnya situasi yang dihadapi.
Tak lama setelah itu, ia meninggalkan rumah pribadinya dan tinggal di kos bersama istrinya. Perubahan drastis ini menjadi gambaran nyata bagaimana konflik sosial dapat berdampak luas pada kehidupan seseorang.
Jalur Hukum: Upaya Mencari Kebenaran
Memasuki Oktober 2025, konflik berlanjut ke ranah hukum. Kedua pihak saling melaporkan dengan berbagai tuduhan, mulai dari pencemaran nama baik hingga pelanggaran hukum lainnya.
Yai Mim sempat melaporkan dugaan penistaan agama dan persekusi yang ia alami. Namun situasi berubah ketika laporan terhadap dirinya terkait dugaan pelecehan seksual dan pornografi diproses oleh pihak kepolisian.
Ia dituduh melakukan pelecehan verbal serta memperlihatkan konten tidak senonoh. Tuduhan tersebut dibantah olehnya, dengan menyatakan tidak pernah melakukan perbuatan tersebut.
Pada 7 November 2025, ia menjalani pemeriksaan di Polresta Malang Kota dan menyatakan sikap kooperatif. Ia menjawab puluhan pertanyaan dari penyidik dan menyampaikan keyakinannya bahwa kebenaran akan terungkap.
Namun, pada 6 Januari 2026, hasil gelar perkara menetapkan dirinya sebagai tersangka. Proses hukum pun terus berjalan hingga ia menjalani masa penahanan.
Hari Terakhir: Kepergian yang Mendadak
Pada Senin pagi, 13 April 2026, kondisi Yai Mim dilaporkan masih dalam keadaan sehat berdasarkan pemeriksaan rutin. Tekanan darahnya normal dan tidak menunjukkan gejala serius.
Namun, sekitar pukul 13.45 WIB, saat berjalan dari ruang tahanan menuju ruang pemeriksaan, kondisinya tiba-tiba melemah dan jatuh. Ia kemudian dinyatakan meninggal dunia.
Jenazahnya dibawa ke RSUD dr Saiful Anwar untuk dilakukan visum. Pihak kuasa hukum menyebut bahwa ia memiliki riwayat penyakit diabetes, meskipun penyebab pasti kematian masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Kepergian ini menjadi penutup dari perjalanan panjang yang penuh dinamika.
Ucapan Duka dari Sahara: Ruang Kemanusiaan di Atas Segalanya
Di tengah duka yang menyelimuti, Nurul Sahara menyampaikan ucapan belasungkawa melalui akun TikTok pribadinya.
“Keluarga besar Nurul Sahara mengucapkan Turut Berduka Cita atas Berpulangnya Bapak Imam Muslimin (Yai Mim).”
Ucapan ini menjadi penanda bahwa di balik konflik yang pernah terjadi, nilai kemanusiaan tetap hadir. Duka mampu meredakan ketegangan, membuka ruang untuk saling menghormati dan mendoakan.
Refleksi: Pelajaran dari Sebuah Perjalanan Hidup
Kisah Yai Mim bukan sekadar tentang konflik atau kontroversi. Ia adalah potret kehidupan manusia yang kompleks, tentang dedikasi, tekanan sosial, pencarian kebenaran, dan akhirnya, kepasrahan pada takdir.
Dari perjalanan ini, ada pelajaran penting tentang bagaimana konflik seharusnya disikapi dengan kebijaksanaan, serta pentingnya menjaga empati di tengah perbedaan.
Di era digital, kisah ini juga menjadi pengingat bahwa viralitas tidak selalu menghadirkan keadilan, dan bahwa setiap peristiwa memiliki banyak sisi yang perlu dipahami secara utuh.
Selamat Jalan, Yai Mim
Kini, Yai Mim telah berpulang. Di luar segala polemik yang pernah mengiringinya, ia tetap seorang manusia yang pernah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan spiritual.
Selamat jalan, Yai Mim.
Semoga segala amal ibadah diterima, segala kekhilafan diampuni, dan tempat terbaik diberikan di sisi-Nya.
Semoga kisah hidup ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu memilih jalan damai, menjaga kemanusiaan, dan merawat kebijaksanaan dalam setiap langkah kehidupan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










