bukamata.id – Nama Haji Isam mendadak kembali menjadi sorotan publik. Sosok pengusaha besar asal Kalimantan Selatan yang selama ini lebih banyak dikenal melalui gurita bisnisnya kini tampil langsung ke ruang publik setelah mendapat mandat untuk membantu memimpin dan mengoordinasikan penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan Selatan.
Penunjukan tersebut menarik perhatian bukan hanya karena besarnya skala persoalan karhutla, tetapi juga karena sosok yang dipercaya untuk mengambil peran penting dalam operasi di lapangan bukanlah seorang menteri.
Haji Isam, yang memiliki nama lengkap Andi Syamsuddin Arsyad, mendapat mandat setelah menerima telepon dari Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada Sabtu, 22 Agustus 2026 sekitar pukul 11.00 WITA.
Tak lama setelah menerima tugas tersebut, Haji Isam langsung bergerak menuju Kalimantan Selatan.
Sekitar pukul 12.45 WITA, ia bertolak menuju Banjarmasin. Setibanya di Bandara Syamsudin Noor, Haji Isam langsung mengikuti rapat koordinasi bersama sejumlah pejabat tinggi negara dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kalsel.
Rapat tersebut memperlihatkan bahwa peran Haji Isam kali ini bukan sekadar simbolis.
Ia berada di tengah koordinasi yang melibatkan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohammad Tonny Harjono, Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi Letjen Pol Fadil Imran, Gubernur Kalsel H Muhidin, Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan serta Danrem 101 Antasari Brigjen TNI Ilham Yunus.
Sejumlah pejabat lain juga hadir, termasuk Kabinda Kalsel Brigjen Pol Sentot Adi Dharmawan, Danlanud Kalsel Kolonel Pnb Hilman LP Ambarita, Danlanal Banjarmasin Letkol Laut (P) Galih Nurna Putra serta unsur pemerintah pusat dan daerah.
Haji Isam Tak Lagi Hanya Nama di Balik Gurita Bisnis
Selama bertahun-tahun, nama Haji Isam lebih sering muncul dalam pemberitaan ekonomi dan bisnis.
Ia dikenal sebagai salah satu pengusaha besar yang membangun kerajaan bisnis dari Kalimantan Selatan melalui Jhonlin Group.
Namun, penampilannya dalam koordinasi penanganan karhutla kali ini menghadirkan gambaran berbeda.
Haji Isam tidak lagi sekadar muncul sebagai nama besar di balik perusahaan. Ia kini terlihat langsung berada dalam agenda penanganan persoalan publik yang melibatkan negara, TNI, Polri dan pemerintah daerah.
Sosok yang selama ini dikenal sangat tertutup dari sorotan media pun perlahan semakin terlihat di ruang publik.
Nama lengkapnya adalah Andi Syamsuddin Arsyad. Ia lahir di Batulicin, Kalimantan Selatan, pada 1 Januari 1977.
Perjalanan hidupnya jauh dari gambaran seorang konglomerat sejak awal.
Sebelum membangun kerajaan bisnis, Haji Isam pernah bekerja sebagai pekerja di sektor perkayuan. Ia disebut pernah menjadi tukang tebang, buruh muat, sopir angkutan, operator alat berat hingga tukang ojek.
Dari pekerjaan-pekerjaan tersebut, ia mengenal dunia kerja lapangan sekaligus memahami bagaimana bisnis sumber daya alam berjalan.
Perkenalannya dengan industri batu bara kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan bisnisnya.
Setelah mendapatkan pengalaman dari perusahaan batu bara tempatnya bekerja, Haji Isam kemudian mencoba membangun bisnis sendiri.
Dari titik itulah Jhonlin berkembang menjadi kelompok usaha dengan lini bisnis yang semakin luas.
Saat ini, bisnis yang dikaitkan dengan Jhonlin mencakup pertambangan batu bara, perkebunan kelapa sawit, pelayaran, transportasi udara, biodiesel hingga industri gula dan perkebunan tebu.
Ada PT Jhonlin Baratama di sektor batu bara, Jhonlin Marine and Shipping di bidang pelayaran, Jhonlin Air Transport di sektor penerbangan serta sejumlah perusahaan lain yang bergerak di sektor agribisnis dan energi.
Perjalanan tersebut membuat Haji Isam menjadi salah satu figur bisnis paling berpengaruh dari Kalimantan.
Dari Pengusaha Menjadi Sosok yang Dipercaya Tangani Karhutla
Di sinilah muncul pertanyaan yang kemudian ramai dibicarakan publik.
