bukamata.id – Video seorang nenek bule yang mengkritik proyek penataan kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu viral di media sosial. Pernyataan tersebut memicu beragam respons dari warganet.
Dalam video yang diunggah akun Instagram @bridgiaadhella dan dikutip Minggu (19/4/2026), nenek tersebut mempertanyakan urgensi proyek yang dinilai tidak mendesak dibanding persoalan lain yang dihadapi masyarakat.
“Buat apa sih menghabiskan uang untuk hal yang tidak penting, utamakan yang bahaya dulu yang harus diurus,” ujarnya.
Ia menyoroti sejumlah persoalan krusial seperti banjir yang memakan korban jiwa, jalan berlubang dan gelap, hingga akses jalan yang masih banyak tertutup.
“Contohnya banjir yang mengambil korban jiwa dan segala rupa, jalan gelap berlubang itu mah semua juga sudah pada tahu,” lanjutnya.
Menurutnya, bangunan bersejarah seperti Gedung Sate seharusnya tidak menjadi prioritas utama untuk ditata ulang jika kondisi masyarakat masih menghadapi banyak kesulitan.
“Gedung Sate yang megah penuh nilai sejarah biarkanlah dulu. Tapi terserah saja, kita masyarakat kecil tidak akan didengar,” ucapnya.
Ia bahkan menyindir bahwa penataan bisa dilakukan setelah seluruh persoalan masyarakat terselesaikan.
“Kalau sudah beres semua baru menghias Gedung Sate, mau dilapis emas juga silakan, tapi lihat dulu masyarakat kita yang menderita,” tegasnya.
Respons Warganet Beragam
Pernyataan nenek tersebut langsung menuai komentar dari warganet. Banyak yang menilai kritik tersebut mewakili suara masyarakat kecil.
Salah satu akun menuliskan kekagumannya terhadap cara berpikir sang nenek dan berharap sosok seperti itu bisa memperjuangkan rakyat.
“Pertama terpukau dgn jawaban2 nenek, selanjutnya berpikir kuduna nenek jd anggota DPR nu bener2 memperjuangkan rakyat kecil. Terakhir pikaserieun, atuh ian si mbah google teh mereun oge naroskeun ka nenek nyak bisa jawab bener kitu,” tulis akun @ani***
“Sae k.iyan …dugikeun tah pendapat mamah ka KDM ..” tulis akun @tis***
“Tah kupingkeun saur sepuh, bener pisan,” tulis warganet lainnya.
Proyek Penataan Gedung Sate–Gasibu Jadi Sorotan
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Dedi Mulyadi tengah menggagas penataan besar di kawasan pusat pemerintahan tersebut.
Proyek ini mencakup penyatuan halaman depan Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu menjadi ruang publik terpadu, sekaligus penataan ulang lalu lintas di Jalan Diponegoro.
“Kalau bisa disatukan, kenapa harus dipisahkan. Diperindah, kenapa mesti resah?” kata Dedi melalui unggahan media sosialnya.
Konsep Integrasi dan Solusi Kemacetan
Penataan kawasan ini meliputi integrasi ruang terbuka seluas 14.642 meter persegi dengan koridor sepanjang 97 hingga 144,24 meter.
Selain itu, akan dibangun jalur lalu lintas melingkar yang mengarah ke kawasan Masjid Pusdai dan sebagian area Gasibu. Skema ini dirancang untuk mengurangi kemacetan, terutama saat terjadi aksi massa di sekitar Gedung Sate.
“Bukan jembatan, jalannya melingkar. Nanti muter ke depan Pusdai, belok kanan. Sebagian Gasibu digunakan untuk jalur di ujungnya,” jelas Dedi.
Tak hanya itu, kawasan ini juga akan mengusung konsep budaya Jawa Barat dengan penambahan jalur pejalan kaki serta ruang terbuka hijau. Penataan ini bertujuan menguatkan identitas kawasan pemerintahan tanpa mengubah elemen sejarah yang ada.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










