bukamata.id – Di sudut Kota Solo, tepat ketika sebagian besar warga masih terlelap, seorang pria berambut mohawk merah sudah sibuk menyusuri lorong-lorong pasar tradisional. Jaket kulit hitam penuh atribut melekat di tubuhnya. Piercing menghiasi wajahnya. Sepatu boots berat menghentak lantai pasar setiap pagi.
Namun, pria itu bukan pengamen jalanan.
Namanya Hafid atau akrab disapa Kipli, pemuda asal Pemalang, Jawa Tengah, yang kini dikenal sebagai kurir sekaligus penggerak usaha “sayuran punk” bersama rekannya, Hilman Ramadhon. Di tengah stigma negatif yang selama ini melekat pada anak punk, kisah mereka justru menghadirkan wajah lain dari komunitas yang kerap dipandang sebelah mata.
Bukan sekadar bertahan hidup, Kipli dan Hilman membangun usaha mandiri yang kini menghasilkan omzet hingga Rp50-60 juta per bulan saat penjualan ramai. Usaha mereka dikenal masyarakat dengan sebutan “sayuran punk”, sementara Hilman menyebut gerakannya sebagai “swasembada punk-an”.
Fenomena ini ramai diperbincangkan publik setelah kisah mereka viral di media sosial dan menuai simpati warganet.
Dari Jalanan Menuju Pasar Tradisional
Selama bertahun-tahun, citra anak punk di Indonesia nyaris selalu identik dengan stereotip negatif. Penampilan nyentrik, tato, piercing, jaket penuh emblem, hingga rambut mohawk sering dianggap simbol kenakalan, kekumuhan, dan pemberontakan.
Tak sedikit masyarakat yang langsung mengaitkan anak punk dengan kehidupan jalanan, pengamen, mabuk-mabukan, bahkan kriminalitas.
Namun bagi Kipli, stigma itu terlalu dangkal.
“Awalnya saya juga melihat anak punk itu hidupnya di jalan dan tidak jelas. Tapi setelah dipelajari, ternyata tidak sesederhana itu,” ujar Kipli.
Kipli mulai mengenal budaya punk sejak SMP. Lingkungannya kala itu cukup dekat dengan komunitas punk sehingga memunculkan rasa penasaran. Dari sana, ia mulai memahami bahwa punk bukan hanya perkara gaya berpakaian, melainkan sebuah cara pandang hidup.
Menurutnya, filosofi utama punk justru terletak pada prinsip kemandirian atau Do It Yourself (DIY).
“Punk adalah cara berpikir, mentalitas dan sikap hidup. Dalam anak punk ada istilah DIY, menyelesaikan masalah sendiri tanpa bergantung pada orang lain,” kata Kipli.
Prinsip itulah yang kini ia jalani di Solo.
Pertemuan dengan Hilman yang Mengubah Hidup
Perjalanan hidup Kipli berubah setelah bertemu Hilman Ramadhon di sebuah acara komunitas Vespa di Solo pada 2024 lalu.
Keduanya langsung akrab karena sama-sama menyukai kultur punk. Namun berbeda dari stereotip umum, penampilan Hilman justru tampak sederhana dan jauh dari kesan “punk jalanan”.
Hilman hanya mengenakan kaos biasa, berkacamata, dan tampil rapi. Namun di balik tampilannya, ia memegang nilai yang sama: hidup mandiri dan tidak bergantung pada belas kasihan orang lain.
Saat itu Hilman baru merintis usaha Depot Sayur Sejahtera setelah sebelumnya berjualan kopi keliling.
Beberapa bulan kemudian, Kipli melihat video Hilman sedang menjual sayur menggunakan motor. Tanpa modal besar dan tanpa banyak pertimbangan, ia memutuskan pindah ke Solo untuk ikut bekerja.
“Malam itu juga saya langsung berangkat ke Solo. Enggak punya modal, enggak punya apa,” kenangnya.
Keputusan spontan itu menjadi titik balik kehidupannya.
Kini setiap pukul 05.00 WIB, Kipli sudah berada di Pasar Legi Solo untuk membeli sayuran segar bagi pelanggan Depot Sayur Sejahtera.
“Wong Opo Iki?”: Saat Penampilan Jadi Penghakiman
Meski kini bekerja secara mandiri dan halal, penampilan Kipli tetap memancing tatapan sinis masyarakat.
Saat berjalan di pasar dengan rambut merah menyala dan atribut punk lengkap, ia kerap menjadi pusat perhatian.
“Sering banget di pasar orang bilang, ‘Wong opo iki?’ Terus ada yang takut juga,” cerita Kipli sambil tertawa.
Ia bahkan pernah mendengar seorang ibu bertanya kepada pedagang bawang soal dirinya.
“Bu, iki sopo? Kok ngene?” begitu kira-kira komentar yang ia dengar.
Namun Kipli memilih tidak marah.
Baginya, masyarakat memang selama ini hanya mengenal punk dari tampilan luar. Jaket kulit, tindikan, dan rambut mohawk dianggap simbol pemberontakan tanpa pernah memahami nilai di baliknya.
