Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Satpol PP Bandung Tegaskan Larangan Jualan Takjil di Zona Terlarang

Kamis, 19 Februari 2026 19:36 WIB

Link Video Teh Pucuk 17 Menit No Sensor Masih Diburu Netizen, Awas Jebakan di Balik Narasi Viral

Kamis, 19 Februari 2026 19:23 WIB

No Sensor? Link Video Teh Pucuk 17 Menit Viral, Simak Klarifikasinya

Kamis, 19 Februari 2026 19:22 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Satpol PP Bandung Tegaskan Larangan Jualan Takjil di Zona Terlarang
  • Link Video Teh Pucuk 17 Menit No Sensor Masih Diburu Netizen, Awas Jebakan di Balik Narasi Viral
  • No Sensor? Link Video Teh Pucuk 17 Menit Viral, Simak Klarifikasinya
  • Polemik Paspor Kuat! Sosok Alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas Dihujat Usai Anak Resmi Jadi WNA
  • Satpol PP Bandung Larang Sahur On The Road dan Perang Sarung Selama Ramadan
  • Kecewa Berat, Bojan Hodak Teriak Soal Pitch Invader di GBLA
  • Jadwal Adzan Maghrib Kota Bandung Hari Ini, Siapkan Buka Puasa Tepat Waktu!
  • THR PNS 2026 Segera Cair! Ini Nominal dan Komponen Lengkapnya
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 19 Februari 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Ustadz Deni dan Ikhtiar Mengaji Gratis di Tengah Lapar: Bukan Uangnya, tapi Keseriusan Orang Tua

By Muhammad Rafki Razif KiransyahSelasa, 3 Februari 2026 20:20 WIB3 Mins Read
Ustadz Deni Firmansyah. (Foto: bukamata.id/M Rafki)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di Gg. Abid, tepatnya di Masjid Jami Madrasah Riyadlul Jannah, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, kegiatan mengaji anak-anak berlangsung tanpa pungutan biaya. Ustadz Deni Firmansyah memastikan proses belajar Al-Qur’an tetap berjalan, meski harus dibayar dengan pengorbanan pribadi yang tak sedikit.

Saat ditanya apakah murid-muridnya membayar, Ustadz Deni menegaskan bahwa saat ini seluruh kegiatan mengaji digratiskan. “Untuk sekarang, insya Allah sudah diprogramkan gratis. Program gratis ini sebenarnya program baru. Awalnya tidak gratis,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).

Pada awalnya, kegiatan mengaji sempat berjalan dengan program infak, hasil musyawarah bersama orang tua murid. Program itu muncul karena anak-anak kerap memberi uang receh secara sukarela.

“Dari situ saya berpikir untuk mengadakan musyawarah dengan orang tua murid. Akhirnya disepakati ada program infak,” tuturnya.

Baca Juga:  Mimpi Besar Ustadz Deni: Madrasah Layak dari Hati dan Keikhlasan

Namun seiring waktu, program tersebut tak berjalan sebagaimana harapan. Dari sekitar 85 orang murid, hanya sekitar 10 orang tua yang konsisten memberikan infak. “Akhirnya, dengan kondisi seperti itu, saya berinisiatif untuk menggratiskan,” katanya.

Keputusan menggratiskan pun diambil tanpa musyawarah terlebih dahulu. Ustadz Deni ingin melihat sejauh mana kepedulian dan keseriusan orang tua terhadap pendidikan agama anak-anak mereka.

Ia bahkan sempat mengedarkan surat daftar ulang dengan nominal Rp200.000 bukan untuk mencari uang, melainkan sebagai alat ukur komitmen.

“Tujuan saya bukan uangnya. Tapi mengetes keseriusan orang tua. Kalau memang serius, mereka tidak akan menilai dari uang Rp100.000 atau Rp200.000,” jelasnya.

