bukamata.id – Di Gg. Abid, tepatnya di Masjid Jami Madrasah Riyadlul Jannah, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, kegiatan mengaji anak-anak berlangsung tanpa pungutan biaya. Ustadz Deni Firmansyah memastikan proses belajar Al-Qur’an tetap berjalan, meski harus dibayar dengan pengorbanan pribadi yang tak sedikit.
Saat ditanya apakah murid-muridnya membayar, Ustadz Deni menegaskan bahwa saat ini seluruh kegiatan mengaji digratiskan. “Untuk sekarang, insya Allah sudah diprogramkan gratis. Program gratis ini sebenarnya program baru. Awalnya tidak gratis,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).
Pada awalnya, kegiatan mengaji sempat berjalan dengan program infak, hasil musyawarah bersama orang tua murid. Program itu muncul karena anak-anak kerap memberi uang receh secara sukarela.
“Dari situ saya berpikir untuk mengadakan musyawarah dengan orang tua murid. Akhirnya disepakati ada program infak,” tuturnya.
Namun seiring waktu, program tersebut tak berjalan sebagaimana harapan. Dari sekitar 85 orang murid, hanya sekitar 10 orang tua yang konsisten memberikan infak. “Akhirnya, dengan kondisi seperti itu, saya berinisiatif untuk menggratiskan,” katanya.
Keputusan menggratiskan pun diambil tanpa musyawarah terlebih dahulu. Ustadz Deni ingin melihat sejauh mana kepedulian dan keseriusan orang tua terhadap pendidikan agama anak-anak mereka.
Ia bahkan sempat mengedarkan surat daftar ulang dengan nominal Rp200.000 bukan untuk mencari uang, melainkan sebagai alat ukur komitmen.
“Tujuan saya bukan uangnya. Tapi mengetes keseriusan orang tua. Kalau memang serius, mereka tidak akan menilai dari uang Rp100.000 atau Rp200.000,” jelasnya.
Yang paling ia harapkan justru kehadiran orang tua dalam proses pendidikan. “Datang menitipkan anaknya. Supaya saya lebih leluasa mendidik. Kalau anaknya nakal, saya bisa menegur. Intinya bukan karena uang,” katanya.
Ustadz Deni mengaku pengalaman sebelumnya membuatnya prihatin. Bahkan infak sebesar Rp30.000 pun kerap diabaikan, padahal hasil musyawarah itu bertujuan membantu biaya kontrakan tempat ngaji.
Kini, murid-murid yang belajar mengaji di masjid tersebut berasal dari berbagai jenjang usia. Mulai dari usia lima tahun untuk kelas pemula, hingga kelas wustho yang sebagian muridnya sudah duduk di bangku SMP.
Di balik keteguhan menjaga kegiatan mengaji gratis, tersimpan kisah pilu tentang lapar yang harus ditahan.
Ustadz Deni menceritakan momen ketika tim sosial datang menemuinya selepas subuh. “Mereka tanya saya pegang uang atau tidak. Saya jawab jujur, tidak pegang uang,” ungkapnya.
Ketika ditanya soal sarapan, ia hanya bisa menjawab bahwa dirinya akan berikhtiar terlebih dahulu. Pagi itu, ia keluar rumah mencari rezeki.
“Alhamdulillah ada tetangga yang memberi ketan. Itu jadi sarapan saya,” katanya.
Anak-anaknya yang besar dan kecil kala itu mendapatkan Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun ia dan sang istri benar-benar belum makan. “Kami lapar. Itu memang kenyataannya,” ucapnya lirih.
Menahan lapar bukan hal asing bagi Ustadz Deni. Meski tak setiap hari, kondisi itu cukup sering terjadi dan berdampak pada kesehatan dirinya dan sang istri. “Kalau saya gemuk, mungkin mustahil ya,” ujarnya dengan senyum tipis.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Ustadz Deni tetap memilih bertahan. Ia percaya, mengaji adalah amanah, dan anak-anak di lingkungannya berhak mendapatkan pendidikan agama tanpa dibebani biaya.
Sebab bagi Ustadz Deni, keikhlasan bukan berarti tanpa rasa sakit, melainkan tetap berjalan meski perut kosong.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