“Padahal tidak semua seperti itu. Saya tetap mandi setiap hari, tidur di rumah, kerja juga seperti biasa,” katanya.
Fenomena ini sebenarnya menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia masih sangat visual dalam menilai seseorang. Penampilan sering kali menjadi dasar utama penghakiman sosial.
Dalam konteks budaya punk, stereotip tersebut telah mengakar selama puluhan tahun. Banyak razia terhadap anak punk di berbagai daerah, pelabelan sebagai “sampah masyarakat”, hingga penolakan sosial yang membuat sebagian dari mereka sulit mendapatkan pekerjaan formal.
Padahal, realitas komunitas punk tidak tunggal.
Sebagian memang hidup di jalanan, tetapi banyak pula yang menjalankan usaha kreatif, bekerja mandiri, menjadi seniman, pengrajin, hingga pelaku UMKM.
Punk dan Filosofi Kemandirian
Di balik tampilannya yang ekstrem, budaya punk sebenarnya memiliki sejarah panjang tentang perlawanan terhadap ketidakadilan sosial dan sistem yang dianggap menindas.
Gerakan punk lahir sebagai bentuk kritik terhadap kemapanan dan ketimpangan ekonomi. Dalam perkembangannya, muncul filosofi DIY atau Do It Yourself yang mendorong setiap individu untuk mandiri secara ekonomi maupun kreatif.
Nilai itulah yang justru terlihat kuat dalam perjalanan Kipli dan Hilman.
Mereka tidak meminta belas kasihan.
Mereka bekerja.
Mereka bangun pagi.
Mereka mengantar sayur.
Mereka menciptakan lapangan pekerjaan dari nol.
“Yang penting bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Mau kerja apa saja yang penting halal dan tidak merugikan orang lain,” ujar Kipli.
Di tengah maraknya budaya instan dan obsesi validasi media sosial, kisah mereka justru menghadirkan pelajaran sederhana tentang kerja keras dan harga diri.
Viral di Media Sosial, Warganet Beri Dukungan
Kisah “sayuran punk” ini kemudian viral di Instagram, termasuk di akun media sosial @shifmedia. Ribuan warganet memberikan komentar positif dan mengaku tersentuh dengan perjuangan Kipli dan Hilman.
“Punk boleh, tapi tetep kerja hehe,” tulis akun @jel***.
“Keren, Punk itu pekerja keras sebenarnya memang dasar filosofinya DIY (Do It Yourself), mandiri secara ekonomi,” komentar akun @rch***.
“Pilihan hidupmu king, yg penting ibadahnya jangan lupa,” tulis akun @bag***.
Komentar-komentar tersebut menunjukkan mulai berubahnya cara pandang sebagian masyarakat terhadap anak punk.
Jika dulu punk identik dengan keresahan sosial, kini sebagian publik mulai melihat sisi lain yang lebih manusiawi: tentang perjuangan hidup, solidaritas, dan kemandirian.
Mengubah Stigma Lewat Tindakan Nyata
Bagi Hilman, label “anak punk” justru menjadi tantangan untuk membuktikan sesuatu kepada masyarakat.
“Selama ini stigma orang soal punk itu bau, ngamen di jalan. Tapi saya ingin membuktikan kalau anak punk juga bisa kerja dan mandiri,” kata Hilman.
Kalimat sederhana itu terasa kuat karena lahir dari pengalaman nyata.
Mereka tidak sedang membuat pencitraan.
Mereka benar-benar menjalani hidup dengan cara yang berbeda dari stereotip umum.
Kipli sendiri mengaku hidupnya kini jauh lebih disiplin dibanding sebelumnya. Ia terbiasa bangun pagi, bertanggung jawab terhadap pekerjaan, dan belajar menghadapi banyak orang di pasar setiap hari.
“Di sini saya belajar disiplin karena itu tanggung jawab saya sekarang,” katanya.
Bahkan sambil bercanda, ia mengaku kini berat badannya bertambah sejak rutin bekerja dan hidup lebih teratur.
Lebih dari Sekadar Rambut Mohawk
Kisah Kipli dan Hilman menjadi pengingat bahwa manusia tidak bisa dinilai hanya dari penampilan luar.
Di balik rambut mohawk merah, jaket kulit berduri, dan tindikan, ada manusia yang bekerja keras demi hidupnya. Ada nilai tentang kemandirian, kreativitas, dan solidaritas.
Fenomena “sayuran punk” di Solo bukan sekadar cerita viral biasa. Ia menjadi simbol kecil tentang bagaimana stigma sosial bisa dipatahkan lewat tindakan nyata.
Dan mungkin, di tengah masyarakat yang terlalu cepat menghakimi dari tampilan luar, kisah seperti ini menjadi penting untuk direnungkan kembali.
Sebab pada akhirnya, seperti kata Kipli:
“Yang penting kita jalanin hidup dengan baik. Tidak semua anak punk seperti yang orang pikir.”
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










