bukamata.id – Wacana perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda kini bukan sekadar obrolan di warung kopi. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat baru saja menyepakati usulan tersebut untuk melangkah ke tahap legislasi. Langkah ini diambil sebagai upaya mengembalikan identitas kultural yang selama ini seolah kehilangan “rumah” geografisnya.
Padahal, dalam catatan sejarah dunia, nama “Sunda” bukan sekadar label lokal. Dulu, istilah ini sempat disematkan pada seluruh Pulau Jawa, bahkan diakui dunia melalui penyebutan kepulauan Sunda Besar dan Sunda Kecil.
Menggali Makna Filosofis di Balik Nama ‘Sunda’
Banyak yang bertanya, apa sebenarnya arti di balik kata Sunda? Melalui buku ‘Sadjarah Sunda, Djilid I, Dugi ka Runtagna Karadjaan Padjadjaran’ (1958), Drs. R. Ma’un Atmamihardja membedah asal-usul etimologi kata tersebut dari berbagai sudut pandang bahasa kuno.
Setidaknya ada empat interpretasi mendalam yang selama ini jarang diketahui publik:
- Perspektif Sansekerta: Secara harfiah, Sund (tanpa akhiran ‘a’) berarti “sinar yang menyembur” atau terang. Konon, ini merujuk pada penampakan Gunung Sunda (di area Tangkubanparahu) yang terlihat memutih dari kejauhan.
- Perspektif Bahasa Kawi: Dalam naskah sastra kuno, Sunda dikaitkan dengan air, tumpukan, pangkat, hingga kewaspadaan. Ini sangat selaras dengan kondisi geografis tatar Sunda yang subur, berlimpah air, dan penuh pemandangan gunung yang indah.
- Perspektif Bahasa Jawa: Kata Sunda dimaknai sebagai susunan atau tempat penyimpanan. Wilayah ini dianggap sebagai “gudang” kekayaan alam dan hasil bumi yang melimpah.
- Perspektif Bahasa Sunda: Diambil dari kata Sa-unda atau Sat-tunda, yang artinya panundaan atau tempat menyimpan segala pemenuhan kebutuhan hidup (the place of deposit).
Menariknya, akar kata ini juga dekat dengan Sundara (ganteng/cantik) dan Sundari, yang mencerminkan betapa mempesonanya tanah ini bagi para pendatang zaman dulu, termasuk mereka yang tiba dari tanah India.
Legenda Cipamali dan Pembelahan Pulau Jawa
Banyak yang bertanya-tanya, sejak kapan etnis Sunda dan Jawa terpisah secara wilayah? Dalam mitos populer seperti kisah Ciung Wanara, perpisahan ini diibaratkan melalui pertarungan suci antara Ciung Wanara dan Hariang Banga.
Saat keduanya tersadar bahwa pertikaian antar saudara adalah pemali (tabu), mereka membagi wilayah. Ciung Wanara melempar Hariang Banga ke seberang sungai Cipamali. Sejak saat itu, sisi barat sungai menjadi wilayah Sunda yang identik dengan budaya pantun dan kecapi, sementara sisi timur menjadi wilayah Jawa.
Konstruksi Identitas di Era Kolonial
Namun, secara administratif, kesadaran teritorial ini baru mengeras saat era kolonial. Holy Rafika Dhona dalam bukunya, Subjek Sunda: Genealogi, Kelahiran, dan Kewilayahan (2024), menjelaskan bahwa dulu masyarakat menganut sistem Mandala—di mana loyalitas lebih kepada raja daripada batas peta.
Perubahan drastis terjadi saat Thomas Stanford Bingley Raffles dan East India Company (EIC) menguasai Jawa (1811-1814). Raffles membedakan dua kelompok berdasarkan tuturan bahasa dalam History of Java (1817).
“Raffles tidak hanya ingin membedakan bahasa Jawa dan Sunda, melainkan membedakan manusia di Jawa dan manusia di Sunda,” ungkap Dhona dalam karyanya.
Kini, dengan diusulkannya perubahan nama menjadi Provinsi Sunda, masyarakat Jawa Barat seolah ingin menegaskan kembali identitas yang sempat dibentuk oleh sejarah panjang, perpaduan mitologi, dan catatan administratif masa lalu. Akankah usulan ini resmi mengganti wajah Jabar di masa depan? Kita nantikan kelanjutannya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