Mengapa Haji Isam yang merupakan pengusaha mendapat mandat untuk ikut memimpin koordinasi penanganan karhutla?
Secara struktural, penanganan bencana dan karhutla tentu tetap berada dalam kewenangan pemerintah dan lembaga negara terkait.
Dalam operasi di lapangan, terdapat TNI, Polri, pemerintah daerah, pemadam kebakaran, BPBD, relawan serta berbagai unsur lainnya.
Namun, pemerintah memilih melibatkan Haji Isam dalam koordinasi darurat tersebut.
Mandat itu disebut berkaitan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan Selatan.
Peran Haji Isam dalam konteks tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari koordinasi yang diperkuat, bukan otomatis menggantikan kewenangan kementerian, pemerintah daerah maupun lembaga negara yang memiliki tugas resmi dalam penanggulangan bencana.
Keterlibatan seorang pengusaha besar dalam operasi penanganan karhutla tetap menjadi fenomena yang menarik karena mempertemukan dua ruang yang biasanya berjalan berbeda: kewenangan negara dan kekuatan sumber daya swasta.
Di satu sisi, pemerintah membutuhkan koordinasi cepat dan dukungan sumber daya untuk menghadapi kondisi darurat.
Di sisi lain, muncul pertanyaan publik mengenai alasan pemilihan figur tertentu ketika pemerintah memiliki jajaran kementerian dan lembaga dengan kewenangan formal masing-masing.
Kekayaan Haji Isam Tembus Ratusan Triliun?
Besarnya perhatian terhadap Haji Isam juga tidak dapat dilepaskan dari skala bisnis yang dibangunnya.
Namanya semakin sering muncul dalam pembahasan mengenai orang-orang terkaya di Indonesia, terutama setelah sejumlah perusahaan yang dikaitkan dengan kelompok usahanya melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Haji Isam tercatat memiliki keterkaitan dengan sejumlah emiten, di antaranya PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), dan PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE).
Nilai kepemilikan saham tersebut kemudian membuat estimasi kekayaannya meningkat tajam ketika harga saham perusahaan terkait mengalami kenaikan.
Sejumlah perhitungan yang beredar bahkan pernah menempatkan nilai kekayaan Haji Isam di atas Rp100 triliun.
Pada periode tertentu, kenaikan harga saham PGUN, JARR dan TEBE juga membuat nilai kapitalisasi pasar ketiga perusahaan tersebut meningkat sangat signifikan.
Namun, angka kekayaan seorang pengusaha yang dihitung berdasarkan kepemilikan saham harus dipahami sebagai nilai kekayaan berbasis valuasi pasar, bukan berarti seluruh nilai tersebut merupakan uang tunai yang berada di rekening pribadi.
Perubahan harga saham juga dapat membuat nilai tersebut naik atau turun dalam waktu singkat.
Mengapa Haji Isam Dipilih?
Salah satu kemungkinan yang dapat menjelaskan keputusan tersebut adalah pengalaman Haji Isam dengan wilayah Kalimantan dan jaringan sumber daya yang dimilikinya.
Sebagai pengusaha yang telah lama menjalankan bisnis di kawasan tersebut, Haji Isam memiliki pemahaman terhadap karakter geografis dan medan di Kalimantan Selatan.
Jaringan bisnis dan sumber daya yang dimiliki kelompok usahanya juga dapat menjadi faktor pendukung dalam operasi lapangan, terutama ketika persoalan utama yang dihadapi adalah akses, mobilisasi peralatan dan keterbatasan sumber daya.
Namun, alasan tersebut tetap perlu dibedakan dengan kewenangan formal.
Penunjukan seseorang untuk membantu koordinasi tidak serta-merta menjadikan orang tersebut sebagai pengganti menteri atau lembaga pemerintah.
Karena itu, pertanyaan publik mengenai posisi Haji Isam menjadi wajar: apakah ia hadir sebagai pejabat pemerintah, utusan khusus, staf khusus, atau sebagai figur yang diberi mandat tertentu oleh Presiden?
Perbedaan status tersebut penting karena berkaitan dengan batas kewenangan dan akuntabilitas dalam menjalankan tugas.
Haji Isam dan Polemik di Tengah Warga
Meski pemerintah melihat penunjukan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat operasi, keputusan melibatkan Haji Isam ternyata tidak sepenuhnya diterima tanpa pertanyaan.
Di media sosial, sejumlah warganet mempertanyakan alasan pemerintah menunjuk seorang pengusaha untuk terlibat dalam penanganan karhutla.