Yang paling ia harapkan justru kehadiran orang tua dalam proses pendidikan. “Datang menitipkan anaknya. Supaya saya lebih leluasa mendidik. Kalau anaknya nakal, saya bisa menegur. Intinya bukan karena uang,” katanya.

Baca Juga:  Mimpi Besar Ustadz Deni: Madrasah Layak dari Hati dan Keikhlasan

Ustadz Deni mengaku pengalaman sebelumnya membuatnya prihatin. Bahkan infak sebesar Rp30.000 pun kerap diabaikan, padahal hasil musyawarah itu bertujuan membantu biaya kontrakan tempat ngaji.

Kini, murid-murid yang belajar mengaji di masjid tersebut berasal dari berbagai jenjang usia. Mulai dari usia lima tahun untuk kelas pemula, hingga kelas wustho yang sebagian muridnya sudah duduk di bangku SMP.

Di balik keteguhan menjaga kegiatan mengaji gratis, tersimpan kisah pilu tentang lapar yang harus ditahan.

Ustadz Deni menceritakan momen ketika tim sosial datang menemuinya selepas subuh. “Mereka tanya saya pegang uang atau tidak. Saya jawab jujur, tidak pegang uang,” ungkapnya.

Ketika ditanya soal sarapan, ia hanya bisa menjawab bahwa dirinya akan berikhtiar terlebih dahulu. Pagi itu, ia keluar rumah mencari rezeki.

Baca Juga:  Mimpi Besar Ustadz Deni: Madrasah Layak dari Hati dan Keikhlasan

“Alhamdulillah ada tetangga yang memberi ketan. Itu jadi sarapan saya,” katanya.

Anak-anaknya yang besar dan kecil kala itu mendapatkan Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun ia dan sang istri benar-benar belum makan. “Kami lapar. Itu memang kenyataannya,” ucapnya lirih.

Menahan lapar bukan hal asing bagi Ustadz Deni. Meski tak setiap hari, kondisi itu cukup sering terjadi dan berdampak pada kesehatan dirinya dan sang istri. “Kalau saya gemuk, mungkin mustahil ya,” ujarnya dengan senyum tipis.

Di tengah keterbatasan ekonomi, Ustadz Deni tetap memilih bertahan. Ia percaya, mengaji adalah amanah, dan anak-anak di lingkungannya berhak mendapatkan pendidikan agama tanpa dibebani biaya.

Sebab bagi Ustadz Deni, keikhlasan bukan berarti tanpa rasa sakit, melainkan tetap berjalan meski perut kosong.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

kisah inspiratif guru ngaji mengaji gratis Bandung mengaji tanpa biaya pendidikan agama anak Ustadz Deni Firmansyah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Satpol PP Bandung Tegaskan Larangan Jualan Takjil di Zona Terlarang

Satpol PP Bandung Larang Sahur On The Road dan Perang Sarung Selama Ramadan

Jadwal Adzan Maghrib Kota Bandung Hari Ini, Siapkan Buka Puasa Tepat Waktu!

THR PNS 2026 Segera Cair! Ini Nominal dan Komponen Lengkapnya

Istana Diguncang ‘Anak Paket C’, Tiyo Ardianto dan Kritik Soal MBG!

Dugaan Korupsi Rumdin DPRD Indramayu Naik ke Penyidikan, Kerugian Negara Rp16,8 Miliar

Terpopuler
  • Apa Isi Video Teh Pucuk 17 Menit? Link No Sensor Bikin Penasaran
  • Beredar! Link Video Teh Pucuk 17 Menit, Full Durasi No Sensor
  • Link Video Teh Pucuk 17 Menit vs 1 Menit 50 Detik: Benarkah Ada Dua Versi atau Sekadar Jebakan?
  • Viral No Sensor Video Teh Pucuk Durasi Panjang 17 Menit, Cek Faktanya!
  • Link Video Viral Teh Pucuk 17 Menit Bisa Jadi Malware, Jangan Asal Klik!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.