bukamata.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total luas area yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia mencapai 72.798,73 hektare.
Luasan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena karhutla tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga berpotensi menimbulkan kabut asap yang berdampak terhadap aktivitas dan kesehatan masyarakat.
Data terbaru menunjukkan bahwa kebakaran masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan dan Sumatra.
Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas area karhutla terbesar berdasarkan data yang dirilis BNPB. Luas lahan yang terdampak kebakaran di provinsi tersebut mencapai 38.310,00 hektare.
Angka itu kemudian diikuti sejumlah wilayah lain yang juga menghadapi persoalan karhutla dalam skala cukup besar.
Rincian Luas Karhutla di Sejumlah Wilayah
Berikut rincian luas area yang terdampak kebakaran hutan dan lahan berdasarkan data BNPB:
- Kalimantan Barat: 38.310,00 hektare
- Riau: 16.249,24 hektare
- Kalimantan Selatan: 8.019,62 hektare
- Kalimantan Tengah: 7.634,46 hektare
- Sumatra Selatan: 1.926,23 hektare
- Jambi: 658,29 hektare
Jika melihat sebarannya, Kalimantan Barat menjadi wilayah yang mencatatkan luasan karhutla paling besar.
Sementara itu, Riau menempati posisi kedua dengan luas area terbakar mencapai lebih dari 16 ribu hektare. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah juga menghadapi karhutla dengan luasan masing-masing lebih dari 7.000 hektare.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan koordinasi lintas wilayah dan keterlibatan berbagai unsur.
Karhutla Ancam Lingkungan dan Aktivitas Masyarakat
Karhutla bukan hanya persoalan luas lahan yang terbakar. Kobaran api yang melanda kawasan hutan dan lahan juga dapat menimbulkan asap yang mengganggu kualitas udara.
Dalam kondisi tertentu, asap karhutla dapat menghambat aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika konsentrasi asap berada di wilayah permukiman.
Dari sisi lingkungan, kebakaran juga berpotensi merusak habitat dan ekosistem yang berada di kawasan terdampak.
Karena itu, upaya pemadaman dan pencegahan perlu dilakukan secara bersamaan agar kebakaran tidak semakin meluas.
Presiden Prabowo Apresiasi Tim Pemadam Karhutla
Situasi karhutla tersebut turut mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat.
Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat koordinasi penanggulangan karhutla di Kalimantan Tengah. Rapat tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam memperkuat penanganan kebakaran di lapangan.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyampaikan apresiasi kepada personel gabungan yang terus bekerja menangani kebakaran.
Tim yang terlibat berasal dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni hingga relawan masyarakat.
Melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Presiden menyampaikan terima kasih atas kerja keras para personel yang berada di lapangan.
Tim gabungan disebut terus berjibaku siang dan malam untuk melakukan pemadaman sekaligus mencegah api menjalar ke wilayah lain.
Penanganan Karhutla Jadi Perhatian Pemerintah
Dengan luas area terdampak yang telah mencapai 72.798,73 hektare, penanganan karhutla menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan respons cepat.
Kondisi geografis sejumlah wilayah, karakteristik lahan, akses menuju lokasi kebakaran serta ketersediaan sumber daya menjadi faktor yang dapat memengaruhi proses pemadaman.
Pemerintah bersama pemerintah daerah dan tim gabungan terus melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan titik-titik kebakaran.
Di tengah ancaman meluasnya karhutla, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, petugas pemadam dan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk menekan dampak kebakaran.
Data luas karhutla yang terus diperbarui juga menjadi dasar penting untuk menentukan langkah penanganan berikutnya, terutama di wilayah yang mencatatkan kebakaran dengan luasan terbesar seperti Kalimantan Barat, Riau, dan Kalimantan Selatan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