Komentar-komentar tersebut dikutip dari kolom komentar akun Instagram @makassarinfoku.
Salah satu akun menulis:
“Diserahkan utk diratakan dan ditanami sawit kah? Kan udh jobdesknya beliau,” tulis akun @fua***.
Komentar lain bahkan menggambarkan situasi tersebut dengan nada satir.
“Superhero dan Villain nya orang yang sama,” tulis akun @rid***.
Ada pula warganet yang mempertanyakan keterkaitan antara persoalan karhutla dengan kepentingan bisnis.
“disuruh menyelesaikan masalah, yang sebenarnya sumbernya dari dia, negara penuh drama2,” tulis akun @feb***.
Sementara akun lainnya mempertanyakan keberadaan jajaran menteri dan kabinet.
“Apa guna menteri & kabinet yg banyak… ” tulis akun @afa***.
Komentar tersebut merupakan pandangan warganet di media sosial dan tidak dapat dijadikan bukti bahwa Haji Isam maupun perusahaan yang terkait dengannya merupakan penyebab karhutla.
Poin tersebut penting karena kritik publik, dugaan, dan fakta hukum merupakan tiga hal yang berbeda.
Karhutla Kalsel dan Persoalan yang Tidak Sederhana
Di lapangan, persoalan karhutla di Kalimantan Selatan bukan perkara sederhana.
Dalam rapat koordinasi, terungkap sejumlah kendala yang dihadapi petugas.
Salah satunya adalah akses menuju titik kebakaran yang sulit dilalui.
Kondisi tersebut membuat mobilisasi armada pemadam dan relawan tidak mudah. Jarak antara sumber air dan lokasi kebakaran juga menjadi persoalan tersendiri.
Masalah semakin rumit ketika api berada di kawasan gambut.
Api di lahan gambut tidak selalu terlihat besar di permukaan. Bara dapat bertahan di bawah tanah dan kembali muncul meski api di permukaan telah dipadamkan.
Keterbatasan sumber air juga menjadi tantangan.
Petugas bahkan harus menggunakan selang dengan jangkauan lebih panjang agar air dari pompa dapat mencapai titik-titik api yang berada jauh dari sumber air.
Artinya, penanganan karhutla membutuhkan lebih dari sekadar pemadaman api.
Dibutuhkan koordinasi, peralatan, sumber daya manusia, akses menuju lokasi dan strategi untuk mencegah api kembali menyala.
Dari Sosok Misterius Menjadi Figur yang Semakin Terlihat
Haji Isam selama ini memiliki citra sebagai pengusaha yang tidak terlalu sering tampil di hadapan publik.
Ia dikenal luas melalui bisnisnya, tetapi tidak selalu hadir sebagai figur yang aktif memberikan pernyataan di ruang publik.
Kini situasinya berubah.
Penunjukan dalam operasi penanganan karhutla Kalsel membuat sosok Haji Isam tampil lebih terbuka di tengah agenda kenegaraan.
Ia duduk bersama para petinggi TNI, Polri dan pemerintah daerah untuk membahas persoalan yang menyangkut keselamatan masyarakat.
Perubahan posisi ini membuat publik mulai melihat Haji Isam bukan hanya sebagai konglomerat Kalimantan, tetapi juga sebagai figur yang memiliki akses dan kepercayaan besar dalam lingkaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Di titik inilah polemik menjadi menarik.
Ketika seorang pengusaha dipercaya membantu menyelesaikan persoalan publik, publik tentu berhak bertanya mengenai alasan penunjukan, batas kewenangan, transparansi dan mekanisme pertanggungjawabannya.
Namun pada saat yang sama, tudingan bahwa seseorang merupakan penyebab karhutla tidak boleh disimpulkan hanya berdasarkan komentar atau persepsi di media sosial tanpa bukti dan proses hukum.
Yang paling penting saat ini adalah memastikan api benar-benar dapat dikendalikan.
Sebab bagi masyarakat Kalimantan Selatan, karhutla bukan sekadar perdebatan mengenai siapa yang memimpin operasi.
Di balik kepulan asap dan titik api, terdapat rumah warga, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi serta lingkungan yang harus dilindungi.
Jika keterlibatan Haji Isam memang dimaksudkan untuk mempercepat penanganan, maka ukuran keberhasilannya pada akhirnya bukan pada seberapa besar namanya diberitakan.
Ukuran sebenarnya adalah seberapa cepat api dipadamkan, seberapa luas wilayah yang berhasil diselamatkan, dan seberapa kecil dampak karhutla yang dirasakan masyarakat Kalsel.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










